SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 48


__ADS_3

"Aku tahu aku sudah tak pantas lagi untuk dicintai apalagi dimiliki. Tapi aku tulus mencintai Mike."


.


.


.


Tania menarik tangan Mike dengan sangat kuat sehingga mencegah Mike untuk melanjutkan langkahnya. Mike menoleh dan memandangi Tania. Tania hanya tersenyum; merasa malu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap kekasihnya.


Tania mengira Mike membawanya ke hotel dengan tujuan lain - kemarin ia dengan blak-blakan mengatakan ingin menikahi Tania - mungkin saja ini caranya untuk membuat Tania terpaksa harus segera mengambil langkah itu. Namun ternyata Tania salah.


Di sudut sana, di sebuah meja nomor sebelas ada seorang gadis berparas ayu berkulit terang. Ia sendirian, menikmati pemandangan kota Jakarta dari balik kaca. Ia belum menyadari kedatangan Mike dan Tania.


Mike membalas senyum Tania lalu mengangguk kecil. Ia menarik lagi tangan Tania dan mengajaknya berjalan menuju meja nomor sebelas itu.


"Hay, maaf kami lama."


Gadis itu menoleh ke arah suara yang menyapanya dan menyadari Mike, mantan kekasihnya itu telah berada di dekatnya bersama kekasihnya.


"Hay, aku baru saja kesini," balas gadis itu lembut dan memberikan senyum paling manis yang ia miliki.


"Hay, aku Laura," lanjut gadis itu sambil mengulurkan tangan kepada Tania untuk bersalaman.


Jelas terlihat di wajah Tania sebuah ekspresi kaget yang teramat sangat. Tangannya gemetar. Ia tak menyangka gadis itu adalah Laura, gadis masa lalu Mike dan dia adalah tujuan Mike membawanya kesini tanpa mengatakan apapun.


"Hay, aku Tania."


Tania mengulurkan tangan dan menjabat tangan Laura. Laura meraihnya dan menggenggamnya dengan lembut. Ia dapat merasakan gugup di dalam diri Tania.


"Terima kasih sudah datang, Tania."


Tania memainkan bola matanya dan melirik ke arah Mike namun Mike berpura-pura tak melihatnya. Tania tahu sekarang bahwa pertemuan ini adalah rencana Mike dan Laura. Lalu apa yang mau dilakukan disini dengan pertemuan ini ? Tentu saja menjadi tanda tanya besar bagi Tania karena ia sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada pertemuan seperti ini.


Laura menyilakan Mike dan Tania untuk duduk lalu tangannya melambai memberi kode kepada salah seorang pelayan cafe untuk memesan minuman.

__ADS_1


"Silahkan dipesan minumnya."


Tania masih berusaha untuk mendapatkan tatapan Mike namun sedari tadi ia belum mendapatkan itu. Mike terus saja menunduk dan berpura-pura menghindari tatapan matanya dengan Tania. Tentu saja Mike pun tak menginginkan sesuatu yang buruk akan terjadi disini. Ia sendiri pun belum mengetahui apa maksud Laura mengundangnya kesini.


Setelah memilih minuman yang ingin dipesan, barulah Mike memalingkan wajahnya dan menatap Tania. Tania membalas tatapannya dengan dingin. Jantung Mike berdegup kencang. Ia tahu setelah ini Tania pasti akan marah, bila tidak pasti ada sedikit kalimat yang bernada tinggi dari kekasihnya itu. Tania selama ini adalah gadis pendiam dan pemalu. Ia tidak banyak berbicara. Tapi dengan pertemuan ini, Mike sudah membayangkan hal lain pasti akan terjadi.


"Bagaimana kabarmu, Tania ?"


Laura membuka percakapan untuk memecah keheningan. Tania tampak tenang menghadapi sikap Laura yang "sok akrab" dengan dirinya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu ?"


Laura tidak langsung menjawab pertanyaan Tania karena pelayan mengantar pesanan mereka.


"Selamat menikmati."


Mereka mengangguk dan memberikan senyuman kepada pelayan yang kemudian mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Aku sedang tidak baik-baik saja. Karena itu aku kembali ke kota ini," kata Laura menjawabi pertanyaan Tania yang sempat tertunda sebelumnya.


Tania masih tampak tenang, berusaha memahami apa yang dikatakan Laura baru saja tapi tidak dengan matanya. Bola matanya langsung berputar ke arah Mike yang duduk tak jauh dari dirinya. Ia dan Mike tidak duduk berdampingan-mereka duduk membentuk sebuah segitiga.


Mike hanya menunduk ketakutan. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini, pikirnya. Ia hampir saja kehilangan Tania lantaran kejujurannya tentang pertemuannya dengan Laura. Dan kali ini, gadis itu ada di hadapan kekasihnya dan dengan sangat jelas mengatakan bahwa tujuannya ke Jakarta karena Mike.


"Aku ingin bertemu denganmu, dan juga Mike. Karena itu aku kesini. Batinku tak tenang."


Laura melanjutkan lagi perkataannya. Tentu saja Tania semakin tidak bisa menahan emosinya. Ia tahu bahwa gadis ini pernah ada di masa lalu Mike, kekasihnya.


Mike tak mengatakan apapun. Ia hanya diam dan menunduk ketakutan. Sifat lelakinya belum terlihat.


"Maafkan aku Laura. Mungkin kamu belum tahu siapa aku..."


"Mantan kekasih Mike, yang meninggalkan Mike lantaran dinikahkan secara paksa."


Laura menghentikan kalimatnya. Tania memotong pembicaraannya dengan nada dongkol.

__ADS_1


"Aku tahu siapa kamu. Aku tahu apa yang telah kamu lakukan di pertemuan kalian berdua. Aku tahu semuanya."


Tania melanjutkan kalimatnya yang masih dengan nada penuh kekesalan. Laura melirik ke arah Mike.


"Kamu telah menceritakan semuanya ?"


"Kenapa tidak ?" sambung Tania cepat. Ia mulai tak bisa menguasai dirinya. Baru kali ini Mike melihat sendiri, kekasihnya yang selama ini kalem, pendiam, tiba-tiba galak.


"Aku kekasihnya dan aku berhak tahu apa yang ia lakukan."


Tania menghentikan kalimatnya. Luara menatapnya dengan wajah kemerahan. Ia sangat malu.


"Tania, maafkan aku. Aku tidak bermaksud merusak hubungan kalian. Aku tahu aku sudah tak pantas lagi untuk dicintai apalagi dimiliki. Tapi aku tulus mencintai Mike. Kedatanganku kembali kesini karena aku hanya ingin memastikan apakah aku masih memiliki kesempatan atau tidak sama sekali untuk mendapatkan Mike kembali."


Tania semakin tidak tenang. Gadis mantan kekasih Mike ini semakin berani mengungkapkan perasaannya. Ia semakin kesel dengan suasana saat ini.


Mike semakin menunduk ketakutan. Habislah riwayatku hari ini, pikirnya. Dua gadis yang berada di hadapannya saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Ia mengatur posisi duduknya kembali.


"Kamu akan mengambilnya kembali ke dalam kehidupanmu setelah kamu meninggalkannya ?" tanya Tania semakin kesal.


"Tania, dengarkan aku dulu. Aku hanya ingin memastikan saja. Jika kamu memang mencintai Mike, aku ikhlaskan Mike untukmu dan aku akan pergi jauh-jauh dari kehidupan kalian."


Suasana hening seketika. Tak ada yang berani berbicara lagi. Laura menenggak minumannya. Tania mengatur posisi duduknya dan meletakkan kedua tangannya ke atas meja.


"Mike, siapa yang kamu pilih ?" tanya Tania tiba-tiba mengagetkan Mike. Mike mendongakan kepalanya sejenak lalu menunduk kembali. Tak ada sama sekali terlihat keberanian dalam dirinya. Ia masih diam dan tidak menjawab.


"Mike, katakan sesuatu atau aku akan pergi sekarang juga," suara Tania semakin meninggi. Mike mengatur napasnya dan memberanikan diri mengangkat wajahnya memandangi Tania, kekasinya.


"Jangan memintaku untuk memilih. Semuanya sudah jelas."


Mike tak melanjutkan kalimatnya. Ia diam lagi. Tania dan Laura dibuatnya penasaran menantikan apa lagi yang akan ia katakan.


Tania belum bisa menguasai dirinya. Sejak Laura mengatakan ingin memastikan cintanya kepada Mike ia merasa seperti gadis masa lalu Mike itu sedang mencobainya. Ia marah dan mengutuk gadis itu dalam hatinya.


🌼Jangan lupa vote, like, komen dan share ya pembaca yang budiman. Terima kasih masih setia dan sabar menunggu kelanjutannya. Tuhan memberkati. 🌼

__ADS_1


__ADS_2