
^^^"Memilikimu memang bukan sesuatu yang menjadi kenyataan bagiku. Namun hari ini, bersama sisa-sisa cintaku yang masih belum berubah sedikitpun^^^
^^^aku ingin dirimu tetap tinggal walau tanganmu tak harus dapat kujamah."^^^
...----------------...
Di meja makan ayah dan ibu Tania sudah ada, Bimo pun sudah menunggu kapan ibunya akan mengambilkannya nasi. Satu per satu wajah ayah dan ibunya ia pandangi.
"Ada apa ? Mengapa Ayah dan Ibu kelihatan sedih ?"
Ayah dan ibu terkejut mendengar pertanyaan Bimo yang seketika langsung membuyarkan lamunan mereka. Sang ibu lalu terburu-buru menyiapkan piring dan mengambilkan nasi untuk putranya.
"Apakah Ayah dan Ibu memikirkan Ka Nia ?"
Tak satu pun dari ayah ataupun ibunya yang merespon pertanyaannya. Ayahnya menunduk, ibunya berusaha menyembunyikan raut wajah sedihnya.
"Setelah makan kita telpon Ka Nia. Sekarang makan dulu, Nak," kata ibu mengalihkan pembicaraan. Bimo mengangguk lalu mengajak ayah dan ibunya berdoa.
Tanpa disuruh, Bimo tahu tugasnya sebelum dan sesudah makan. Ayah dan ibunya memang memberinya tugas untuk memimpin doa sebelum dan sesudah makan agar ia terbiasa sejak dari rumah.
"Tuhan, terima kasih untuk segala berkat-Mu sepanjang hari ini. Berkatilah makanan ini agar berguna bagi kesehatan jiwa dan raga kami. Lindungi juga Ka Nia yang sudah pergi jauh dari kami. Semoga Engkau selalu melindunginya di tempat orang. Nama-Mu kami puji, kini dan sepanjang masa,,, ."
"Amin," jawab kedua orangtuanya.
Seusia kelas empat SD, Bimo telah diberi kepercayaan untuk mengasah kemampuan doanya di rumah. Wajar jika susunan doanya sudah mulai teratur dan sudah jelas maknanya karena sejak masih berusah Taman Kanak-Kanak ia sudah diajari cara berdoa sebelum dan sesudah makan oleh ayah dan ibu, juga kakaknya Tania.
...****************...
Mega meraih kertas putih itu dengan wajah penuh tanda tanya. Ia melirik ke arah Kevin, seolah-olah bertanya pada Kevin kertas apa yang ia pegang saat ini. Disana, Tania duduk dan melayangkan pandangannya pada bingkai foto pada dinding kamar.
"Dia ada disini, Mega."
Raut wajah Tania kini berubah. Jelas tampak kelopak matanya membendung begitu banyak air mata yang sebentar lagi akan jatuh.
Mega memberikan kertas itu kepada Kevin lalu dengan cepat bergerak mendekati Tania. Dengan penuh rasa iba, Mega memeluk erat sahabatnya itu.
"Kami turut berduka, Tania. Maaf kami tidak bisa menemanimu waktu mengantar jenazah Mike."
Tania tak menjawab apapun. Pipinya kini sudah mulai dibasahi oleh air mata.
"Mike masih disini. Ia akan selalu menemaniku."
Untuk kedua kalinya Tania menyebutkan kalimat itu. Disana Kevin serius membaca dan berusaha memahami satu per satu setiap kalimat yang tertulis di kertas putih itu.
__ADS_1
"Ini tulisan Mike, bukan ?" tanya Kevin heran.
"Kok bisa, Tania ?"
Mega mengelus pundak sahabatnya sama seperti yang sering dilakukan oleh ibu Tania.
"Aku mendapatkan kertas itu ada di tasku, Vin. Aku tak tahu itu tulisan Mike sejak kapan."
Tania memiringkan kepalanya lalu membiarkan Mega memeluknya.
"Kertas itu ada di tasku ketika aku tiba di Ambon, di rumahku minggu kemarin."
Kevin mengembalikan kertas itu ke tangan Tania. Seluruh tubuhnya merinding mendengar apa yang dikatakan Tania.
Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi sedangkan Mike telah tiada ? Isi tulisan itu jelas seperti sebuah penyesalan karena harus meninggalkan Tania seorang diri. Itu artinya puisi itu ditulis oleh Mike setelah kepergiannya. Setelah ia sudah meninggal.
"Aku membuka tas pakaianku dan hendak mengeluarkan semua pakaian kotorku yang kupakai selama berada di rumah Mike. Aku menemukan kertas itu ada di antara pakaian kotorku."
Tania menangis. Air matanya bebas mengalir membasahi pipinya. Mega tak sanggup berkata-kata, ia hanya memeluk dengan erat sahabatnya itu. Begitu juga Kevin. Rasa tak percaya masih jelas menghiasi wajahnya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ?" berulang kali Kevin bergumam dalam hatinya.
"Dia masih disini, Mega. Dia masih disini bersamaku. Dia mencintaiku. Dia tak akan meninggalkanku."
"Lalu kamu akan benar-benar sendiri ? tak mau mencari pasangan hidup baru untuk menggantikan Mike ?" tanya Mega spontan.
"Aku tak tahu harus bagaimana. Pintu hatiku seolah tertutup untuk cinta yang lain. Aku menginginkan Mike. Dia satu-satunya lelaki yang berhasil membuatku percaya dan merasakan kehadiran cinta dalam hidupku. Perjuangannya untuk mendapatkan cintaku bukanlah mudah."
Mega dan Kevin hanya diam dan mengangguk. Sejenak terlintas peristiwa dimana Mike mengungkapkan perasaannya pada Tania waktu itu.
"Aku sering mengecewakannya, mengabaikannya namun ia tak sedikitpun menyerah. Aku merasa aku tak akan bisa mendapatkan cinta yang lain seperti cinta Mike padaku."
"Semuanya terserah padamu, Tania. Kami selalu mendukung dan menghargai setiap keputusanmu."
Tania mengusap air matanya lalu tersenyum, meskipun senyumnya sama sekali bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Terima kasih, Mega. Aku bangga memiliki sahabat seperti kalian. Aku akan baik-baik saja. Mike menemaniku."
Seketika suasan kamar Tania kembali hening. Tania masih menyeka air matanya.
"Lalu bagaimana dengan kalian ? Kapan Kevin akan membawamu ke Flores ?" sambil setengah tertawa Tania mengalihkan pembicaraan.
"Hehehe, tanya ke si pangeran. Aku sudah siap lahir dan batin," sahut Mega cepat sambil melirik ke Kevin.
__ADS_1
"Tunggu saja kabar baiknya, Tania. Tabunganku belum cukup. Aku tak mau membebani semua ke orangtuaku. Aku harus membiayai pernikahanku sendiri. Mike telah mengajariku semuanya ini," timpal Kevin sambil merekahkan senyum manis di bibirnya.
"Baiklah. Aku menunggu kabar baiknya. Sukses untuk kalian berdua, Bu Guru Muda dan Pengusaha Muda, hehehehe," Tania mengajak kedua sahabatnya untuk tertawa.
Sejenak mereka melupakan kesedihan yang masih mereka rasakan. Entah sudah berapa jam mereka terlarut dalam kesedihan. Mereka bertukar cerita tentang kesibukan mereka masing-masing.
"Sesekali mampirlah ke cafe. Aku menunggu disana."
...****************...
"Ayah dan Ibu hanya khawatirkan keadaan Ka Nia. Kalau Bimo sudah tumbuh dewasa, Bimo yang akan gantikan Ayah dan Ibu untuk menjaga Ka Nia," kata ibunya memulai percakapan. Bimo hanya tersenyum dan mengangguk.
"Apakah kamu bisa, Bimo ?" tanya ibunya lagi.
"Tentu saja, Bu. Ka Nia akan aman."
Ayah dan ibu tertawa kecil mendengar jawaban spontan dari putra semata wayang mereka.
"Pacar Ka Nia mengapa meninggal, Bu ?"
Bagai disambar geledek, ayah dan ibu mematung dan saling memandang satu per satu. Apa yang harus mereka katakan untuk menjawab pertanyaan anak yang masih berusia sepuluh tahun ini ?
"Bimo, hidup dan mati kita itu Tuhan sudah mengaturnya. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggal."
Dengan penuh hati-hati sang ibu dengan sabar berusaha menjelaskan kepada Bimo.
"Pacar Ka Nia meninggal karena kecelakaan," lanjut sang ibu.
"Kasihan Ka Nia, Bu. Bimo sering lihat Ka Nia memandang dan berbicara sendiri dengan foto pacarnya."
Ayah dan ibu menarik napas panjang mendengar apa yang baru saja dikatakan Bimo, putra mereka.
"Karena itulah Ayah dan Ibu khawatir,,, ."
"Khawatir itu apa, Bu ?" potong Bimo.
"Khawatir itu seperti takut, ragu, tidak percaya kalau Ka Nia bisa menghadapi ini sendirian."
"Kata Ka Nia, Ka Nia bisa, Bu."
"Hehehe, iya Nak. Ka Nia bisa menghadapi ini. Kita doakan yang terbaik untuk Ka Nia. Semoga Ka Nia baik-baik saja,"
"Amin."
__ADS_1
...----------------...
"Jangan lupa like, komentar dan vote ya. Performa karya ini diperoleh dari dukungan semua pembaca. Jangan lupa juga untuk mampir ke Seri Pertama Salam Terakhir ya. Like dan votenya jangan lupa untuk Seri Pertamanya. Tuhan-lah yang akan membalas semua kebaikan pembaca sekalian. Terima kasih seribu."