
Satu Tahun Kemudian
.
.
.
Suara sepeda motor memecah keheningan area kost Mike. Ia membiarkannya bunyi beberapa saat - memanasi mesinnya - kemudian beranjak pergi. Ia akan melaju bersama sepeda motornya menuju kostan Tania.
Mike dan Tania semakin dekat setelah beberapa bulan sering bertemu, selalu diantar pulang. Kesibukannya untuk mempersiapkan sidang skripsinya waktu itu memang membuatnya tidak bisa kemana-mana, barulah sekarang ia selalu punya waktu untuk berdua dengan Mike. Mereka sering bertemu setiap akhir pekan di taman, tempat biasa.
Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Tania menggantikan posisi Mega dan yang selalu menemani Mike disana. Mike menyadari bahwa ia memang menyukai gadis itu.
Dari setiap pertemuan, ia merasakan kenyamanan yang dirasakan Tania pada dirinya. Memang benar, Tania tak lagi malu-malu ataupun mengganggap setiap omongan Mike adalah rayuan semata.
"Tania, tolong kau jaga keselamatanmu untukku. Aku cuma bisa menjaga hatimu, bukan nyawamu," Mike pernah membisikkan kata-kata itu pada telinga Tania waktu itu ketika mengantarnya pulang.
Tania hanya tersenyum, mengangguk dan mengatakan terima kasih. Tak ada lagi kata-kata bahwa ia tak mudah untuk dirayu. Mike menyadari, Tania sudah mulai merasa nyaman tapi Mike belum menemukan kesempatan yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Tania.
Mike menghentikan sepeda motornya di depan barisan kamar kost-kostan tempat Tania tinggal. Hari ini ia dan Tania akan pergi bersama-sama dengan Kevin. Kevin menunggu mereka di sebuah cafe.
Disana Kevin akan mengungkapkan isi hatinya malam ini. Mike dan Kevin telah mengatur semuanya. Mike pun telah meminta Mega bahwa Mike ingin mengenali seseorang padanya dan Mega mengiyakan, tidak tahu bahwa Kevin akan menyatakan perasaannya malam ini.
Usaha Mike mengenalkan Mega kepada Kevin ternyata menumbuhkan cinta Kevin pada Mega setelah rasanya itu ia kubur dalam-dalam bersama luka yang ditinggalkan Cindy padanya.
Mereka sering bertemu setelah itu. Mega selalu mengunjungi Kevin sekaligus latihan untuk beberapa musikalisasi puisi mereka. Karena itu, taman tempat biasa Mike dan Mega berada disana kini telah digantikan oleh Tania. Sepulang dari kampus pun Mega selalu meminta untuk mengantarnya pulang ke kost.
Sesaat kemudian Tania keluar dari kamarnya. Mike terpukau sejenak memandang kecantikan Tania yang mengenakan dress berwarna biru tua, di lehernya melingkar kalung berwarna putih yang Mike berikan berapa bulan lalu di ulang tahunnya.
Tangannya menggenggam tas dompet modern seperti yang sering dibawa ibu-ibu sosialita ketika pergi arisan. Sepatu high hills berwarna coklat pudar menambah keanggunannya malam ini. Malam ini Mike akan mengenalinya kepada Mega dan Kevin.
"Tania, kau tahu ? Kamu cantik sekali malam ini, " pujinya setelah Tania mendekat. Tania hanya tersenyum malu-malu.
*****
Mike melebarkan tangannya meminta tangan Tania untuk merangkulnya kemudia menggandenginya. Mike melangkah dengan penuh percaya diri menggandeng gadis pujaannya yang sampai hari ini masih berstatus teman, belum jadi pacar.
Mike melangkah masuk ke dalam sebuah cafe, berjalan menuju anak tangga dan menaikinya menuju lantai dua. Tania hanya mengikutiku dari belakang. Langkah mereka seirama.
Tania bertanya-tanya dalam hatinya ia mau dibawa kemana karena Mike sama sekali tidak memberitahunya. Ia hanya tahu bahwa Mike ingin mengajaknya jalan-jalan.
Mike berjalan menuju meja paling pinggir. Disana sudah ada orang, Kevin dan Mega sudah menunggu.
"Hai, sudah lama menunggu ? Maaf kami terlambat," Mike menyapa Kevin dan Mega. Kevin dan Mega membalasnya.
Mata Mega langsung tertuju pada Tania. Ia tahu, inilah yang dimaksud Mike bahwa ingin mengenalkan sesorang.
"Hei, ada orang baru ?" Tanya Mega tiba-tiba. Mega dan Tania saling bersalaman satu sama lain. Mike mengambil posisi duduk di sisi yang lain. Mereka berempat mengitari satu meja.
"Ini temanku yang mau aku kenalkan pada kalian," kata Mike seketika setelah duduk sambil menyentuh lembut bahu Tania. Kevin dan Mega serempak memandangi Tania.
Mike langsung mengalihkan pandangannya tanpa menghiraukan Kevin dan Mega yang masih memandang ke arah Tania. Mereka bertanya-tanya siapa Tania.
__ADS_1
Mike memastikan persiapan yang sudah ia dan Kevin lakukan. Ada sebuah panggung kecil di pojok dekat meja saji. Mike melirik memberikan kode pada salah satu pelayan cafe dan ia mengangguk tanda semuanya sudah siap.
Kevin menyadari hal itu. Ia mundur, menyenderkan tubuhnya pada kursi lalu menarik napas dalam. Kevin mulai gugup.
Mike memberi kode memanggil salah seorang pelayan untuk memesan minuman. Dia menghampiri dan mencatat semua pesanan lalu kembali dan memberikan selembar kertas pada pelayan lainnya.
Orang itu membacanya sesaat sambil mengangguk, lalu menyiapkan minuman pesanan mereka lalu muncul lagi yang satunya mengambil dan mengantarkan pesanan itu.
Mike menendang kaki Kevin di bawah kolong meja. Kevin hanya tersenyum memandangi Mike.
"Silahkan diminum nona-nona," kata Mike menyilakan pada Mega dan Tania. Keduanya hanya mengangguk. Mereka diam. Tak satupun yang berbicara.
"Sudah lama berteman dengan Mike ?" Mega bertanya tiba-tiba pada Tania. Matanya tak memandang ke arah lain.
"Lumayan, hampir setahun lebih," jawab Tania sekenanya.
"Kamu temannya, aku sahabat dan juga saudarinya Mike," kata Mega lagi dengan nada sinis.
Mike dapat merasakan ada sesuatu yang dipikirkan Tania. Tania memang tampak bingung. Apa maksud Mega berkata demikian ?
"Tania, Mega ini teman, sahabat yang sudah seperti saudari bagiku. Kami berteman sejak pertama kali aku masuk kuliah. Dan ini Kevin, teman sekolah saya waktu masih di kampung," Mike berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mike takut perasaan Mega kumat dan menghancurkan rencana malam ini. Tania hanya tersenyum. Begitu juga Kevin. Dia memang seperti itu, hemat sekali berbicara.
Mereka diam beberapa saat sambil menikmati minuman masing-masing. Mike berpikir keras memikirkan bagaimana caranya agar Mega dan Tania bisa akrab meski baru pertama bertemu.
"Mega ini pandai merangkai kata-kata puitis. Semoga saja suatu saat nanti ia akan menjadi seorang penyair hebat," kata Mike lagi sambil memandangi Tania.
"Sedangkan Kevin, dia hebat dalam memainkan alat musik," katanya lagi sambil menenggak minumannya.
"Ya, dia nakal. Nakal sekali. Tetapi dia anak yang cerdas. Jadi aku pikir tidak apa-apalah jika ia nakal," jawab Kevin sambil tertawa.
"Tidak, itu tidak benar," sela Mike tiba-tiba.
"Aku tidak nakal, tapi aku suka jailin teman lain," ia terkekeh dan mereka bertiga pun ikutan terkekeh.
"Hobiku adalah suka menulis pesan cinta pada buku-buku tulis cewek di kelas kami dan menuliskan nama cowok yang paling mereka tak suka, " ia tertawa sendiri mengenang masa lalunya. Kevin pun ikut tertawa. Mega dan Tania hanya ikut-ikutan tertawa kecil.
"Aku rasa sekarang waktunya," Mike membisik di telinga Kevin sambil mencuri kesempatan ketika Mega dan Tania menenggak minuman mereka.
Kevin memahami apa yang dikatakan Mike. Ia memegang kerah bajunya, menelan air liurnya dengan cepat beberapa kali. Ia tampak gugup.
"Kamu masih kuliah atau sudah bekerja ?" tanya Mega tiba-tiba pada Tania. Mike menyadari hal itu. Semoga saja semuanya baik-baik saja. Ia tahu Mega memang sudah mengikhlaskannya, dan ini adalah bukti cintanya dalam bentuk lain, agar Mike tidak salah memilih kekasih.
"Aku masih kuliah, puji Tuhan sudah semester akhir," jawab Tania.
"Oh ya ? Kudoakan semoga lulus ya," sela Mega lagi. Ia tampak mulai tersenyum.
Mike memandang di sekitar dan tampak tak ada meja yang kosong. Mungkin karena ini akhir pekan sehingga banyak pengunjung. Beberapa pengunjung datang bersama dengan pasangan. Ada yang sendiri.
"Aku permisi sebentar ya," kata Kevin tiba-tiba sambil berdiri.
Mike mengangguk lalu pura-pura hendak mengajak Tania dan Mega untuk mengobrol mengalihkan perhatian mereka agar tak melihat Kevin naik ke panggung kecil yang telas disediakan di pojok sana.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara bunyi mic tapi aku berpura-pura tak menghiraukannya.
"Nanti lain kali kita jalan-jalan lagi ya, berempat," kata Mike berbasa-basi. Mega tersenyum seketika.
"Aku sih kapan saja bisa, tapi Tania sedang persiapan untuk skripsi," jawab Mega tenang.
"Hmmm, nanti aku kabarin apakah aku bisa atau tidak," Tania menimpali.
"Selamat malam untukmu semua, selamat menikmati akhir pekannya," suara Kevin terdengar di pengeras suara tapi suaranya dibuat serak agar Mega tak mengenalinya.
Kevin telah berdiri dengan gagah menyampaikan sesuatu. Suaranya gemetar karena gugup.
"Malam ini adalah kesempatan berharga dalam hidupku. Aku telah memikirkan ini dan memutuskannya bahwa lagu yang saya bawakan malam ini khusus kupersembahkan untuk seseorang yang telah menghadirkan kembali cinta dalam hidupku."
Kevin menarik napasnya dalam lalu menghembusnya perlahan agar tak kedengaran.
"Oh my God, Kevin. Apa yang dia lakukan ?" Tanya Mega seketika menyadari bahwa suara itu milik Kevin.
Mike melihat jelas ada bahagia terpancar di mata Mega. Mega membalikan badannya dengan cepat dan memangdang ke arah suara. Tania melirik ke arah Mike dan tersenyum terpukau dengan apa yang ia lihat. Mike hanya diam memandang reaksi mereka berdua.
Akhirnya, Kevin memberanikan diri untuk membuka hatinya yang telah lama tertutup rapat untuk siapapun. Mike hanya membisu. Terharu.
"Kevin, kamu luar biasa malam ini bro," gumamnya dalam hati, lalu melirik sepintas ke arah Tania yang juga mulai terbawa suasana.
"Aku telah lama menutup hatiku untuk siapapun. Tapi malam ini, dengan tak ada keraguan sama sekali aku akan mengatakan bahwa aku jatuh cinta lagi. Dan untuk kamu, setelah kunyanyikan lagu ini untukmu, kamu mendatangiku dan meraih tanganku jika kamu mau aku masuk ke dalam kehidupanmu. Aku telah mencintaimu sejak aku melihatmu."
Kevin dengan sangat percaya diri mengatakan semua itu. Ia memang sudah memutuskan dengan matang bahwa Mega telah membuatnya jatuh cinta lagi.
"Oh my God, Kevin," Mega menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar terpukau. Ia tidak percaya Kevin melakukan hal ini untuk menyatakan cintanya. Mega menoleh ke arah Mike dan memandangi Mike sesaat. Matanya tak bisa menutupi kebahagiaan yang ia rasaka.
"Dia mencintaimu, Mega," kata Mike pada Mega sambil mengangguk.
Nada piano mulai berbunyi mengisi ruangan cafe ketika Kevin mulai memainkan jemarinya menyentuk toots-tootsnya.
Kevin melantukan lagu Cinta Luar Biasa milik Andmesh Kamaleng. Sesekali ia memejam matanya, berusaha menyampaikan beberapa pesan lewat setiap kata yang ia nyanyikan.
Mega mulai menitikkan air mata bahagianya. Mike pun ikut lega, akhirnya Mega menemukan pria yang mencintainya dan menyatakan perasaannya di depan banyak orang.
Semua orang di dalam ruangan pun memandang ke arah Kevin. Ada beberapa orang mengeluarkan gudget mereka untuk merekam moment romantis itu.
Mike melirik ke arah Tania, memberikan senyum padanya. Tania membalas senyum Mike. Tania sudah sedari tadi terbawa suasana. Dalam hati kecilnya ia pun berharap bahwa suatu hari nanti Mike pun melakukan hal yang sama, bahkan melebihi ini.
Mega tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Kevin sebelum lagunya hampir selesai dinyanyikan. Kevin menyadarinya lalu melepaskan jarinya pada toots-toots piano ketika Mega telah berdiri di hadapanya. Ia sedikit memainkan ekor matanya, menutupi rasa gugup yang menguasai dirinya.
Kevin lalu memberikan tangan hendak menggenggam tangan Mega. Mega membiarkan Kevin meraih tangannya lalu mendaratkan ciuman lembut pada punggung tangan Mega.
"Aku mencintaimu. Maukah engkau menjadi kekasihku ?" Tanya Kevin setelah mencium tangan Mega. Mega hanya diam dan mengangguk setuju. Ia tak bisa berkata apa-apa.
Mike dan Tania berdiri dan berjalan menghampiri mereka. Semua orang yang ada di ruangan cafe memberikan tepuk tangan. Mike dan Tania memberikan salam pada mereka berdua dan mereka berpelukan.
"Aku ikut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Kevin."
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
__ADS_1
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati.🌹