
"Sahabat adalah segalanya. Ia mampu mengangkat dan meringankan bebanmu ketika kamu berada di luar rumahmu. Ia bisa kamu jadikan bahu untuk bersandar sejenak jika kamu lelah dengan hidupmu."
.
.
.
Mike memarkirkan sepeda motornya lalu masuk ke dalam kamar kostnya. Ia mengganti setelan kerjanya dengan setelah jersey tim sepak bola kesayangannya, Barcelona.
Di bagian punggung jerseynya bertuliskan nama pemain kebanggan tim itu, Messi yang bernomor punggung sepuluh. Hari ini ia tidak akan kemana - mana jadi ia memutuskan untuk mengenakan jersey ini untuk bersantai di kostan.
Mike memang seperti itu jika sudah menjalankan tugas shift malamnya, tidak ingin kemana-mana. Hanya ingin melepas lelah, mengistirahatkan penat setelah bekerja, dan mencoba melupakan persoalan cintanya bersama Mega dan Tania.
"Ah, lagi-lagi urusan cinta yang harus dipikirkan."
Setelah mengganti pakaian, Mike melangkah menuju tempat dimana dispenser diletakkan kemudian mengambil air minum. Ia menenggak kurang lebih tiga gelas air putih, lalu meletakkan kembali gelas itu dan melangkahkan kaki menuju ke ranjang.
"Uhhh,,, akhirnya bisa tidur dengan bebas," gumamnya pelan setelah tubuhnya berhasil ia rebahkan di atas ranjang.
Perpaduan warna seprei dan sarung bantal yang menampakkan warna merah dan biru serta gambar-gambar pemain Barcelona membuatnya semakin nyaman meskipun ini bukan jam untuk tidur. Harusnya.
Tetapi karena rasa penat setelah pulang dari bekerja - shift malam - ia harus tidur karena semalaman telah bekerja dan tidak tidur. Tambah lagi, ia harus kembali ke shift malamnya malam ini.
Baru saja ia hendak memejamkan mata dan mengeratkan pelukan pada bantal guling, suara handphone berdering pertanda ada pesan masuk whatsapp yang mengganggu tidurnnya yang baru saja ia mulai.
Mike menggeram kesal. Ingin ia abaikan tetapi sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak pernah mengabaikan pesan apapun yang masuk ke handphonenya.
__ADS_1
"Kecuali beberapa pesan dari Mega akhir-akhir ini. "
Mike bangun dari ranjang sambil mendumel sendiri, berjalan ke arah meja dan meraih handphone yang biasa ia letakkan disana. Dengan cepat ia membuka pesan itu dan membacanya.
Lagi-lagi Mike mendumel untuk kesekian kalinya lalu meletakkan kembali handphonenya ke atas meja. Wajahnya. menunjukan kekesalan setelah melihat isi pesan dari nomor baru yang hanya menanyakan posisi terkininya saat ini.
Biasanya ia suka penasaran dan selalu merespon. Tapi kali ini tidak. Ia benar-benar tidak ingin membalas apapun karena kantuk dan penatnya tidak bisa ia tahan lagi . Ia hanya ingin tidur dan tidak mau diganggu oleh apa dan siapapun itu.
Mike kembali ke ranjang, mencoba untuk tidur lagi. Tetapi kali ini ia masih gagal untuk memejamkan mata. Handphone berdering lagi, setelan getarnya benar-benar seperti mengguncang meja belajarnya pertanda ada rentetan pesan masuk kurang lebih sepuluh sampai lima belas pesan. Mike masih hendak mengabaikannya namun kali ini disusul dengan suara dering panjang pertanda panggilan masuk.
"Ahh, sialan," gerutunya panjang sambil menutup bantal guling ke telinganya. Mike mulai kesal.
Dengan secepat kilat ia melompat dari ranjang dan menuju meja belajarnya. Mike meraih handphone dan hendak menonaktifkannya tetapi ia gagal melakukannya. Dering panggilan masuk lagi dari nomor tak dikenal tadi.
Hampir saja ia membanting handphonenya namun kemudian ia memutuskan untuk menjawab saja. Tak ada cara lain, panggilan masuk lebih dahulu masuk sebelum ia menonaktifkannya.
"Oittsss, santai, santai. Jangan marah bro. Santai," jawab orang yang menelpon itu dengan santai, nadanya sedikit bercanda dari seberang.
Mike mengernyitkan dahinya sesaat, mencoba menebak siapa kira-kira orang itu. Suaranya sepertinya tidak asing bagi Mike.
"Aku merindukanmu, bro. Apakah kamu tidak mau menemuiku ?" tanya orang itu lagi dari seberang. Mike semakin bingung bertanya-tanya dalam hatinya. Suaranya hampir dikenal. Sedikit lagi.
"Hah ? Merindukanku ? Apakah kita berteman ?" tanya Mike kebingungan.
"Hahahahaha, sialan. Kamu benar-benar lupa denganku ?" tanya orang itu dengan nada bercanda. Mike dibuat semakin penasaran olehnya.
"Shareloc, aku akan menemuimu sekarang juga," kata orang itu lagi dengan penuh keyakinan lalu menutup teleponnya.
__ADS_1
Tentu saja ia menunggu Mike mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini. Sekarang memang zaman serba canggih, tidak sulit untuk saling menemukan di kota seluas Jakarta ini.
Namun dibalik kamar kost berukuran kecil itu Mike masih menunjuka aura kebingungan dan membuka ruang percakapan pada whatsapp dengan nomor baru itu. Dengan cepat menyentuh layar android itu, memainkan jari-jarinya disana lalu mengirim sesuatu pada nomor tak dikenal itu.
Mike meletakkan handphonenya lalu kembali ke ranjang dengan penuh tanda tanya. Kantuk dan lelahnya hilang seketika padahal ia harus masuk shift malam lagi hari ini. Ia harusnya tidur. Tapi bagaimana caranya, orang itu sebentar lagi mungkin akan tiba di depan kostnya jika tidak terjebak macet.
Mike bergulat hebat berusaha mengenali suara itu, mengingat-ingat kembali teman-teman masa SMA-nya. Ia memang memiliki banyak teman, sesama jenis maupun lawan jenis. Mike memang tipe orang yang cepat bergaul.
"Chandra ? Bukankah dia sudah merantau ke Papua dan sudah menikah disana dengan gadis asal Tanah Toraja ? Ah, tidak mungkin dia," Mike bertanya-tanya dalam hati, berusaha mengingat-ingat semua teman-teman lamanya. Dari suaranya memang mirip Chandra. Tapi tunggu dulu.
"Kevin, ya Kevin. Apa itu benar Kevin ? Suara khas anak Indonesia Timur, berat dan serak-serak itu hanya Chandra dan Kevin. Suara teman-teman yang lainnya tidak seperti mereka berdua."
Mike merasa ia mulai tahu siapa orangnya. Ia melompat dari ranjang lagi, beranjak mendekati meja lalu meraih handphone. Tangannya dengan cepat bermain di layar androidnya mencari-cari sesuatu.
Mike membuka Facebook , mencari akun Kevin Wijayanto. Pria berdarah campuran Indonesia Timur dan Tanah Jawa itu - Flores dan Surabaya - benar-benar berada di Jakarta.
Mike melihat postingan terbarunya yang diunggah beberap hari yang lalu, Kevin berdiri dengan setelan celana jeans hitam pekat, kaos oblong polos berwarna putih menutupi tubuh jangkungnya. Rambut lurusnya di sisir ke samping kanan, dibiarkan jatuh sedikit menutupi wajahnya. Ia berpose dengan gagah di depan tugu Bundaran Hotel Indonesia dengan caption "I am here".
"Sialan, kau membuatku penasaran," Mike terkekeh sendiri di dalam kamarnya lalu meletakkan kembali handphonenya. Ia sudah mengetahui kini siapa orang yang akan datang menemuinya hari ini.
"Jadi kau pun berada disini dan baru hari ini kita akan bertemu ? Dasar, kutunggu dirimu disini. Cepatlah kemari, " batin Mike memaki Kevin, sahabat lamanya itu.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati.🌹
__ADS_1