SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 71-2


__ADS_3

^^^"Bagaimana mungkin kamu tak marah? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa maksud dari semua ini?"^^^


Setelah lelah bekerja seharian, Tania membersihkan tubuhnya kemudian langsung menuju ke ranjang. Tatapan matanya seketika tertuju pada foto Mike yang terpajang pada dinding kamarnya.


Air matanya tiba-tiba berlinang. Dalam hatinya ia merasa sangat berdosa pada Mike. Bertahun-tahun berusaha menjaga rasa cintanya hanya untuk Mike, kali ini harus luluh dalam sekejap dan tunduk pada magis Nathan.


"Maafkan aku, Mike."


Tak ada kata lain selain meminta maaf pada gambar bisu Mike. Untuk ke sekian kalinya, pikirannya bertarung hebat memikirkan kejadian yang telah ia lewati kemarin.


Bagaimana mungkin secepat itu ia memberanikan diri untuk memeluk lelaki lain selain Mike? Tak ada pertemuan sebelumnya dengan Nathan.


Tania merebahkan tubuhnya setelah bergulat hebat dengan pikirannya. Ia mencoba melupakan kejadian kemarin lalu berusaha memejamkan matanya.


Susah payah berusaha namun tetap saja, pikirannya tak bisa lepas dari kejadian kemarin. Matanya sulit untuk dipejamkan. Hingga tak disadari, waktu sudah hampir pagi.


Tania menyadari hal itu sehingga ia mencoba sekali lagi untuk memaksakan matanya agar bisa terlelap walau hanya beberapa jam karena sebentar lagi pagi akan kembali menyapa.


"Terima kasih, sayang. Kamu masih setia menjaga cintamu untukku walau hari ini aku sudah tak lagi ada dan menemani hari-harimu."


"Bagaimana mungkin aku bisa berpaling pada lelaki lain jika kehadiranmu masih terasa dalam hidupku?" balas Tania cepat.


Mike memainkan rambut kekasihnya itu lalu memeluk Tania. Tania tersenyum dan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Mike. Ia memejamkan matanya dan merasakan keadamaian di hatinya ketika berada dalam pelukan Mike.


Tania masih membiarkan hal itu terus berlanjut, seolah-olah tak ingin Mike lepas dari pelukannya. Tanpa ia sadari, air matanya menetes memabasahi pipinya.


Tania diam-diam mengusapi air matanya dan ia kaget, ia benar-benar melakukan itu ketika ia terbangun seketika. Tak ada Mike dalam pelukannya. Yang ia dapati hanya dirinya yang masih berada di atas ranjang ketika alarm berbunyi entah yang ke berapa kalinya.


"Hanya mimpi?"


Tania bergumam sendiri dan menyesali apa yang baru saja terjadi. Ternyata tak ada pelukan nyata yang terjadi antara dirinya dan Mike baru saja.

__ADS_1


"Tapi, kata-kata Mike......Apa maksudnya ia berterima kasih? Bukankah ia seharusnya marah karena aku telah berani memeluk lelaki lain?"


Tania kembali bingung mengenang kembali apa yang dikatakan oleh Mike dalam mimpinya barusan. Dengan cepat matanya kembali erat memandangi gambar bisu kekasihnya itu pada dinding.


"Tolong, sayang. Aku tak mengerti apa yang kamu maksudkan. Aku tahu saat ini kamu masih selalu ada dan menemaniku. Aku minta maaf soal pelukan terhadap lelaki itu kemarin."


Tania seolah-olah sedang mengakui dosanya kepada Mike karena menurutnya, Mike seharusnya marah, bukan malah berterima kasih padanya.


Tania lalu mengabaikan sejenak ucapan Mike dalam mimpinya itu lalu bergegas untuk bersiap-siap karena ia harus bekerja. Sejenak, kenangan Nathan yang semalam masih menghantui pikirannya raib.


...****************...


Masih pagi-pagi sekali, Tania mencoba menghubungi Mega dan Kevin ketika ia telah duduk manis di ruangan kerjanya. Namun berkali-kali usahanya gagal. Tak ada respon dari Mega ataupun Kevin.


Ya, Tania tak punya siapa-siapa lagi saat ini. Yang ia miliki hanya tersisa Kevin dan Mega, sahabat peninggalan Mike yang kini masih peduli dan tetap mendukungnya dalam keadaan apapun.


Tania mencoba menghubungi Mega sekali lagi namun masih sama, tak ada respon. Mungkin mereka sedang sibuk, atau sedang dalam perjalanan ke cafe, pikir Tania positif.


Singkat, padat dan tegas. Tania mengirimkan pesan tersebut ke Mega dan juga kepada Kevin. Tania tak punya pilihan lain selain harus membagikan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Bagaimana mungkin Mike tak marah, ia malah berterima kasih? Apa arti dari semua ini?" gumam Tania lagi setelah selesai mengirimkan pesan kepada Mega dan Kevin.


Ia meletakan kembali handphonenya dan berdoa sejenak sebelum memulai aktivitasnya hari ini.


...****************...


Mega dan Kevin memasuki ruangan cafe dan langsung memulai kesibukan masing-masing. Semangat kerja mereka terus meningkat dari hari ke hari sejak mereka telah memutuskan untuk mempersiapkan pernikahan mereka.


"Ada apa dengan Tania?" tanya Kevin seketika. Mega pun kaget mendengarnya. Segera ia mendekati Kevin yang sedang melihat isi pesan dari Tania di handphonenya.


"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi dengan Tania?"

__ADS_1


Kevin tak menjawab pertanyaan kekasihnya. Ia membalikan handphonenya dan membiarkan Mega membaca sendiri isi pesan dari Tania kepadanya.


"Aku meneleponnya sekarang," kata Mega cepat sambil merogoh ke dalam tas dan mengeluarkan handphonenya.


"Pesan yang sama. Apa yang telah terjadi dengan Tania?"


Mega menunjukan isi pesan Tania kepada Kevin. Isi pesan yang sama seperti isi pesan kepada Kevin membuatnya keduanya sempat bertatapan lama tanpa kata.


"Cepat, kamu telpon dia sekarang, sayang. Kita harus pastikan keadaannya sekarang juga," perintah Kevin panik.


Dengan segera Mega menghubungi Tania namun nihil, kini giliran Tania yang tak bisa merespon telepon dari Mega dan Kevin. Dahi Mega mengernyit namun berusaha tetap tenang.


Di hadapannya Kevin pun mulai tak tenang. Keduanya sama-sama merasa panik seolah-olah telah terjadi sesuatu pada Tania. Mega masih mencoba menghubungi Tania untuk kedua kalinya namun tetap saja, tak ada respon.


"Kita tutup cafe hari ini. Kita harus menemui Tania. Kita harus pastikan dia baik-baik saja," perintah Kevin tegas.


"Tidak. Aku akan mengirimkan pesan. Mungkin Tania sedang sibuk. Jika sampai siang belum ada respon juga, kita akan menemuinya," cegah Mega.


Keduanya benar-benar panik dan tak bisa melanjutkan aktivitas mereka untuk memersiapkan segala keperluan mereka hari ini di cafe. Kevin mengambil posisi duduk dan terus memandangi Mega yang sedang mengetik pesan kepada Tania.


Sesekali ia melirik ke layar handphonenya, berharap ada sesuatu tanda positif dari Tania. Namun itu tentu tak akan terjadi. Toh di handpohone Mega sendiri tak mendapat respon apapun. Keduanya lalu duduk berhadapan, saling menatap tanpa sepatah katapun yang terucap.


Mega sesekali melirik ke handphonenya, begitu juga dengan Kevin. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Mega.


"Menurutmu, apa yang telah terjadi dengan Tania?" tanya Kevin memecah keheningan. Sudah hampir setengah jam mereka tak melanjutkan aktivitas mereka di cafe pagi ini.


"Tak ada hal buruk. Ini tentu ada hubungannya dengan Mike," sahut Mega yakin. Ia mencoba meyakinkan Kevin, kekasihnya itu. Lalu keduanya kembali diam, menunggu respon dari Tania.


Sudah hampir satu jam suasana sunyi di dalam cafe. Kevin dan Mega masih duduk dan tidak ada aktivitas apapun. Cafe pun belum dibuka, padahal biasanya sudah dibuka sejak jam delapan pagi. Sepasang kekasih itu sibuk memandangi handphonenya masing-masing. Sebegitu cemasnya mereka akan keadaan Tania, sahabat dan mantan kekasih Mike.


Setelah hampir dua jam menunggu, handphone Mega berbunyi. Dengan cepat ia meraihnya. Kevin pun ikut berdiri dan mendekati kekasihnya agar dapat melihat info apa yang diperoleh kekasihnya itu.

__ADS_1


"Setelah pulang kerja, aku langsung ke cafe kalian. Tunggu aku."


__ADS_2