
🙏 Selamat Menjalani Ibadah Puasa bagi sanak saudara pembaca nan budiman yang beragama Islam 🙏
.
.
.
Tania PoV
Hari yang melelahkan. Betapa tidak ? Setelah lama berargumen dengan dosen pembimbingnya, akhirnya pengajuan judul skripsi Tania disetujui.
Dengan wajah berseri, Tania melangkah meninggalkan ruangan dosen pembimbingnya. Ia memutuskan untuk langsung kembali ke kostnya.
Tania tidak mau menunggu lagi - satu atau dua minggu kedepan, ia akan meninggalkan hiruk-pikuk kota Jalarta dan pergi ke luar kota.
Untuk metode penelitian lapangan ( empiris ), Tania akan pergi ke daerah pelosok untuk mempelajari Perkembangan Gizi Ibu dan Anak Balita - dan tentu saja, ia akan merayakan ulang tahunnya disana.
Tania memilih Desa Margaluyu, salah satu desa yang berada di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Sebentar lagi kuliahnya akan selesai dan ia pasti akan segera mendapat pekerjaan. Beban ibunya pasti akan berkurang karena Tania pasti akan membantu membiayai uang sekolah Zain, adik lelaki satu-satunya yang ia punya. Zain masih kelas 2 SMA.
Ibunya berprofesi sebagai guru, juga ayahnya. Usia ibunya masih cukup muda untuk tetap menjalankan profesinya lantaran biaya pendidikan kedua anaknya yang tidak sedikit.
Ayah Tania telah lama meninggal - sebuah kecelakaan bus dan semua penumpang tak ada yang bisa diselamatkan. Tania masih berusia 17 tahun waktu itu.
Tania merebahkan tubuhnya, tangannya meraih handphone dan mengirim pesan whatsapp pada Mike. Ia harus mengabari Mike - tak biasanya ia memutuskan untuk terlebih dahulu mengabari Mike.
"Mike, apa bagaimana hari-harimu ? Lama tak bertemu ya. Aku harap kamu baik-baik saja."
Tania meletakkan handphone di sampingnya. Sambil menunggu balasan dari Mike, ia memeluk bantal gulingnya dan memejamkan matanya. Ia benar-benar kelelahan.
Hampir satu jam lebih - ia tersadar dan meraih handphonenya. Ia melihat tiga panggilan tak terjawab dari Mike. Dengan segera ia memainkan jarinya pada layar, mengetik pesan untuk Mike.
"Mike, aku ketiduran. Maafkan aku."
Setelah menunggu beberapa saat namun tak ada jawaban, Tania beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Mike PoV
Waktu sudah menunjukan pukul 20.30 WIB. Mike melangkah menuju parkiran setelah selesai melaksanakan tugasnya. Ia lalu melaju bersama sepeda motornya menuju kost. Ia menyempatkan diri membeli sebungkus nasi goreng untuk makan malamnya.
__ADS_1
Sesampainya di kost, ia membuka sepatunya dan meletakkan ke kolong meja. Tasnya ia gantung di dinding dekat meja. Mike merogohkan tangannya ke dalam saku celana dan mengeluarkan handphone dari sana.
"Pesan dari Tania, apakah kamu merindukanku, Tania ?" Mike bergumam sambil tersenyum ketika membaca sebuah pesan dari Tania. Mike memilih tak membalas - ia menelepon.
Mike mencoba hingga tiga kali namun sama sekali tak ada jawaban. Ia lalu meletakkan kembali handphonenya ke atas meja lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mike melangkah mendekati meja setelah selesai mengenakan pakaian - ia melihat sebuah pesan lagi dari Tania. Tapi ia mengabaikannya - membuka bungkusan nasi goreng dan makan.
Aku akan meneleponmu lagi setelah ini Tania. Aku tahu kamu merindukan aku.
Mike memainkan jarinya pada layar androidnya, memilih nama Tania dan dengan cepat melakukan panggilan. Baru pada panggilan kedua, Tania menjawab panggilannya.
"Halo, Mike. Maaf, tadi aku ketiduran. Aku tak mendengar telepon darimu. Aku kelelahan," sahut Tania setelah menggeser jarinya pada layar handphone.
"Baiklah, Tania. Tidak apa-apa. Katakan, apakah kamu merindukanku ?" Tanya Mike mulai merayu.
"Hehehe, tidak," jawab Tania ikut tertawa sambil menjemur handuknya pada jemuran di depan kost.
"Apa yang kamu lakukan hari ini, Tania ?" Mike bertanya lagi.
"Aku menemui dosen pembimbingku untuk pengajuan judul skripsiku dan puji Tuhan, sudah disetujui," terang Tania.
"Tapi,,,, " Tania tidak melanjutkan perkataannya.
"Ada apa Tania ? Ada masalah ?" Tanya Mike cepat.
"Aku harus ke luar kota, Mike," jawab Tania pelan.
"Kamu serius ? Apakah kamu tidak bisa menundanya setelah ulang tahunmu, Tania ?"
"Aku tak mau menundanya, Mike. Ulang tahunku akan kurayakan sendiri disana," jawab Tania pelan.
"Tapi aku harus,,,,,"
"Tapi apa, Mike ?" Tanya Tania penasaran.
"Tidak. Kamu tetap semangat ya," jawab Mike pelan.
"Kalau kamu mau, susullah aku kesana," kata Tania tegas.
"Kamu serius, Tania ?" Tanya Mike kaget.
__ADS_1
"Apakah aku terdengar sedang tidak serius ?" Jawab Tania percaya diri.
Mike mengernyitkan dahinya. Jantungnya berdegup hebat. Ia sadar rencananya sudah gagal dan kini Tania sedang menantangnya.
"Baiklah, tunggu saja nanti," sahut Mike tak bergeming sama sekali.
Kau tahu ? Aku pun ingin melihatmu berdiri di hadapanku ketika aku memejamkan mata dan berdoa.
Tania hanya diam. Sebenarnya ia pun tak menginginkan ini namun ia terpaksa harus mengambil keputusan ini agar kuliahnya cepat selesai.
Mike berperang hebat melawan pikirannya sendiri. Rencananya yang telah ia siasati bersama Mega telah gagal. Yang terngiang di telinganya kini ialah tantangan Tania.
"Jaga dirimu, Mike. Aku tutup teleponnya ya. Selama tidur. Mimpi indah," kata Mega setelah mereka saling diam.
"Baiklah, Tania. Semangat ya. Semoga Tuhan melindungimu. Sukses untuk penelitiannya, Tania," balas Mike pelan.
Tania menutup telepon lalu mematikan lampu kamarnya dan tidur. Sedangkan Mike, pikirannya masig berkecamuk.
Ia memegangi rambutnya, berpikir keras.
Ia meletakkan handphonenya - wajah ibunya yang terpampang di layar androidnya menebarkan senyuman.
Mike menatap gambar bisu itu dan memandang senyum ibunya. Senyum yang begitu manis namun menyembunyikan segudang kesedihan - ditinggal sendiri oleh putra semata wayangnya, mengurus sendiri usaha peninggalan suaminya.
Mike mengusap layar handphone tepat pada wajah ibunya. Ia membayangkan senyum manis ibunya yang sama sekali tidak menunjukkan kesedihan hatinya.
"Ibu, aku rindu. Semoga ibu sehat terus, aku akan pulang suatu saat nanti, Bu. Aku merindukanmu," Mike membatin. Tanpa ia sadari ada tetesan air matanya yang menetes di pipi.
"Kita akan berkumpul bersama lagi. Aku pasti akan pulang, Bu. Doakan aku, semoga kerjaku lancar, kuliahku sukses dan selalu dijauhkan dari segala bahaya maut," gumam Mike lagi.
Mike membiarkan matanya terus menatap foto ibunya. Tangannya masih mengelus wajah perempuan yang sudah tak muda lagi itu. Perempuan tangguh, yang hidup sendirian mengurusi usaha kecil mereka, yang hampir tak ada sama sekali mengeluhkan apapun.
Semuanya seolah-olah baik-baik saja. Padahalnya, dalam hatinya ia menyimpan kerinduan yang begitu hebat untuk bertemu putranya. Ia pernah berujar, meminta anaknya untuk pulang kampung menemuinya namun Mike belum menepati janjinya.
Ia mengunci dengan rapat-rapat kerinduan terbesarnya itu - ia pun jarang sekali menelepon Mike. Sesekali Mike menelepon hanya untuk menanyakan kabarnya dan juga mengenai usaha kecil mereka yang sedang ia kerjakan sendirian.
Mike mengusap air matanya, mengambil handphone, mendekatkan ke wajahnya lalu ia mengecup foto ibunya.
"Aku merindukanmu Ibu," katanya sekali lagi.
"Kebahagiaan seorang anak ada dalam senyuman ibu yang tak dapat dilihat oleh anak. (Mario Bojano Sogen)"
__ADS_1