SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 42


__ADS_3

"Jangan pergi. Aku masih ingin berdua denganmu menghabiskan sisa hari ini."


.


.


.


Setelah sejenak membantu ibu Icha mengurusi pekerjaan dapur, Tania melangkah penuh semangat melanjutkan tugas penelitiannya. Ia masih harus menyibukkan dirinya dengan tugas akhirnya setelah kemarin jantungnya hampir saja berhenti berdetak dengan kejutan yang diberikan Mike padanya.


Dengan senyum sumringah, Tania bertekad menyelesaikan hari ini dengan penuh cinta - cinta akan masa depannya, cinta akan tugas akhirnya yang akan menentukan kelulusannya di bangku kuliah.


Disana Mike pun demikian. Setelah berulang kali ia tonton video yang dikirim Mega padanya, ia tersenyum sendiri mengenang hari yang melelahkan namun berujung bahagia.


"Terima kasih sudah menerimaku, Tania." Mike bergumam lalu menyenderkan tubuhnya pada kursi piketnya.


* * * * *


"Aku akan memesan makanan untuk kita berdua."


Mega hanya mengangguk kecil. Ia tak dapat menahan lelahnya sehingga berat baginya untuk mengangkat wajah dan memandangi kekasihnya itu. Kepalanya telah nyaman menempel di bantal.


Sambil menunggu pesanan makanannya, Kevin menyalakan gitar listriknya, menyambungkan pada speaker lalu memainkan jarinya pada senar gitar itu.


Lagu yang ia mainkan ialah lagu yang pernah ia nyanyikan dan Mega melangkah penuh bahagia menghampirinya dan menerima cintanya.


Suaranya memang tidak diragukan lagi. Dengan penuh perasaan, ia melantunkan lagu itu kembali namun Mega tak mendengarnya lagi. Gadis itu telah lelap dalam tidurnya.


Kevin menghentikan nyanyiannya, meletakkan kembali gitarnya lalu menghampiri Mega. Ia memandangi gadis itu dengan seksama.


Wajah yang manis, dengan dagu tirusnya yang semakin menambah kecantikan Mega membuat Kevin semakin tertegun memandangi kekasihnya. Baru kali ini, sedekat ini ia memandangi kekasihnya yang sedang pulas dengan wajah tanpa ekspresi.


Kevin memainkan jarinya, menyapu wajah kekasihnya dan hendak memainkan rambut kekasihnya itu namun dering handphone mengagetkannya.


Dengan cepat ia meraihnya dan mengetahui itu adalah telepon dari driver ojek online yang mengantar makanan pesanannya. Ia membuka pintu kamarnya lalu berjalan ke arah pintu pagar menemui dirver pengantar makanan itu.


Kevin membayar dan menerima pesanannya, kemudian kembali masuk ke kamar kostnya. Niatnya ingin langsung membangunkan Mega namun ia tak tega harus mengganggu kekasihnya yang sedang pulas karena kelelahan.

__ADS_1


Ia meletakkan makanan pesanannya ke atas meja lalu merengsek duduk kembali di ranjang, tepat di samping Mega. Lagi-lagi dengan lekat ia memandangi wajah Mega.


Tangannya kembali menyentuh wajah Mega, mengelus pipi kekasihnya itu namun Mega sama sekali tak merasakannya. Lelah yang tak bisa ia tahan nampak sangat jelas dari tidurnya.


Dengan tenang agar tidak membangunkan Mega yang sedang pulas, Kevin mengambil posisi berbaring di sebelah Mega yang membelakanginya. Ia berusaha merogohkan tangannya di bawah leher Mega agar ia dapat tidur sambil membelai rambut kekasihnya itu. Sebelah tangannya ia lingkarkan pada pinggang Mega, memeluk gadis itu dan ia pun ikut tidur.


Rasa lelah dan kantuk yang menguasai dirinya pun sama seperti yang Mega rasakan. Meskipun hari masih pagi sekali, sepasang kekasih itu mengabaikan perut yang lapar dan memilih tidur sambil berpelukan.


* * * * *


Mega tersentak kaget dan membuka matanya. Ia merasakan ada yang merengkuh tubuhnya namun ia membiarkannya setelah menyadari Kevin memeluknya sudah sedari tadi.


Ia tersenyum sendiri merasakan hangatnya dekapan kekasihnya itu. Ia membiarkan itu terjadi lalu berusaha memejamkan matanya lagi. Namun kali ini ia tak bisa melakukannya. Hangat dekapan juga ciuman Kevin yang masih membekas di ingatannya memaksa dirinya memalingkan tubuhnya dan mengahadap Kevin.


Mega memandangi wajah kekasihnya itu. Ia merasakan dengan jelas sapuan napas kekasihnya yang mengenai wajahnya. Lalu ia memainkan jari telunjuknya, menyentuh pipi Kevin dan memainkan jarinya disana.


"Aku mencintaimu, Kevin. Entah sejak kapan, yang jelas saat ini aku tak mau ada orang lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku," gumam Mega dalam hatinya.


Kevin membuka matanya seketika setelah menyadari ada jari lembut yang menyapu wajahnya.


Ia berusaha bangun namun senyum manis Mega membuatnya untuk tetap di tempat.


"Kamu cantik kalau sedang tidur," puji Kevin. Ia menebar senyumnya.


"Kamu memandangi aku ya," tanya Mega lembut.


"Tidak. Aku hanya mengagumimu saja," sahut Kevin sekenanya.


"Kamu tidak macam-macam, kan ?"


"Apakah ada yang akan melarangku ?" tanya Kevin tajam.


"Jadi aku akan menjadi milikmu ?"


"Lalu siapa lagi ?"


"Apakah keluargamu akan menerimaku ?"

__ADS_1


Kali ini Kevin tak langsung menjawab seperti sebelumnya. Ia memandang lekat wajah kekasihnya, tangannya memegangi dagu kekasihnya itu. Wajah mereka sangat dekat hingga napasnya yang memburu terasa begitu jelas ketika menyapu wajah Mega.


"Percayalah padaku, Mega. Aku sudah mengatakannya."


Dengan cepat, Kevin mendaratkan sebuah kecupan mesra pada dahi Mega. Mega memejamkan matanya sejenak.


"Aku mencintaimu, Mega. Percayalah padaku."


"Aku pun demikian. Aku tak ingin ada orang lain dalam hidup kita."


Kevin menebar senyuman, lalu mencubit pipi kekasihnya. Mega mengerang kesakitan dan membalas mencubit Kevin namun di dada lelaki itu. Dengan cepat tangan Kevin bergerak menarik tubuh Mega dan memeluknya erat.


Mega memejamkan matanya membiarkan kekasihnya memeluk tubuhnya. Ia merasakan kehangatan dari dekapan kekasihnya itu. Entah apa yang ia pikirkan sehingga terbawa perasaan, untuk kedua kalinya gadis itu menangis terharu.


Mega sadar ia telah melangkah sejauh ini bersama Kevin. Pagi tadi, di dalam kamar mandi bibirnya dicium Kevin dan kini, ia masih berdua sekamar dengan Kevin bahkan seranjang.


"Jangan pernah meninggalian aku, Kevin. Aku mencintaimu," bisik Mega lirih.


Kevin melepas pelukannya dan menyadari kekasihnya itu menangis lagi. Dengan cepat, tangannya bergerak dan mengusap air mata Mega, kekasihnya.


"Jangan menangis lagi. Atau karena kamu lapar ? Ayo, kita makan," kata Kevin bercanda. Mega akhirnya tersenyum lalu mengangguk kecil. Ia mengusap air matanya kembali.


"Aku akan pulang setelah makan," kata Mega menghentikan gerak Kevin yang hendak berdiri dari ranjang. Lelaki itu menoleh dan memandanginya.


"Jangan pergi. Aku masih ingin menghabiskan sisa hari ini denganmu."


Tanpa menunggu jawaban Mega, Kevin beranjak berdiri dan menarik tangan Mega agar bangun dari ranjang. Mega lalu mengambil bungkusan pesanan Kevin dan membukanya. Ia menyediakan semuanya di atas meja ketika Kevin meninggalkannya sebentar ke kamar mandi.


Dalam hatinya ia menyembunyikan ketakutan yang aduh ketika Kevin menahannya untuk tidak pergi setelah ini. Ia takut akan terjadi apa-apa antara dirinya dan Kevin di dalam kamar ini.


Ia tak ingin hubungan pacaran mereka sampai sejauh hal-hal yang menakutkan baginya itu. Bukan apa-apa, Mega hanya ingin menjaga dan menyerahkan semuanya hanya untuk lelaki yang kelak benar-benar menjadi suami baginya. Itu saja.


"Cukup sebatas ini saja, jangan lebih dari ini. Kalau kamu benar-benar menjadi suamiku, aku milikmu."


Mega berkecamuk dengan pikirannya sendiri.


🙏 Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi pembaca yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin. Dukung terus "Salam Terakhir". Jangan lupa like, komentar dan vote. Tuhan memberkati. 🙏

__ADS_1


__ADS_2