
"Aku hanya ingin menjadi lelaki paling beruntung setelah memperjuangkan dirimu"
.
.
.
Mega dan Kevin saling berpandangan. Begitu juga Mike, ia memandangi sepasang kekasih itu lalu kembali menunduk, berpura-pura memainkan handphonenya agar tak memperlihatkan kegugupannya.
Mike masih tenang di tempatnya. Mega mengeluarkan sesuatu berukuruan kecil dari dalam tasnya. Ia lalu memberinya pada Mike. Mike bingung menerima sesuatu yang dibungkus dengan kantong berwarna hitam itu.
Mike mengernyitkan dahinya. Ia mencoba menebak apa isinya karena ia sendiri tidak meminta Mega untuk membawa apa-apa.
Kevin memandang ke arah Mega dengan penuh tanya. Mega menangkap jelas maksud tatapan itu.
"Kue ulang tahun," bisik Mega.
Kevin mengangguk kecil. Mega sengaja memesan kue itu tadi pagi sebelum Kevin dan Mike tiba di kostnya. Ia sengaja tak memberitahukan ini kepada Kevin. Ia melakukan itu untuk Mike, sahabat dan saudaranya itu.
Mike memandang ke arah Mega setelah mengetahui isinya. Mega hanya mengangguk.
Mike bergerak cepat, membuka kotak kue yang dibungkus dengan kantong berwarna hitam itu. Ia memasang beberapa lilin kecil lalu memberi kode pada Kevin untuk meminjamkan korek gasnya. Mike meraihnya lalu menyalakan lilin-lilinnya.
Pintu kamar terbuka. Ibu Icha keluar dari kamar, dan duduk bersama.
"Eneng, buru kaluar," kata ibu Icha setengah berteriak memanggil Tania.
Di dalam kamar Tania melompat bangun dari ranjang, berdiri sejenak di depan cermin, merapikan rambut serta pakaiannya. Jantungnya berdegup kencang.
Mike berdiri dan melangkah ke depan pintu diikuti Mega dan Kevin. Ibu Icha pun ikut berdiri bersama mereka.
Pintu kamar terbuka lagi, Tania muncul dan langsung mematung di depan pintu kamar.
"Taraaa,,,sureprise," kata Mega girang sambil memiringkan leher dan menebar senyuman.
Tania masih membisu, ia pandangi satu per satu wajah ketiga orang itu lalu menunduk pada kue dengan lilin yang menyala.
"Ayo, make a wish, Tania. Lilinnya hampir habis," bisik Mike.
Tania masih membisu. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang ia lihat.
Tania lalu mengatupkan tangan, menunduk, memejamkan matanya dan berdoa sesaat. Lalu ia membuka kembali matanya dan bersiap untuk meniup lilin-lilin yang menyala.
"Selamat ulang tahun Tania. Panjang usia perjuanganmu, sukses tugas akhirmu, jadilah kebanggaan keluarga," kata Mike mengucapkan selamat kepada Tania.
Lalu Mike mengangkat kuenya, Tania menunduk dan meniup semua lilin-lilinnya. Mega dan ibu bertepuk tangan, juga Kevin. Lalu mereka saling bersalaman - Mike memberikan tangannya dan disambut Tania yang membalas dengan senyum bahagianya. Kemudian Kevin, lalu Mega.
__ADS_1
Tania memeluk Mega, keduanya tampak bahagia sekali.
"Kamu membohongiku ya," bisik Tania pada Mega.
"Hehehehe, sureprise. Ini ide gila Mike," balas Tania berbisik.
Ibu Icha pun memberi salam pada Tania dan keduanya berpelukan.
"Terima kasih ibu. Maaf Tania gak tahu kalo mereka datang jadi Tania gak minta izin dulu," kata Tania pada ibu Icha.
"Ihh gak apa-apa atuh eneng, ibu mah aman wae," jawab ibu Icha sambil melepaskan pelukannya.
Mike kembali ke tempat duduknya dan meletakkan kuenya ke atas meja. Kevin dan Mega pun demikian. Mereka duduk bersebelahan.
Tania mengambil posisi duduk dekat Mega. Ia tak henti-hentinya memeluk Mega.
"Ayo, dipotong dulu kuenya," bisik Mega.
Tania melepas pelukannya. Ia belum banyak berbicara. Ia masih tak menyangka dengan apa yang ia dapatkan sekarang.
Tania meraih kuenya, mengambil pisau plastik yang sudah disiapkan di dalam kotak kue, memotong kuenya lalu memberikan potongan pertama pada ibu Icha.
"Hari mana ? Tidur ya," tanya Tania pada ibu Icha.
"Iya eneng, Hari masih tidur," jawab ibu Icha.
"Terima kasih ya, sudah jauh-jauh datang untukku," kata Tania pelan setelah duduk di samping Mike.
"Kamu menantangku. Aku sudah melakukannya," jawab Mike pasti sambil menatap Tania tajam.
Tania tersenyum. Lalu spontan menyenderkan kepalanya pada bahu Mike.
Dukkkk. Jantung Mike berdegup kencang. Ia menunduk malu. Namun ia membiarkan Tania melakukannya. Ia tak menyangka Tania seberani itu.
"Ayolah Tania, jangan membuatku semakin gugup"
Kevin dan Mega saling menatap. Ibu Icha masih duduk menemani mereka. Dia sempat melayangkan beberapa pertanyaan dan Mega yang menjawab.
"Ibu tinggal dulu yah mau bikin minum. Minumnya teh semua atau ada yang kopi ?" Tanya ibu Icha.
"Teh aja bu semuanya," jawab Tania. Ibu Icha lalu meninggalkan mereka.
Mega dan Kevin masih diam. Begitu juga Mike. Tania sudah mengangkat kepalanya dari bahu Mike.
"Terima kasih sudah datang. Aku tak menyangka kalian bisa menemuiku," kata Tania memecah keheningan.
"Aku sengaja meminta alamatmu kemarin," sahut Mega sambil mengedipkan mata.
__ADS_1
"Hmmm, dasar. Aku tadi ketiduran karena tidak tahu sama sekali kalian akan datang," jawab Tania.
"Tunggu, tadi aku video call kamu, ini alasannya kamu gak angkat telepon aku ?" Tanya Tania pada Mike tiba-tiba.
Mike hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
"Oh iya lupa, ada sesuatu dari aku sama Kevin untukmu Tania," kata Mega sambil memgeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Mega memberikan bungkusan kado itu kepada Tania. Tania meraihnya.
"Bukalah, semoga kamu suka," lanjut Mega.
Tania membukanya dan matanya membelalak kaget melihat boneka panda pemberian Mega. Tentu saja, binatang dengan warna termanis hitam dan putih itu adalah yang paling ia sukai.
"Uhh, Mega. Terima kasih. Aku suka. Ini kesukaan aku. Aku punya beberapa di kamar dan berukuran besar semua, tapi ini lucu," kata Tania dengan nada girang. Ia memeluk boneka itu dengan sangat bahagianya.
Tania duduk memeluk boneka panda itu. Disampingnya, Mike masih diam tak mengatakan apa-apa.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Harus dari mana ia akan memulainya. Ini sudah sore, ia tak mungkin mengajak Tania keluar jauh-jauh. Ibu angkatnya pasti tak mengizinkannya.
"Sok diminum dulu ya," kata ibu Icha sambil meletakkan empat gelas teh ke atas meja.
"Terima kasih bu," jawab mereka hampir bersamaan.
"Bu, apakah ada tempat wisata paling indah disini ?" Tanya Mike seketika pada ibu Icha.
Tania, Mega dan Kevin bingung dengan maksud pertanyaan Mike.
"Naon ya, jauh atuh kalau dari sini mah. Kalau mau, eta di dekat pabrik aya perkebunan teh, lamun bisa kaditu wae. Eneng tahu tuh jalannya," jawab ibu Icha.
Kevin dan Mega lagi-lagi saling beradu pandang penuh tanya, kira-kira apa yang akan Mike lakukan.
"Oh, baiklah bu," kata Mike lagi.
Ibu Icha lalu meninggalkan mereka berempat. Tapi mereka hanya diam. Hanya terdengar suara seruputan teh.
Tania lalu meninggalkan mereka sesaat untuk masuk ke kamar dan menyimpan boneka pemberian Mega.
"Woee bro, setelah ini apa lagi ?" Tanya Kevin pelan penuh tanya dengan nada membisik.
Mike hanya diam menatap Kevin, ia mengedipkan matanya.
"Mega, apakah Tania akan menerimaku ?" Mike membisik dan bertanya pada Mega.
"Percayalah pada hatimu, Mike. Semoga tidak sia-sia," jawab Mega membisik.
Mike menarik napas lalu menghembusnya pelan. Ia semakin gugup.
Waktunya akan tiba. Tania akan menjadi milikku, gumamnya.
__ADS_1
"Percayalah pada hatimu, Mike. Semoga ini tidak sia-sia. Baiklah. Semoga semesta merestui"