SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 24


__ADS_3

Mike mendehem pelan. Ia memegangi resleting jaket dan menariknya ke bawah, membuka jaketnya. Ia menuruti saran Laura karena ia memang merasa gerah.


Laura masih tetap tenang pada posisinya. Tanpa mereka sadari sudah satu jam berlalu. Mereka masih berkutat dengan perasaan masing-masing.


Laura merasa malu terhadap dirinya sendiri yang berani menampakan lekuk tubuhnya sedangkan Mike, kegusaran nampak jelas di wajahnya. Ia telah mandi keringat semenjak masuk ke dalam kamar hotel Laura.


Kata-kata Laura terakhir masih terekam jelas. Ia berharap, Tania tidak akan meninggalkannya sama seperti apa yang Laura lakukan padanya. Ia tidak menyalahkan Laura dalam hal ini. Ia mendukung Laura, baginya apa yang dilakukan sebagai anak untuk menyelamatkan orang tuanya yang dililit hutang sudah tepat.


Perpisahan Laura dengan suaminya juga merupakan keputusan tepat. Apalah arti sebuah pernikahan jika tanpa didasari cinta yang kokoh ?


"Aku merindukanmu Mike," kata Laura lagi tiba-tiba memecah keheningan. Mike hanya diam, berdehem pelan memegangi jaketnya yang belum ia letakkan.


"Aku selalu memikirkanmu. Tak ada waktu bagiku untuk mengatakannya padamu. Semuanya terasa begitu cepat," lanjut Laura. Ia menyenderkan tubuhnya pada sofa tanpa memandang sedikitpun ke arah Mike. Kristal-kristal bening tampak mulai membasahi matanya.


"Andai saja waktu dapat kuputar kembali, Mike. Andai saja aku bisa melakukan itu maka aku akan tetap menolak dinikahi secara paksa. Aku tidak peduli hutang ayahku. Tapi apalah dayaku, Tuhan mempertemukanku dengan Tuan Vinsen setelah semuanya sudah terjadi," kenang Laura. Ia tak dapat menahan lagi air matanya. Mike masih mematung. Perasaan ibanya tiba-tiba muncul.


Katakan, apa yang akan dilakukan jika seseorang menangis mengenang luka yang pernah hadir dalam kehidupannya ? Membiarkannya menangis dan merasakan itu sendiri ?


Tidak. Mike tidak seperti itu. Meskipun ia adalah seorang lelaki yang tidak cepat menjatuhkan air mata namun dihadapkan pada situasi seperti sekarang, rasa ibanya tumbuh.


Ia kemudian berdiri setelah berhasil mengumpulkan keberanian. Meskipun ragu-ragu dengan apa yang ia lakukan tetapi ia memutuskan untuk tetap melakukannya. Ia mendekati Laura, meraih tangan gadis itu dan menggenggam dengan erat.


Laura masih diam di posisinya. Ia tak langsung mengalihkan pandangan ke arah Mike. Ia memejamkan kedua matanya dan membiarkan bulir-bulir kristal bening menetes bebas satu persatu di pipinya.


"Sudahlah, jangan dilanjutkan Laura jika itu hanya membuatmu semakin terluka," Mike mencoba menghibur dan menguatkan Laura.


"Kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama. Aku telah mengikhlaskanmu Laura. Jangan merasa bersalah lagi padaku. Aku tidak apa-apa," lanjut Mike.


Laura mengangkat kepalanya tegak, menarik tangannya dari genggaman Mike dan mengusap air matanya. Tapi secepat kilat Mike mencegahnya. Laura tiba-tiba mematung. Jantungnya berdegup kecang.


"Biar aku yang melakukannya sebagai sahabatmu, Laura," bisik Mike dekat sekali dengan wajah Laura.


Laura membiarkan Mike mengusap air matanya. Ia merasakan kebahagiaan seketika. Ada damai yang ia rasakan jauh di dasar hatinya. Ia memang sungguh-sungguh menyayangi Mike sampai hari ini.


"Mike," desah Laura pelan melafalkan nama itu sambil menatap Mike tajam.


Ia seolah-olah mengatakan bahwa ia merasakan kedamaian dan kebahagiaan lewat tatapan matanya. Mike hanya diam memainkan ekor matanya lalu kembali meraih tangan Laura setelah mengusap air mata Laura.


"Berbahagialah Laura. Tak ada yang salah denganmu atas perpisahan kita. Kamu sudah melakukan hal yang benar," kata Mike tenang. Tiada lagi kegugupan dalam hatinya.


"Apakah aku sudah tak bisa kembali ke dalam kehidupanmu, Mike ?" Tanya Laura tiba-tiba. Ia menatap tajam Mike, menunggu jawaban Mike.


Laura tahu itu tidak mungkin terjadi lagi tetapi tak salah jika ia mencoba menyatakan sekali lagi malam ini. Ia sudah tahu Mike telah mengikhlaskannya tetapi damai dan bahagia yang baru saja Mike berikan padanya, ia ingin kembali dan menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan.

__ADS_1


"Laura, aku tidak bermaksud menolakmu. Aku sedang fokus dengan kuliahku. Aku masih menutup hatiku untuk siapapun itu. Aku harap kamu mengerti," jawab Mike tenang tanpa ragu-ragu.


Tentu saja ia tak akan mengatakan bahwa telah ada gadis lain yang membuatnya jatuh cinta lagi, toh masih dalam usaha menaklukan, Tania sepenuhnya belum menjadi kekasihnya. Ia pun belum mengutarakan isi hatinya.


Laura hanya menggangguk pelan. Ia memahami apa yang dikatakan Mike padanya. Bertemu kembali dengan Mike, hingga malam ini Mike berada di hadapannya, mengusap air matanya dan menghadirkan kedamaian serta kebahagiaan dalam hatinya sudah membuatnya merasa bersyukur. Rencana Tuhan sungguh luar biasa dalam hidupnya.


Laura menatap tajam Mike, dan lelaki yang ada di hadapannya itu hanya menebar senyuman. Tanpa berpikir panjang lagi, Laura menarik kedua tangannya dan secepat kilat meraih pundak Mike dan melingkarkan kedua tangannya disana, ia memeluk Mike sangat erat.


Mike membiarkan Laura melakukannya. Ia tak menolak, toh tak ada yang berhak melarangnya untuk melakukan apapun. Ia membalas pelukan Laura dan Laura lagi-lagi menangis dalam pelukan Mike.


Sebagai lelaki normal tentu saja Mike merasa sedikit gugup ketika dipeluk oleh gadis yang dengan tau dan mau membiarkan seluruh tubuhnya menempel pada tubuh Mike. Jantungnya berdegup kencang. Laura ikut merasakannya. Tapi ia tak peduli. Ia masih menangis.


"Mike, terima kasih banyak," gumam Laura masi dalam posisi berpelukan. Rasanya ia tak mau melepaskan pelukannya. Ada damai yang ia rasakan.


Mike menyadari itu namun ia membiarkannya meski jantungnya berdegup hebat. Laura semakin mengeratkan pelukannya.


Entah berapa lama itu terjadi, sampai-sampai Laura tertidur di pelukan Mike. Mike semakin kebingungan harus bagaimana. Ia tidak mengira bahwa Laura akan terlelap dalam posisi duduk dan memeluknya.


"Hmm, ada-ada saja," gerutu Mike. Ia lalu berusaha menarik lengan Laura.


Mike mendorong pelan dan membiarkan Laura menyender di sofa setelah berhasil melepaskan pelukan Laura. Ia menarik kain tenun Laura dan menutup kembali belahan bagian dadanya yang terbuka.


Mike mematung sesaat memperhatikan Laura yang tertidur. Tak ada sama sekali tampak di wajah Laura bahwa ia sudah menikah dan mempunyai anak. Ia masih seperti gadis remaja yang Mike kenal dulu.


Laura merasakannya ketika Mike menutupi kembali tubuhnya. Ia hanya berpura-pura tidur, berharap Mike akan menggendongnya ke ranjang.


Ia berusaha sekuat tenaganya agar benar-benar terlihat sedang tidur. Ekor matanya pun tak bergerak sama sekali. Mike masih menatapnya kosong. Tentu saja Laura menyadari itu namun ia membiarkannya.


"Ayo gendong aku ke ranjang Mike, aku menginginkannya sebelum aku pergi dan menjauhimu," batin Laura berharap-harap agar Mike melakukan itu sesuai harapannya.


Mike berdiri setelah lama menatap Laura. Ia menuangkan lagi minuman fanta ke dalam gelasnya lalu segera menenggaknya. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya agar tetap kuat tak tergoda dengan apa yang akan terjadi. Ia memikirkan jalan satu-satunya ialah menggendong Laura dan membaringkannya di ranjang.


"Aku tak mungkin membiarkannya tertidur di sofa seperti ini sebelum meninggalkannya," batin Mike. Ia mendehem pelan, menelan ludahnya lalu menatap Laura lagi.


Mike berdiri, mendekati tubuh Laura yang ia senderkan di sofa. Laura merasakan gerakan Mike. Kini jantungnyalah yang mulai berdegup kencang dan merasa gugup, namun tetap berusaha untuk tidak ketahuan.


Ia merasakan kedua tangan Mike merengsek masuk ke bawah paha dan tengkuknya. Jantung semakin hebat berdegup. Mike merengkuhnya, mengangkatnya, menggotongnya dan memindahkannya ke ranjang yang tak jauh dari sofa, cukup tiga langkah kaki saja.


Dengan hati-hati Mike meletakkan kepala Laura ke atas bantal, lalu menurunkan kedua kaki Laura. Laura berpura-pura menggerakkan kedua tangannya - Mike sekejap langsung bergerak cepat menjauh. Mike mematung seketika.


Laura membuka matanya cepat namun tetap berpura-pura tidak tahu-menahu.


"Mike, kamu menggendongku ?" Tanya Laura pelan dengan suara sangat manja.

__ADS_1


Ia berusaha bangun namun Mike mencegahnya. Mike bergerak cepat menahan bahu Laura dan membiarkan Laura meletakkan kembali kepalanya.


"Kamu tampak kelelahan, Laura. Kamu istirahat saja. Aku akan pulang," Mike membisik pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Laura. Laura menatap lembut Mike.


"Sialan, dia membuatku tak menahan diri," gumam Laura dalam hati ketika Mike membisik dekat sekali dengan wajahnya. Napas Mike menyapu wajah Laura.


"Mike, apakah kamu benar-benar ingin pergi ?" Tanya Laura dengan suara manjanya lagi.


Mike tenang menatap Laura. Sisi kelelakiannya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan Laura baru saja. Sudah tak ada lagi ketakutan dan kegugupan yang sedari tadi menguasainya. Ia menunduk, sehingga jarak wajahnya dengan wajah Laura semakin dekat.


Ayo Mike, jangan pergi. Temani aku disini malam ini saja.


"Aku pulang tetapi tak pergi darimu Laura. Percayalah. Kita masih bisa menjadi teman, bukan ?" Bisik Mike lembut. Laura diam saja.


Mike menjauhkan wajahnya dan hendak berdiri. Tapi Laura meraih tangannya dengan cepat. Ia berhenti dan menatap Laura.


"Malam ini saja, Mike," pinta Laura manja. Mike hanya diam menatapnya kosong.


"Kamu bukan milik siapa-siapa, kan ?"


Bulu kuduk Mike berdiri. Dukkkk. Jantungnya berdegup hebat. Kakinya gemetar. Ia tak bisa mengelak dengan pertanyaan Laura. Ia telah jujur mengakui dia belum memiliki kekasih.


Mike mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia duduk kembali ke sisi ranjang, menatap Laura. Laura bangun dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Mike. Ia meletakan dagunya pada bahu Mike. Ia merasakan tubuh Mike yang bergetar.


"Aku bahagia dekat denganmu, Mike. Please, malam ini saja," pinta Laura lagi penuh manja membisik tepat di telinga Mike.


"Kamu menginginkannya, Laura ?" Bisik Mike bertanya. Ia tahu, tak ada ikatan apapun antara dirinya dengan Laura saat ini. Memilih untuk tinggal dan menemani Laura malam ini adalah sebuah dosa dan sama sekali tidak dianjurkan oleh keyakinan agama manapun. Tapi ia harus bagaimana ?


Laura telah memeluknya dengan erat. Laki-laki mana pun pasti akan tidak bisa menahan diri. Jujur saja. Hehehe.


"Malam ini saja," bisik Laura sekali lagi menjawab pertanyaan Mike. Mike menatapnya, lalu mengatur posisi duduknya menghadap Laura. Laura mendongakan kepala menatap Mike.


"Malam ini saja, Mike. Aku harap kamu tidak akan menyesal setelahnya. Inilah bukti cintaku padamu meskipun tak ada ikatan pernikahan di antara kita," lanjut Laura lagi lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut pada bibir Mike.


Mike mematung untuk kesekian kalinya. Ia tahu ia berdosa dengan apa yang ia lakukan namun sudah terlanjur. Ia membiarkan Laura menciumi bibirnya.


"Aku milikmu malam ini, Mike," serang Laura membisik manja yang membuat Mike semakin tak menahan dirinya. Mike tersenyum.


Laura mengeratkan pelukannya kembali dan sekali lagi mendaratkan ciuman pada bibir Mike. Mike menyambutnya, membalas dengan mesra ciuman Laura padanya lalu mendorong tubuh Laura hingga terjatuh kembali ke ranjang.


Mereka layaknya sepasang suami istri yang telah lama berpisah, meluapkan segala kerinduan mereka sepanjang malam - hanya satu malam saja.


🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.

__ADS_1


Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.


Tuhan memberkati. 🌹


__ADS_2