
Mike kembali ke kostnya setelah mengantar Tania. Ia masuk dan segera mengunci pintu. Mike juga menyempatkan diri masuk ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya. Ia sedikit memberikan perawatan pada kulit wajahnya.
Mike lalu kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya tanpa mengganti pakaian yang tadi ia kenakan. Melelahkan memang. Tapi ia sudah lega kini. Mega telah menjadi milik Kevin. Mega menerima ungkapan perasaan Kevin yang dinyatakan dalam bentuk lagu di cafe tempat mereka bertemu tadi.
Mike dapat merasakan betapa bahagianya Kevin ketika Mega melangkah maju, menghampirinya lalu memberikan tangannya digenggam Kevin. Akhirnya, rasa cinta yang pernah hilang kini tumbuh kembali setelah ia bertemu Mega.
Mike pun tak menyangka Kevin seromantis ini. Apalagi semua orang yang berada di dalam cafe merekam moment indah dan tak terlupakan bagi dirinya.
Harapan Mike saat ini hanya satu. Semoga Mega membunuh perasaannya padanya dan melihat Kevin sebagai satu-satunya lelaki yang harus dicintai.
Mungkin sebaiknya Mega pun harus berkata jujur tentang dia dan Mike kepada Kevin agar Kevin pun memahami situasinya. Bagaimanapun juga, Kevin adalah sahabat Mike.
Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, tiada kabar apapun dan kini mereka dipertemukan kembali di kota yang sama. Bedanya, kini Kevin mencintai gadis yang telah berjuang mencintai Mike tetapi tak dibalas cintanya.
Namun satu yang masih mengganjal dan mengganggu pikiran Mike. Mega dan Tania akan bertemu. Ia mendengar Mega mengatakannya pada Tania ketika Mike hendak mengantar Tania pulang.
Mike harus memastikan bahwa mereka tidak akan bertengkar. Mungkin kedengarannya agak berlebihan jika mereka akan bertengkar karena Mike.
Wajah Mega masih ketus ketika bertemu Tania. Mungkin saja ia akan mengira bahwa Tania adalah alasan Mike tidak bisa menerima cintanya. Semoga saja, apa yang dilakukan Kevin tadi dapat mengubah pikiran Mega dan membuat Mega untuk harus berani melupakan Mike sebagai lelaki yang pernah ia cintai.
*****
Mike melaju bersama sepeda motornya menuju taman, tempat segala kisah cintanya dimulai. Andai saja ia punya hak menamainya, taman ini akan ia beri nama Taman Kenangan. Ahh, anggap saja mulai malam ini taman ini bernama Taman Kenangan.
Mike tidak masuk kerja hari ini karena masih jatah off, dan akan kembali masuk besok pagi jam setengah tujuh. Ia memarkir sepeda motornya dan seperti biasa penjaga parkir yang sudah tak asing lagi dengannya menyapanya.
"Sendiri bang ?" Tanya bapak setengah tua itu. Mike tersenyum padanya sambil mematikan mesin motor. Ia menghampiri Mike.
"Iya, sendiri bang," sahut Mike pelan sambil membuka helmnya dan menggantungnya di motor.
Dengan segera ia melangkah masuk meninggalkan bapak setengah tua penjaga parkir. Dengan hati-hati Mike melangkah menuju tempat biasa ia dan Mega sering duduk. Tidak ada siapa-siapa. Tempatnya kosong.
Mike mendekati sepasang bangku berwarna coklat yang diletakan berhadapan mengitari sebuah meja batu itu dan berdiri memandang ke sekitar.
"Mereka belum datang," gumamnya. Mike yakin mereka tak punya pilihan tempat lain. Mereka pasti ke taman ini untuk bertemu. Mike kemudian mencari tempat di sekitar yang tak jauh dari tempat biasa ia dan Mega duduk.
Mike mengenakan jaket berwarna hitam polos, ada penutup kepalanya. Jaket itu jarang ia pakai dan selama pertemuannya dengan Mega ataupun Tania ia belum pernah memakainya. Sandal jepit dan celana jeans pendek seukuran lutut menambah percaya dirinya.
Mike mengambil posisi duduk membelakangi salah satu bangku. Ia sudah sangat yakin mereka tak akan mengenalinya.
__ADS_1
Mike sengaja membawa sebuah buku untuk menemaninya. Tak lupa juga ia membeli sebotol teh pucuk. Kebiasaan ini kadang-kadang saja ia lakukan ketika bertemu dengan mereka. Biasanya Mike hanya membaca buku di kamar kostnya atau di tempat kerjanya.
Mike menunduk membaca buku yang ia bawa. Sebotol teh pucuk ia letakkan diatas meja batu yang telah disediakan di taman kenangan itu.
Mike menggunakan penutup kepala jaket untuk menutupi wajahnya agar Tania dan Mega tak mengenalinya.
Baru saja membaca beberapa halaman novel karya Paulo Coelho yang berjudul Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis, suara kekeh kedua perempuan itu mengagetkannya.
Kedengarannya tak ada yang perlu ia takuti. Mereka bercerita layaknya sudah lama saling kenal. Mega memberi aba-aba kepada Tania untuk duduk.
Tepat sekali mereka tidak memilih tempat lain. Sepasang bangku kayu berwarna coklat yang telah menjadi saksi bisu Mike pertama kali jatuh cinta dengan Tania menjadi pilihan mereka. Tentu saja Mega tak punya tempat lain. Tambah lagi tempat itu masih kosong.
"Disinilah kami sering manghabiskan waktu bersam, melepas lelah setelah seharian duduk di bangku kelas," tutur Mega. Entah apa yang telah mereka perbincangkan sebelumnya, tapi yang jelas Tania pasti sudah tahu siapa Mike dalam hidup Mega.
"Aku juga pertama kali bertemu dengannya disini. Waktu itu aku sendirian. Mike datang dan duduk disini. Rupanya di bangku ini kalian sering bertemu sehingga ia tak memilih tempat lain, " balas Tania menerangkan.
Mike semakin serius memasang telinga mendengar pembicaraan mereka. Beruntung bahwa jarak bangku mereka dan bangku tempat ia duduk hanya sekitar satu meter.
Mereka sama sekali tak memelankan suara mereka ketika bercerita. Mike tak lagi fokus membaca tapi bukunya masih dibiarkan terbuka seolah-olah sedang membaca.
"Tunggu, kapan kamu bertemu Mike ? Apakah ketika aku sedang berada di kampung waktu itu ?" Tanya Mega cepat. Mike semakin menyondongkan telinganya mendengar perbincangan mereka yang semakin serius.
"Ya, pasti ketika aku berada di kampung. Waktu itu sedang liburan semester. Ayahku sakit sehingga aku memutuskan untuk pulang. Kau tahu ? Aku membohonginya waktu itu, hehehehehe," kata Mega sambil tertawa kecil mengingat kembali ide gilanya waktu itu. Tania hanya diam.
"Aku sengaja meninggalkan handphoneku pada seorang temanku dan meminta temanku menghubungi Mike bahwa ia menemukan handphoneku disini," lanjut Mega lagi sambil tertawa. Kali ini Tania merespon dengan ikut tertawa. Mereka kedengaran seperi sudah sangat akrab.
"Aku memang sangat mencintai dia. Aku benar-benar menyukainya," lanjut Mega lagi setelah diam beberapa saat. Jantung Mike tiba-tiba berdegup kencang.
Mega kembali mengenang masa-masanya bersama Mike. Ia begitu mencintai Mike tetapi inilah kenyataannya. Dia sekarang milik Kevin.
"Perjuangannya untuk membiayai kuliahnya sendiri-lah yang membuatku jatuh cinta padanya. Aku kemudian dengan berani jujur padanya. Aku menuliskan puisi untuknya mewakili perasaanku," kata Mega melanjutkan.
Tania masih diam mendengar ceritanya. Begitu juga dengan Mike. Ia belum mendengar alasan Mega mencintainya dan sekarang ini ia telah mendengar semuanya.
"Aku yakin dia menyadarinya karena Mike juga pandai berpuisi," lanjut Mega.
"Apakah kamu pernah dibuatkan puisi oleh Mike ?" Tanya Mega tiba-tiba pada Tania. Tania langsung menjawabnya. Ia hanya tertawa kecil.
"Ya, pernah. Ia pun mengatakan suka padaku lewat puisi," jawab Tania sekenanya. Mike semakin tak tenang, merasa malu sendiri.
__ADS_1
"Lalu kenapa kalian belum berpacaran ? Apakah kamu tidak menyukai Mike ?" Tanya Mega seketika.
Mike mendengarnya dengan jelas lalu tersenyum sendiri. Akhirnya ia bisa mendengar dan mengetahui apa sesungguhnya perasaan Tania padanya.
"Hehehehe, entahlah," Tania menjawab sambil tertawa. Tania masih bingung. Tapi sesungguhnya ia hanya menunggu waktunya saja.
"Kami sudah sangat dekat akhir-akhir ini. Kami sering bersama. Sering ke taman dan duduk disini juga," lanjut Tania.
"Lalu ?" Tanya Mega penasaran.
"Ya, begitulah. Kami masih hanya sebatas teman saja," jawab Tania santai.
"Apakah Mike belum mengatakannya padamu ?" Tanya Mega lagi. Mike semakin serius berkonsentrasi mendengar perbincangan mereka.
Ia kemudian meraih teh botol, membuka dan meneguknya beberapa kali. Ia penasaran apa yang akan Tania katakan.
"Hehehehe, belum. Dia hanya selalu menggombaliku," terang Tania sambil tertawa. Jelas sekali pada matanya ia menunjukan rasa malunya.
Tania merasa nyaman apabila dekat dengan Mike. Mike selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum sendiri.
"Tapi kamu mau jika Mike memintamu menjadi kekasihnya ?" Tanya Mega tajam.
Kali ini pertanyaan Mega membuat Mike menutup buku bacaannya dan sedikit menyenderkan tubuhnya pada bangku dan sama sekali tidak memiringkan kepalanya ke kiri atau pun ke kanan. Ia takut ketahuan.
"Hehehehe, aku tidak tahu jawaban yang pasti. Aku nyaman jika aku berada di dekatnya," jawab Tania tenang dan selalu ia dahulukan dengan sedikit tertawa. Mike tersenyum sendiri seperti mendapatkan signal bagus.
Tanpa memperdulikan Mega dan Tania yang masih duduk dan berbincang di belakangnya, ia berdiri dan melangkah meninggalkan mereka.
Mike memutar lewat jalan lain menuju tempat parkir motornya.Besok ia harus masuk kerja. Ia harus pulang agar tidur lebih awal. Mega dan Tania baik-baik saja dan bahkan sudah sangat akrab. Mike tersenyum puas.
Setidaknya usahanya untuk menguping obrolan mereka tidak sia-sia dan kini tak ada lagi keraguannya untuk menyatakan cintanya pada Tania.
Seminggu lagi ulang tahun Tania. Mike pernah menghadiahinya kalung, mungkin kali ini dengan menyatakan cintanya.
Mega dan Tania masih melanjutkan perbincangan mereka. Sama sekali tak ada yang perlu ditakuti. Mereka baik-baik saja. Tidak butuh waktu lama untuk mereka saling akrab.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
__ADS_1
Tuhan memberkati. 🌹