
"Dan aku merindukan keluargaku : merindukan ibu dan juga adikku yang berada di kampung"
.
.
.
Suasana rumah ibu Icha begitu ramai siang ini. Banyak pekerja pabrik yang mampir untuk makan siang.
Tania sudah kembali dari tugas penelitiannya - sedang duduk bersama ibu Icha, pak Ujad dan juga si Hari yang baru pulang sekolah. Mereka sudah siap untuk makan bersama siang ini - menikmati nasi kuning buatan ibu Icha dan merayakan ulang tahun Tania.
Tania mengatupkan tangan, membuat tanda salib lalu berdoa sebelum makan.
Handphonenya berdering sesaat, menandakan sebuah pesan masuk.
Tania meraih dengan cepat, membaca dan langsung memencet item bergambar video pada layar. Tetapi orang yang ia video call tak menjawab teleponnya.
Ia meletakann kembali handphonenya. Mungkin Mike sedang sibuk, pikirnya.
"Sok eneng, diambil nasinya. Maaf yah eneng, ibu cuman bisa masak nasi kuning doang," kata ibu Icha menawarkan Tania untuk mengambil nasi.
"Terima kasih bu. Ini sudah istimewa banget. Aku jadi rindu ibu sama adik di kampung," jawab Tania lembut.
"Bapa duluan, Tania ngambilnya belakangan aja sama Hari," balas Tania meberikan kesempatan pada pak Ujad untuk lebih dulu mengambil nasi karena sebagai kepala keluarga di rumah ini.
Sederhana namun Tania merasakan seperti sedang makan bersama keluarganya sendiri.
* * * * *
Mike menghabiskan kopinya lalu menanyakan harga kopinya. Ia hendak membayar namun Kevin mencegahnya.
"Aku saja yang bayar, bro," kata Kevin mencegah.
Kevin memberikan selembar uang sepuluh ribu dan menerima uang kembalian seribu.
"Ayo, kita lanjut lagi," kata Kevin setelah menerima uang kembalian.
"Ayo,"sahut Mike.
Mereka menuju tempat mereka memarkir sepeda motor lalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
"Mega, buka google map, kalian di depan. Aku ikut," kata Mike setelah mereka sudah siap untuk pergi.
Mega mengeluarkan lagi handphonenya, memainkan jarinya lalu menunjukan ke Kevin. Kevin dan Mega lalu bergerak terlebih dahulu diikuti Mike.
Sudah dekat. Mike masih merasa gugup namun berusaha tetap fokus. Ia mengikuti Kevin dan Mega di depannya.
__ADS_1
Setelah hampir dua puluh menit, Kevin dan Mega membelok memasuki sebuah jalan berbatu, Mike mengikuti. Jantungnya semakin berdegup kencang.
Mereka menyusuri jalan berbatu kira-kira sepuluh menit lamanya. Mereka melewati sebuah lapangan sepak bola yang jalannya sudah mulai ada aspalnya namun di beberapa titik terdapat lubang gerusan air.
Mega tetap fokus memberi aba-aba pada Kevin. Mereka menyusuri jalan desa menuju lokasi yang sudah dikirim Tania pada Mega.
"Di depan belok kanan," perintah Mega pada Kevin.
Kevin mengikuti perintah Mega, ia belok ke kanan dan mereka mendapati jalan yang berbatu lagi. Tepat di depan sana, dari kejauhan terpampang indah gunung Gede. Mega mulai bergidik merasakan dingin yang mulai menyerangnya. Mega mengeratkan pelukannya.
"Disini, kita sudah sampai," kata Mega seketika membuat Kevin langsung menghentikan motornya.
Mereka tidak melihat rumah di pinggir jalan. Di sebelah kiri mereka ada beberapa rumah warga, namun mereka harus masuk lagi ke dalam.
"Kita sudah sampai disini, tapi Tania di rumah yang mana ? Tak ada rumah di pinggir jalan," kata Mega melanjutkan.
Mike turun dari motornya, melihat sejenak handphone Mega.
"Kita masuk saja kedalam, kita tanyakan saja pada orang-orang. Mereka pasti tahu," kata Mike cepat lalu kembali ke sepeda motornya.
Kali ini Mike yang mengambil posisi di depan. Ia menuntun Kevin dan Mega melewati sebuah jalan semenisasi dan menemukan beberapa rumah.
Mike menghentikan motornya, lalu turun dan mendekati seorang kakek yang terlihat sedang membersihkan kandang burung.
"Assalamualaikum, permisi kek. Maaf mengganggu," sapa Mike pada kakek itu.
"Numpang tanya kek, ada mahasiswi yang sedang melakukan penelitian disini, boleh tau kek dia tinggal dimana ?" Tanya Mike sopan pada kakek itu.
Kakek itu tampak kebingungan karena tidak mengetahuinya. Seketika itu ada perempuan yang masih tampak sangat muda keluar dari dalam rumah.
"Aya naon abah ?" Tanya perempuan itu pada kakek yang adalah ayahnya.
"Ieu, aya nu nanyaken baturna meren," jawab kakek itu pada anaknya.
"Teh, permisi, numpang nanya," sahut Mega cepat pada perempuan itu karena ia lebih dekat posisinya sama perempuan itu.
"Mahasiswi yang sedang ada penelitian disini tinggalnya dimana ya," tanya Mega lembut.
"Oh, eneng Tania. Eta di ujung, rumah paling ujung itu eneng, yang banyak pohon pisang di depan rumah," jawab si teteh sambil menunjukan rumah tempat Tania tinggal sementara.
"Oh iya. Terima kasih ya teh, kami teman Tania dari Jakarta," lanjut Mega lagi.
Si teteh membalas uacapan terima kasih Mega sambil tersenyum. Ia masih berdiri disitu.
Mike mengucapkan terima kasih pada kakek dan anaknya itu lalu kembali ke sepeda motornya. Ia lalu melanjutkan perjalanan, sedikit lagi, menuju ke rumah yang sudah ditunjuk.
Mereka berhenti tepat di rumah paling ujung. Ada banyak pohon pisang di depan rumah itu. Udaranya sangat dingin sekali.
__ADS_1
Mike memarkir sepeda motornya, begitu juga Kevin. Mereka turun dari motor lalu diam sejenak.
Mike memberanikan diri untuk mendekati rumah yang berdinding bambu anyam itu. Rumahnya sunyi. Tak ada orang. Rupanya para pekerja pabrik sudah kembali bekerja.
"Assalamualaikum," kata Mike setengah teriak.
"Waalaikumsalam, saha ?" Jawab seorang perempuan dari dalam rumah. Tentu saja ibu Icha yang selalu lekat dengan bahasa Sundanya.
Pintu dibukakan. Seorang ibu yang sudah tak muda lagi berdiri di pintu. Rambutnya sudah hampir putih seluruh.
"Aya naon jang," tanya ibu Icha.
"Permisi bu, saya Mike. Apa betul Tania tinggal disini ?" Jawab Mike pelan.
"Oh, batur si eneng," kata ibu Icha sambil membukakan pintu.
"Hayu, silahkan masuk," lanjut ibu Icha menyilakan Mike dan kedua temannya masuk ke dalam rumah.
Mike terlebih dahulu masuk, Kevin dan Mega mengikutinya. Sepasang kekasih itu masih belum berbicara sepatah kata pun.
"Eneng, aya tamu," kata ibu Icha sampil menempelkan mulutnya pada daun pintu kamar Hari anaknya yang sekarang sedang ditempati Tania.
Tak ada jawaban. Ibu Icha mencoba mengetuk namun masih tak ada tanda-tanda ada orang di dalam kamar.
"Si enang kamana nya," gerutu ibu Icha sambil mencoba membukakan pintu kamar.
Pintunya terbuka. Tania tidak menguncinya.
Disana, Tania terlihat sedang pulas. Earphonenya masih menempel di telinga. Handphonenya tergeletak di sampingnya. Tania ketiduran setelah selesai mengobrol bersama ibu dan adiknya di kampung.
"Astaghfirullah al adzim, eneng. Ihh ketiduran ya," kata ibu Icha kaget sambil membangunkan Tania dan mencabut earphone pada telinga Tania.
"Punten eneng, eta aya tamu, teman eneng dari Jakarta," lanjut ibu Icha setelah Tania berhasil bangun. Tania tidak merespon apa yang dikatakan ibu Icha karena masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
Ibu Icha masih duduk di hadapan Tania layaknya seorang ibu kandung.
"Ngantuk ya neng," kata ibu Icha lagi.
"Iya bu. Tadi abis teleponan sama ibu," jawab Tania malas sambil mengusap kedua matanya.
"Ada teman eneng tuh, dari Jakarta. Ayo keluar, temuin mereka dulu," kata ibu Icha lagi membisik.
Tania membelalakan matanya. Ia kaget bukan main mendengar apa yang baru saja dikatakan ibu Icha.
"*What ? Teman ? Dari Jakarta ? Siapa ? Apakah itu Mike ? Sungguh dia datang untukku ?"
🌼 Terima kasih masih menjadi pembaca setia "Salam Terakhir". Tetap #dirumahaja ya. Dukung terus karya ini dengan like, vote dan jangan lupa komentar demi perbaikan karya ini. Tuhan memberkati. 🌼*
__ADS_1