SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 49


__ADS_3

"Tak ada lagi keraguan dalam diriku untuk memilikimu. Kamu membuatku jatuh cinta berulang-ulang kali"


.


.


.


.


.


Dinginnya malam membuat Mega semakin mengeratkan pelukannya selama perjalanan mereka menuju Puncak, Bogor. Entah kenapa, Kevin mengajak kekasihnya untuk pergi berdua ke wisata Taman Bunga Nusantara.


Hubungan Kevin dan Mega selama ini baik-baik saja. Rasa cinta semakin tumbuh di antara mereka dan rasa memiliki pun kini ada dalam benak mereka. Mereka tak mau bermain-main dengan hubungan asmara mereka.


Setelah hampir tiga jam menempuh perjalanan jauh dari Jakarta menuju Puncak - melewati rintangan utama yakni kemacetan - akhirnya mereka tiba dengan selamat. Tentu saja mereka harus mencari penginapan untuk malam ini agar esoknya mereka pagi-pagi sekali melanjutkan perjalanan lagi menuju Taman Bunga Nusantara yang masih lumayan jauh perjalanannya.


Kevin tak mau mencari tempat penginapan lainnya. Ia memilih singgah dan menego harga sewa villa yang pernah mereka singgahi ketika pulang dari Sukabumi bersama Mike.


Setelah berhasil menego harganya dengan penjaga villa, mereka diantar oleh penjaga villa itu menuju villa yang letaknya sekitar dua puluh meter dari jalan utama.


"Istirahat dulu sejenak, sayang. Nanti kita akan keluar lagi untuk mencari makan." Kevin memecah keheningan sedang Mega, kekasihnya sibuk merapikan kasur yang akan mereka tempati malam ini. Ia hanya mengangguk pelan menyetujui perkataan kekasihnya.


Kevin meninggalkan Mega sesaat di dalam kamar menuju ruang tamu dan merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Ia mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya, memainkan jarinya beberapa saat disana.


"Aku dan Mega ada di Puncak. Kamu tahu ? Malam ini kami menginap di villa waktu kita pulang dari Sukabumi. Kapan kamu akan ajak Tania kesini lagi ?"


Kevin mengirimkan pesan Whatsapp kepada Mike hanya untuk memanasi sahabatnya itu. Ia tak tahu bahwa sahabatnya itu sedang dalam masalah besar.


"Aku mau mandi dulu, boleh ?"


"Jangan lama-lama, aku sudah lapar," sahut Kevin cepat. Mega mengangguk sambil melangkah keluar menuju kamar mandi.


"Tunggu," cegat Kevin cepat. Mega menghentikan langkahnya. Kevin meletakkan handphonenya lalu berdiri dan berjalan menghampiri kekasihnya. Ia menatap tajam mata Mega, sehingga membuat jantung kekasihnya itu tiba-tiba berdegup sangat kencang.


"Tak ada niat untuk mengajakku..."


"Kembali dan duduk diam disana," potong Mega cepat sebelum Kevin melanjutkan perkataannya. Kevin hanya mengerang kesakitan karena Mega mencubit perutnya.


Mega mendorong tubuh Kevin, mengabaikan kekasihnya itu lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu rapat-rapat dan memastikan Kevin tak akan memaksa masuk.


Kevin kembali ke sofa dengan wajah sedihnya karena keinginannya untuk bermesraan dengan Mega tak dipenuhi oleh Mega saat ini. Ia memainkan handphonenya sembari menunggu kekasihnya yang sedang mandi.


* * * * *


"Kamu yakin akan membiarkanku tidur sendirian di sofa ?"

__ADS_1


Mega tak merespon pertanyaan Kevin. Ia sibuk memainkan handphonenya. Kevin merubah posisi duduknya lebih dekat lagi dengan Mega.


"Apakah kita tak boleh tidur seranjang malam ini ?"


"Apa yang kamu inginkan ?" tanya Mega tajam. Kevin gugup memikirkan alasan yang tepat untuk meluluhkan hati kekasihnya. Sejak berada di warung makan tadi, Mega sudah menunjukan komitmennya bahwa ia tak akan membiarkan Kevin melakukan apapun padanya meskipun mereka hanya berdua.


"Aku menginginkan dirimu, Mega. Tak ada lagi keraguan dalam diriku untuk memilikimu. Kamu telah membuatku jatuh cinta berulang-ulang kali," bisik Kevin di sela-sela makan malam mereka.


"Percayalah pada kekuatan cinta kita. Akan ada waktunya untuk semua itu," jawab Mega tenang.


Entah apa isi otak Kevin saat ini, Mega tetap saja terihat tenang dan tak akan membiarkan apapun terjadi di antara mereka malam ini. Ia menyayangi Kevin, tapi bukan berarti ia harus merelakan semuanya untuk Kevin saat ini.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktuku malam ini untuk lebih dekat bersamamu, Mega. Aku hanya ingin memelukmu saja."


"Kamu bisa melakukannya sekarang jika ingin memelukku," jawab Mega tenang.


"Apa yang kamu takutkan, Mega ? Bukankah kita pernah..."


"Aku tidak ingin mengulanginya lagi, Kevin," potong Mega cepat.


"Aku takut. Aku takut kita akan melangkah terlalu jauh. Please, jangan memaksaku."


Kevin diam sejenak namun tatapan matanya belum beralih dari mata Mega. Dalam hatinya, ia mengagumi gadis yang berada tanpa jarak di hadapannya. Ya, sayang tak harus telanjang. Tak harus memberikan seluruhnya dan menuruti keinginan nafsu sesaat. Masih banyak yang harus dilakukan dan perlu dijaga hingga saatnya nanti bila cinta mampu mempersatukan.


"Kamu membuatku jatuh cinta sekali lagi, Mega. Maafkan aku. Aku berjanji padamu tak akan membiarkan kita melakukan apa yang tidak kita inginkan malam ini. Aku hanya ingin memelukmu. Bukankah kau merasa dingin, sayang ?" bisik Kevin lembut yang diakhiri dengan sebuah candaan. Mega menatapnya tajam.


Kevin hanya tersenyum lalu dengan cepat mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Mega.


"Jadi,,,,?"


"Apa ?"


"Kamu masih akan membiarkanku untuk tidur sendiri disini ?"


"Bantal guling akan kujadikan sebagai pembatasnya," jawab Mega cepat. Kevin hanya tersenyum lalu mencubit mesra pipi kekasihnya.


Mega kembali memainkan handphonenya. Kevin berdiri dan berjalan menuju kamar, membuka tas gitar dan mengeluarkan isinya dari sana. Ia sengaja membawakan alat musik kegemarannya itu agar dapat menyanyikan lagu-lagu indah untuk kekasihnya.


"Kamu ingin aku menyanyikan lagu apa untukmu, sayang ?" tanya Kevin ketika duduk kembali di samping Mega.


"Apapun lagunya, aku akan suka," jawab Mega santai.


Kevin hanya tersenyum mendengar jawaban kekasihnya itu. Dalam benaknya, ia memikirkan sebuah lagu yang tepat untuk ia nyanyikan saat ini. Dan tentu saja lagunya harusnya berkesan bagi Mega.


Dengan lembut ia memainkan jemarinya, menyentuh senar-senar gitar sehingga menghasilkan bunyi nada-nada indah yang memanjakan telinga Mega. Mega meletakkan handphonenya ke meja lalu berusaha dengan sungguh-sungguh mendengarkan kekasihnya itu bernyanyi untuknya.


"Dengarkanlah wanita pujaanku

__ADS_1


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu"


Mega menyenderkan kepalanya pada bahu Kevin setelah kekasihnya itu selesai menyanyikan sebuah lagu untuknya.


"Kamu tahu ? Aku membayangkan suatu saat nanti, di hari pernikahan kita kamu menyanyikan lagu ini lagi ketika aku berlangkah menuju bangku pengantin. Dan setelah aku membalasnya dengan membawakan sebuah puisi untukmu, tentang kita dan cinta yang telah menyata."


"Kamu mengharapkannya ?


"Tentu saja. Aku akan sangat terkesan jika itu benar-benar terjadi."


"Dan kita akan menginspirasi banyak pasangan kekasih lainnya untuk memanfaatkan dengan baik bakat yang telah Tuhan berikan pada mereka masing-masing."

__ADS_1


Mega tersenyum menatap Kevin, lalu ia membiarkan Kevin sekali lagi mendaratkan sebuah kecupan mesra pada keningnya.


__ADS_2