SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 63-2


__ADS_3

^^^"Ibu tidak melarangmu untuk pergi. Kamu berhak menentukan pilihan hidupmu. Ibu hanya khawatir, Ayah dan Ibu jauh disini. Apakah kamu yakin untuk pergi ?"^^^


...----------------...


Ayah dan ibu keluar dari kamar Tania dan membiarkan Tania beristirahat. Ibunya menutup pintu lalu bersama suaminya berdiri sejenak di depan pintu kamar Tania. Sang ibu memeluk suaminya dan menangis di pelukan suaminya.


"Ibu siapa yang akan tega melihat putrinya mengalami peristiwa pilu seperti ini ?"


"Sudahlah, Bu. Jangan menangis lagi. Sembunyikan air matamu. Kita doakan yang terbaik untuk Tania, semoga ia mampu melewati semua ini."


Sang ayah memeluk dengan erat istrinya, mengelus pundak istrinya dan perlahan mencoba mengusap air mata istrinya.


"Ibu khawatir jika Tania pergi jauh dari kita. Ibu khawatir Mike akan terus mengikuti Tania kemanapun Tania pergi. Ibu tahu, cinta mereka sangat kuat."


Ayah tak mengatakan apapun. Ia hanya diam dan memeluk istrinya yang sedang bersedih memikirkan nasib putrinya.


"Andai saja Ibu tak mencegah keputusan Tania waktu itu untuk menikahi Mike yang telah berbaring dalam keadaan tak bernyawa, Ibu yakin Mike pasti akan selalu memunculkan dirinya di hadapan Tania karena ikatan sakramen perkawinan yang telah mereka ciptakan."


"Ya, Ayah mengerti kekhawatiran Ibu. Jangan bersedih lagi. Kita harus mendukung keputusan Tania untuk pergi. Semoga perlahan-lahan ia bisa melupakan semuanya ini."


...****************...


Tania menarik sarung tenun pemberian ibunda Mike dan membungkusi tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya dan berusaha untuk melupakam sejenak peristiwa haru yang ia alami baru saja.


Mike telah pergi untuk selama-lamanya - menyisakan pilu dan sakit hati yang entah kapan akan berakhir. Namun bagaimana mungkin puisi itu bisa ada di dalam tas Tania ? Apakah ini pertanda Mike tak akan melepaskan Tania dan tak akan mengikhlaskan Tania untuk jatuh ke dalam pelukan lelaki lain suatu hari nanti ?


Tania bersih keras waktu itu - di kamar mayat - untuk tetap menikahi Mike dan merelakan dirinya untuk menjadi janda, menjalani hari-harinya seorang diri. Cintanya begitu kuat terhadap Mike, begitu juga sebaliknya Mike amat sangat mencintai Tania.


"Auuhh, perih," keluh Tania pada suatu ketika saat Mike menarik tangannya dan menghisap ibu jarinya yang berdarah akibat beling pecahan gelas di dapur.


"Lain kali lebih hati-hati, sayang. Beruntung ini hanya luka kecil. Bisa-bisa akan terkena infeksi kalau lukanya lebih dalam."


Kenangan-kenangan romantis yang telah Mike lakukan padanya satu per satu hadir kembali. Tadinya ia ingin memejamkan matanya, memaksakan dirinya untuk beristirahat sejenak namun kini ia hanya mampu membolak-balikan badannya karena matanya tak bisa ia pejamkan lagi.

__ADS_1


"Kamu tahu, Tania ? Apapun akan aku lakukan untuk bisa bersamamu, bahkan melawan dunia jika harus."


"Apakah ada yang menentang hubungan kita ?"


"Tidak selamanya harus ada orang yang menentang. Apapun. Entah itu alam, waktu, bahkan maut sekalipun. Aku tak akan peduli."


"Sebesar itu kah cintamu padaku ?"


"Katakan padaku, Tania. Dengan apakah kamu akan mampu mengukur besarnya cintaku padamu ?"


Tania menarik bantal guling dan memeluknya dengan sangat erat. Ingin sekali ia berteriak saat ini, mengutuk semua kenangan indah yang kini tinggal cerita, yang kini menyisakan luka di hatinya.


"Kamu benar, Mike. Andai saja waktu dapat diputar kembali, aku akan mencegahmu untuk mengurus semuanya sendirian. Kamu diam saja di kost, biarkan Kevin dan Mega yang akan melakukannya untuk kita. Aku yang akan meminta bantuan mereka."


Tania mengutuk dirinya sendiri. Beruntunya ia tidak menyalahkan Tuhan atas semua yang ia alami saat ini. Ia yakin, Tuhah telah menyediakan sesuatu yang indah dibalik semua ini. Tuhan tak mungkin memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya.


"Ya, Tuhan tahu aku mampu melewati cobaan ini. Aku pasti bisa."


Tania bangkit dari ranjangnya, berjalan ke arah pojok doa di kamarnya lalu menyalakan sebatang lilin disana. Ia kembali duduk di tepi ranjangnya, memejamkan matanya dan dengan khusuk berdoa.


...****************...


Ayah, ibu dan adiknya telah menanti di meja makan namun Tania belum juga terlihat dari pintu kamarnya. Sang ibu memandangi suaminya, seolah-olah hendak mengatakan sesuatu.


"Biarkan Tania sendiri dulu, Bu. Sebentar lagi ia pasti keluar dari kamarnya. Aku tahu, Tania anak yang tegar."


Dengan penuh keyakinan sang ayah berusaha meyakinkan istrinya. Ia sangat yakin Tania akan keluar dan makan bersama mereka karena sore tadi, ketika hendak masuk ke kamar Tania ia melihat Tania sedang bersila di tepi ranjangnya dan dengan khsusuk berdoa.


Sang Ibu menarik napas panjang dan melepaskannya. Terasa berat di dada melihat kondisi putrinya seperti ini. Sang ibu menundukan kepalanya dan berusaha menyembunyikan kesedihannya.


Sudah dua bulan lebih Mike pergi dan meninggalkan mereka semua, menyisakan luka hati teramat dalam bagi Tania, kekasihnya yang ia tinggalkan sehari sebelum pernikahan mereka.


Sang ibu mengangkat wajahnya ketika menyadari seseorang menarik kursi. Tak satu pun yang berani mengatakan sepatah kata pun. Dengan wajah letih, Tania memandangi ibunya dan memberikan sebuah senyuman untuk ibunya.

__ADS_1


"Maaf, Tania baru selesai mandi. Ayo kita makan, Bu. Tania sudah lapar."


Ibunya hanya diam tanpa membalas satu kata pun. Ia segera menyiapkan piring dan membagikannya kepada semua yang sudah ada dan mengitari meja makan.


"Tania telah memikirannya dengan matang, Bu. Tania harus melanjutkan hidup seorang diri. Biarkan Mike menemani Tania jika memang ia pun tak mau jauh dari Tania."


Suasana hening. Tak ada balasan apapun dari ayah ataupun ibunya.


"Ibu tidak melarangmu, Nak," sahut ibunya setelah diam beberapa saat.


"Ibu hanya khawatir dengan keadaanmu nanti jika kamu jauh dari Ayah dan Ibu. Dulu lain sekarang lain. Dulu masih ada Mike yang menjagamu....."


"Sekarang pun Mike masih menjaga Tania, Bu. Ibu tak perlu khawatir."


Ibunya menarik napas dalam-dalam. Ia mengalah dan memberikan kesempatan kepada putrinya untuk menentukan jalan hidupnya. Disana, ayahnya masih diam tak mengatakan apapun.


"Tania tahu Ayah dan Ibu nengkhawatirkan Tania. Tania janji, Tania akan baik-baik saja. Ayah dan Ibu dan doakan yang terbaik untuk Tania. Tania pasti bisa melewati semua ini berkat doa dari Ayah dan Ibu."


Suasana ruang makan kembali hening. Hanya terdengar bunyi sendok ketika beradu dengan piring.


Sesekali Tania berusaha terlihat tegar dengan mengajak bercanda adiknya. Adiknya pun menanggapi candaan Tania. Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak merekan.


"Pokoknya, kalau kak Nia mau menikah Bimo harus ikut ke Jakarta. Bila perlu kak Nia pulang saja dan menikah disini, biar kami tak perlu harus jauh-jauh ke Jakarta."


Lagi-lagi suasana hening seketika. Sang ibu memandangi suaminya. Tania hanya tersenyum lalu berdiri menghampiri adiknya, lalu memeluk dengan erat adik semata-wayangnya.


"Kalau sudah waktunya, Kak Nia akan bertanya dulu kamu mau Kak Nia menikah di Jakarta atau atau disini."


"Tapi Kak Nia harus janji, Bimo tak mau melihat Kak Nia sedih lagi."


Tanpa menjawab permohonan adiknya, Tania hanya tersenyum dan mencium pipi adiknya lalu kembali ke tempatnya.


🌼🌹 Holla pembaca nan budiman. Jumpa kembali ya di Salam Terakhir Seri Kedua ini. Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat ya. Dukung terus Salam Terakhir, jangan lupa like, komen, share dan vote ya. Tuhan memberkati.

__ADS_1


***Bagi yang belum sempat membaca Seri Pertamanya, yuk mampir dulu ya sebelum lanjut disini .....


Merry Christmas and Happy New Year🌹🌼***


__ADS_2