SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 25


__ADS_3

Laura meletakan segelas susu ke atas meja lalu melangkah ke ranjang tidurnya. Disana masih ada Mike yang masih tidur dengan pulasnya.


Entah apa yang ia mimpikan semalam dalam tidurnya, pagi-pagi sekali Laura sudah bangun dan langsung membersihkan dirinya. Ia sengaja masih mengenakan tanktop yang semalam ia kenakan. Layaknya seorang istri, Laura menyediakan segelas susu yang telah ia letakkan di atas meja.


Laura memegang pundak Mike, menggoyang pelan - membangunkannya. Mike kaget dan membuka matanya, ia kaget melihat Laura duduk di depannya. Ia mengusap matanya, lalu memberikan senyuman pada Laura. Laura membalas senyumnya.


"Kamu mengagetkanku, Laura," kata Mike setelah mengumpul sebagian nyawanya.


"Bangunlah, Mike. Sudah pagi. Kamu harus ke kampus hari ini, bukan ? " sahut Laura sambil berdiri meninggalkan Mike yang masih duduk di ranjang.


Laura sengaja meninggalkannya karena lelaki itu masih telanjang dada. Dadanya yang bidang membuat Laura tak bisa lama-lama memandangi daerah itu, takut tak bisa menahan diri lagi.


"Pakai dulu handukku. Mandilah. Kamu akan terlambat jika tetap disitu," kata Laura cepat tanpa memandangi Mike. Ia melemparkan handuknya yang berwarna pink itu ke muka Mike.


Mike mengambilnya dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa lagi.


"Lima menit. Susunya akan dingin kalau kamu lama-lama," perintah Laura tegas. Ia layaknya seorang istri bagi Mike pagi itu. Mike hanya tersenyum kecil sambil menutup pintu kamar mandi.


Laura duduk di sofa, kedua kakinya pun diangkat ke atas sehingga paha mulusnya nampak jelas disana. Ia memainkan jarinya pada handphonenya, sesekali diam dan membaca sesaat apa yang ditampilkan pada layar handphonenya.


"Nona, jam berapa ini ?" Suara Mike mengagetkan Laura sehingga ia dengan buru-buru menurunkan kedua kakinya.


"Tidak usah disembunyikan. Aku sudah melihat semuanya," kata Mike cepat dengan nada bercanda ketika melihat Laura menurunkan kedua kakinya.


"Kalau aku membiarkannya, kamu tidak akan ke kampus hari ini Mike," balas Laura mantap. Ia menatap tajam Mike yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Sudah jam enam, minumlah susumu. Sudah kubuatkan untukmu," lanjut Laura pelan lalu kembali memainkan handphonenya.


"Kamu menyediakannya untukku, Nona ?" Tanya Mike merayu. Ia belum mengenakan pakaiannya, hanya memakai handuk menutupi area bawahnya.

__ADS_1


Mike mengambil segelas susu itu dan menenggaknya. Ia menghabiskannya dengan cepat. Lalu melangkah duduk di sofa, menghampiri Laura.


"Aku harap kamu selalu bahagia, Laura. Kamu harus jadi ibu yang kuat. Semoga ada lelaki baik yang mau menerimamu dan mencintaimu sepenuh hatinya," kata Mike setelah duduk di samping Laura.


Laura mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah Mike dan menatap mata lelaku itu.


"Mike, kamu tahu ? Aku mendapatkan suami lagi atau pun tidak sama sekali setelah ini, aku tak peduli. Aku bahagia Tuhan mempertemukan kita disini. Aku tak mengapa jika harus membesarkan anakku sendirian. Satu malam denganmu disini sudah menyadarkanku bahwa sesungguhnya hati dan cintaku masih untukmu. Nasib kita memang berbeda, Mike, "


Laura berhenti sejenak. Tatapannya masih belum dialihkan dari mata Mike. Mike pun membalas menatapnya.


"Aku bahagia denganmu, Mike," Laura melanjutkan kata-katanya.


"Terima kasih sudah menemaniku dan memberikanku kebahagiaan yang selama ini belum aku dapat dari mantan suamiku. Terima kasih Mike," Laura menebarkan senyuman, tangan kananya meraih pipi Mike dan mengelusinya.


"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi, Laura. Aku sudah mengikhlaskanmu. Kamu harus tetap kuat menjalani hidupmu. Kamu harus bahagia," kata Mike tenang.


"Aku harus pergi. Aku harus ke kampus hari ini. Maaf tidak bisa mengantarmu, Laura," lanjut Mike lagi sambil berdiri dan mengambil bajunya lalu mengenakannya kembali.


"Mike, aku harap kamu tidak menyesali pertemuan ini," kata Laura berpinta. Mike tidak menggubrisnya, ia sibuk mengenakan pakaiannya.


"Aku pergi yah, nona... "


"Panggil aku Laura. Aku tak suka kamu memanggilku nona, Mike," sahut Laura tegas memotong perkataan Mike.


Mike memalingkan wajahnya lalu terkekeh melihat Laura yang tampak serius. Ia melangkah mendekati gadis itu, menurunkan kepalanya lalu menatap mata Laura - sangat dekat.


"Aku tidak ingin melihatmu marah sebelum aku pergi. Maukah kamu tersenyum untukku, Laura ?" Tanya Mike mengejek.


Laura diam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. Dalam hatinya ia menyembunyikan kesedihan. Ia tak kuasa kehilangan Mike untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Apakah benae-benar hanya satu malam ?" Laura membatin.


Ia berdiri dan langsung memeluk Mike. Mike membiarkannya namun ia harus buru-buru pergi.


"Aku harus pergi, Laura. Ingat pesanku, berbahagialah. Kita akan menjadi teman. Aku akan selalu mendukungmu," kata Mike sambil menarik pelan bahu Laura.


Mike manatap sesaat mata Laura, memainkan jarinya pada pipi Laura lalu mendaratkan kecupan mesra di kening Laura. Kecupan terakhir.


Mike melepaskan tangnnya, melangkah mundur namun Laura tiba-tiba menahan langkahnya.


"Mike, bolehkah aku memelukmu sekali lagi ?" Laura bertanya dengan nada memohon. Ia melangkah menuju Mike tanpa menunggu jawaban lelaki itu.


Laura melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Mike, membiarkan kepalanya menempel pada dada Mike. Ia memejamkan matanya. Satu per satu air matanya menetes lagi.


Damai dan bahagia yang selama ini hilang dan tak pernah ia rasakan, kini ia rasakan namun hanya satu malam saja. Damai dan bahagia itu ia dapatkan dari lelaki yang ia tinggalkan tanpa berita - mantan kekasihnya, Mike.


Kini Mike telah berdiri di pintu kamar hotelnya dan akan pergi meninggalkan dia untuk selamanya. Dalam hatinya ia berharap setelah ini Mike akan berubah pikiran dan kembali mencintainya tetapi itu sulit terjadi. Ia telah mengetahui semuanya lewat isi pesan whatsapp di handphone Mike.


Laura berhasil membuka lockscreen yang diatur dengan kode angka tanggal lahir Mike. Dalam benakknya, ia mengira Mike telah memiliki gadis lain dan gadis itu Mega - itulah alasannya pagi ini sejak bangun pagi ia tak berani bertingkah seperti semalam. Ia benar-benar menjaga sikapnya.


Laura semakin mengeratkan pelukannya. Mike membalas pelukan itu. Mike memainkan tangannya mengelus rambut indah Laura.


"Berbahagialah, Laura. Aku mendukungmu. Aku akan selalu ada jika kamu membutuhkan bantuanku," bisik Mike.


Laura mengangkat kepalanya lalu memandangi Mike lagi. Ia dengan cepat mendaratkan bibirnya pada bibir Mike - menciumi bibir Mike.


"Pergilah, Mike. Kamu akan terlambat," bisik Laura pelan setelah menarik bibirnya dari bibir Mike. Mike tersenyum dan melangkah mundur mendekati pintu kamar.


Laura mematung, melipatkan kedua tangan pada dadanya. Ia memandang Mike dengan lekat. Air matanya kembali menetes. Ia tak menyangka ia akan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


Ia menyesali pertemuan yang hanya satu malam saja. Ia ingin menyesali dirinya. Ia tahu Mike telah memiliki gadis lain. Tapi ia juga tahu, Mike menolak mencintai gadis itu.


Satu malam. Pelukan terakhir. Ciuman terakhir. Ahh, Mike. Aku sungguh mengharapkanmu untuk kembali.


__ADS_2