SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 62-2


__ADS_3

^^^"Ibu tahu ini tidak mudah bagimu. Telah berulang kali ibu mengatakan ini padamu. Jangan terlalu lama berlarut dalam kesedihanmu."^^^


...----------------...


Tania membiarkan dirinya dipeluk oleh ibunya. Lelah; ia benar-benar lelah. Baru saja ia mengatakan niatnya pada ibunya untuk berusaha melupakan sejenak kesedihan yang ia rasakan semenjak kepergian Mike namun ia harus kembali bersedih lantaran ia sungguh-sungguh merasakan kehadiran Mike saat ini.


Sesuatu yang sukar dipercaya. Secarik kertas berisikan tulisan puisi dari seseorang yang sudah meninggal. Tambah lagi, isinya pun seolah-olah menegaskan bahwa Mike pun tak mau pergi dan berbagi alam dengan Tania. Ia masih ingin melanjutkan hidupnya bersama gadis impiannya.


Betapa tidak ? Semuanya terlihat sangat jelas ekspresi bahagia Mike ketika mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya dengan Tania. Namun bahagia itu direnggut dalam sekejap oleh maut sebelum hari bahagia mereka tiba.


"Tania, kamu harus ke rumah sakit sekarang. Mike kecelakaan."


Bagai disambar geledek. Tania tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh seseorang yang baru saja meneleponnya. Ia tak sempat mengenali suara itu, mungkin saja Kevin; suaranya setengah bergetar karena panik.


Tanpa berpikir panjang, Tania meraih tasnya dan berusaha sesegera mungkin tiba di rumah sakit. Cincin pernikahan yang baru saja ia ambil belum sempat ia keluarkan, ia bawa serta didalam tasnya.


Tania sejenak berhenti di depan pintu ruangan Mike dirawat. Di sekelilingnya telah ada beberapa orang temannya dan juga teman Mike, Kevin dan Mega ada disana. Mega berusaha menghampirinya namun Tania menahannya, ia perlahan-lahan melangkah mundur dan menjauh dengan kekuatan yang sudah tak penuh.


Disana kekasihnya terbaring dalam keadaan tak sadar diri. Kain putih dan perban yang menutupi tubuhnya masih menyisakan sedikit bercak-bercak darah meskipun petugas telah membersihkan darahnya.


Tak ada seorangpun yang berani mengatakan bahwa sesungguhnya Mike yang ia lihat terbaring disana adalah Mike yang telah meninggal. Nyawanya tak bisa diselamatkan ketika tubuh dan sepeda motornya tergeletak di pinggir trotoar jalan.


Tania hampir saja jatuh ke lantai bila saja ibunya tak segera menangkapnya. Ibunya pun tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia mengikuti putrinya dengan kendaraan yang berbeda, dengan suasana hati penuh tanya setelah mendengar Tania mengucapkan kata "tidak" diakhir pembicaraannya melalui telepon dengan seseorang.


"Ibu, aku tak kuat lagi, Bu. Kakiku tak sanggup berdiri. Tolong bangunkan Mike. Tolong," Tania memohon pada ibunya dengan suara yang sangat lemah.


Tania memaksakan dirinya untuk berjalan menghampiri Mike yang terbaring tak sadarkan diri. Ibunya memapahnya, dibantu oleh Mega. Tania memainkan bola matanya memandangi seluruh tubuh Mike yang dibungkusi dengan kain putih.

__ADS_1


Perlahan, ia melepaskan pegangan ibunya pada bahunya dan mendekati Mike.


"Sayang, ayo bangun sayang. Kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Kamu harus bangun, sayang. Apa-apaan kamu ini ? Kenapa kamu berbaring seperti ini ?" teriak Tania dengan suara tangisan yang melengking sambil menggoyangi tubuh Mike.


Semua teman-teman yang berdiri mengitari mayat Mike tak kuasa menahan air mata ketika melihat pemandangan haru yang ada di depan mata mereka. Tangisan pilu mengisi segala sudut ruangan.


"Mike, kamu mendengarku, bukan ? Hei, ayo bangun sayang. Aku disini. Besok kita akan menikah. Kamu tidak boleh tidur disini, sayang. Ayo, bangun."


Tania mengusapi wajah Mike. Mulutnya ia dekatkan ke telinga kekasihnya yang kini tak bisa membuka mata dan memandanginya.


"Sayang, ayo bangun. Aku disini. Ayo, bangun. Pulanglah denganku. Aku datang menjemputmu, sayang."


Kesal karena Mike tak merespon sedikitpun, Tania tiba-tiba menggoyang tempat tidur Mike hingga membuat tubuh Mike hampir terjatuh ke lantai. Beruntung Kevin dan beberapa teman lainnya dengan sigap menahan tubuh Mike. Ibunya memeluknya dengan erat dan ikut menangis bersamanya.


"Ibu, aku mau Mike. Tolong bangunkan Mike, Bu. Tolong, Bu. Bangunkan Mike..... "


Tak menjawab satu kata pun, ibunya hanya memeluk putrinya dan berusaha menenangkannya. Tania terus merengek pada ibunya unutuk membangunkan Mike.


Tania berusah mendekat lagi ke tempat tidur Mike dan meraih tangan Mike. Dengan sisa-sisa tenaga ia berusaha menggenggam tangan kekasihnya.


"Sayang, aku disi..... "


Kata-katanya terhenti dan Tania jatuh ke lantai, tak sadarkan diri. Ia pingsan. Ibunya dengan segera mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya. Mega menunduk dan membantu ibu Tania, begitu juga Kevin. Mega mengamankan tas Tania di pelukannya.


Sang ibu menggosoki minyak pada hidung putrinya. Air matanya tak sanggup ia bendung saat ini.


"Bu, Mike telah meninggal. Nyawanya tak bisa tertolong," bisik Mega pelan pada ibu Tania lalu menangis sambil memeluk Tania. Kevin merangkul bahu kekasihnya, ia pun tak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


Seorang sahabat yang ia kenal sejak masa putih abu-abu, yang masih mau menjaga hubungan persahabatan mereka hingga di tempat perantauan kini telah pergi untuk selama-lamanya.


Tak ada lagi pendengar setia ketika Kevin mencurahkan isi hatinya. Tak ada lagi kejutan-kejutan yang akan Mike lakukan di hadapan mereka. Semuanya telah usai. Semuanya berakhir hari ini.


...****************...


"Tidak, Bu. Jangan menahanku."


Tania bersih keras mengeluarkan cincin dari dalam tasnya dan meminta ibunya untuk menghubungi pastor yang akan memberkati pernikahan mereka esok.


"Aku akan tetap menikahi Mike, Bu. Tolong jangan menahanku."


"Ibu tidak menahanmu, Nak. Ibu tidak melarangmu. Ibu tahu kamu mencintai Mike, tapi bukan harus berakhir dengan cara ini untuk membuktikan besarnya cinta kalian berdua."


Semua orang yang masih berdiri di sekitar Mike menangis menyaksikan perdebatan Tania dan ibunya. Mega, salah seorang sahabat yang pernah merasakan perjuangan untuk mendapatkan cinta Mike turut merasakan betapa sakitnya hati Tania saat ini.


"Bagaimana mungkin Mike meninggalkan Tania menjelang hari pernikahan mereka ?"


Segala kenangan terakhir di kamar mayat waktu itu muncul kembali dalam ingatan Tania. Andai saja waktu itu ia tetap memaksakan kehendaknya, bukan hanya selembar puisi melainkan tubuh utuh Mike pun bisa saja hadir dan berdiri di hadapannya lantaran cincin pernikahan serta sakramen perkawinan yang telah mengikat mereka berdua.


"Yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan oleh manusia."


Tania memeluk ibunya dengan erat dan membiarkan ibunya mengusap air matanya. Sang ibu memeluknya dan membiarkan putrinya menangis di pelukannya.


Sang ibu sadar, tidak mudah bagi putrinya untuk menerima semua ini. Butuh waktu lama, untuk bisa menerima semua kenyataan ini.


"Yah, tolong ambilkan segelas air putih," titah sang ibu kepada suaminya.

__ADS_1


🌼🌹 Holla pembaca nan budiman. Jumpa kembali ya di Salam Terakhir Seri Kedua ini. Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat ya. Dukung terus Salam Terakhir, jangan lupa like, komen, share dan vote ya. Tuhan memberkati.


Bagi yang belum sempat membaca Seri Pertamanya, yuk mampir dulu ya sebelum lanjut disini ..... 🌹🌼


__ADS_2