
"Aku dan nafasku merindukanmu."
.
.
.
.
Mike telah siap di meja piket. Ia berusaha melupakan segala permasalahan pribadinya yang sedang menghantui pikirannya saat ini agar mampu fokus pada pekerjaannya hari ini.
Waktu baru menunjukan tepat pukul 10.35 ketika suara seorang gadis menyapa Mike yang sedang berjalan mengantarkan seorang tamu hotel ke meja resepsionis.
"Mike,,,"
Langkah Mike terhenti seketika. Ia menoleh ke belakang dan matanya membelalak tak percaya.
"Maaf pak, resepsionisnya disana. Saya sampai disini saja ya," kata Mike tiba-tiba kepada seorang tamu yang sedang ia temani menuju meja resepsionis.
"Terima kasih," jawab tamu itu singkat.
Mike membalikan badannya dan berjalan pelan menemui gadis yang masih berdiri menunggunya.
"Hay, apa kabarmu ? Kamu sibuk ?" tanya gadis itu cepat.
Mike masih membisu. Ia masih belum percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Gadis itu benar-benar ada di hadapannya saat ini.
"Oh, hay. Aku baik," jawab Mike setengah gugup sambil mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan gadis itu.
Mike membisu, demikian juga gadis itu. Mereka hanya beradu pandang. Tampak raut wajah gugup menguasai Mike. Ia jadi salah tingkah. Baru kemarin ia berjanji untuk tidak lagi berhubungan dengan gadis masa lalunya itu namun pagi ini, gadis itu berdiri lagi tepat di hadapannya.
"Ada apa denganmu, Mike ? Kamu takut bertemu denganku ?" tanya gadis itu membuyarkan lamunan Mike.
"Oh, tidak. Hehehe," jawab Mike sekenanya. Tak bisa dipungkiri, ia gugup.
"Aku ada urusan kerja disini jadi aku kembali."
Laura menatap Mike tajam. Kalimatnya jelas. Seketika jantung Mike berdegup sangat kencang.
"Kenapa harus disini lagi ?" gumam Mike dalam hatinya sambil berusaha terlihat santai di hadapan Laura.
"Maaf, aku harus kembali kesana. Selamat datang kembali di hotel kami dan selamat bertugas," ucap Mike lembut sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah meja piketnya.
Laura hanya diam menatap Mike. Tak satu pun kata yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi perkataan mantan kekasihnya itu.
"Mike,,,"
Langkah Mike terhenti ketika baru berjalan beberapa langkah meninggalkan Laura. Ia menoleh dan menatap kembali wajah Laura. Jantungnya lagi-lagi berdegup sangat kencang.
"Jangan menghindariku. Maukah kamu menjadi sahabtku ?"
__ADS_1
Laura langsung membalikan badannya dan berjalan memasuki hotel, meninggalkan Mike yang masih kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar. Laura tak menunggu jawaban dari Mike.
Tania telah mengetahui hubungannya dengan Laura, juga tentang pertemuan mereka di hotel ini. Ia telah berjanji untuk tidak lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya itu namun apa yang saat ini terjadi di hadapannya memaksa dirinya untuk harus melakukan sesuatu agar ia tak lagi menemui gadis masa lalunya itu.
"Aku harus izin cuti beberapa hari selama Laura berada disini," gumamnya.
* * * * *
Mike merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Bayangan wajah Laura dan juga Tania hadir bergantian mengisi pikirannya.
Tantangan terberat dalam hidupnya untuk saat ini ialah sosok Laura yang tiba-tiba hadir kembali di hadapannya. Ia telah berjanji untuk memutuskan hubungannya dengan Laura demi menjaga perasaan Tania.
Ia membolak-balikkan badannya - gelisah, memikirkan apa yang saat ini menantangnya.
"Aku harus menemui Tania sekarang juga," gumamnya seketika.
Mike meraih handphonenya, memainkan jarinya sesaat pada layar handphonenya lalu beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Ia telah mengirimkan pesan whatsapp kepada Laura untuk bertemu dengannya.
"Aku dan nafasku merindukanmu. Aku ingin menemuimu.Aku akan menjemputmu beberapa menit lagi."
Mike telah bersiap-siap meninggalkan halaman kostnya, mengendarai sepeda motornya menuju kediaman Laura.
Sejenak tak ada bayangan gadis masa lalunya itu. Yang ia pikirkan saat ini ialah fokus memperbaiki hubungannya dengan Tania.
Tania telah menunggunya disana ketika Mike tiba di depan kostnya. Tak mau berlama-lama disitu, mereka langsung beranjak menuju taman tempat biasa - saksi bisu segala kisah cinta mereka.
Disana - masih di bangku yang sama - Mike dan Tania duduk berhadapan. Seperti sudah ada yang mengatur, setiap kali mereka berkunjung ke taman, bangku yang mereka sering duduki selalu kosong.
"Menurutmu ?"
Mike hanya diam menatap wajah Tania. Perlahan, ia meraih tangan Tania lalu menggenggamnya dengan mesra.
"Maafkan aku, Tania,,,"
"Aku sudah memaaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maafnya. Jangan katakan itu lagi," potong Tania cepat.
Mike hanya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang hubungan kita. Aku ingin segera menikahimu," kata Mike cepat dengan nada penuh semangat.
Tania hanya diam, lalu tertawa sinis.
"Jangan terburu-buru," ucap Tania lembut sambil tertawa.
"Aku sedang tidak bercanda. Aku meminta maaf atas kesalahanku namun katamu sudah memaafkanku. Lalu apa lagi ? Aku tak mau kita hanya sebatas berpacaran. Aku ingin memilikimu."
Mike terdengar blak-blakan namun apa yang ia katakan benar-benar serius dari dalam hatinya.
"Kamu baik-baik saja, bukan ?" tanya Tania tajam.
"Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Mereka diam seketika. Tania menatapnya tajam, Mike tampak gugup dengan tatapan Tania.
"Aku pun ingin menjadi milikmu, Mike. Tapi aku merasa kamu terlalu terburu-buru. Kita baru beberapa bulan menjalin hubungan ini,,,"
"Kamu mencintaiku, bukan ?"
"Ya, aku mencintaimu,,,"
"Lalu, apa yang kamu takutkan ?"
Tania menarik napasnya lalu perlahan menghembuskannya. Ia tampak sangat tenang, berbeda dengan Mike yang tampak gusar dan menggebu-gebu.
"Hidup berumah tangga bukan hal mudah. Kita masih sama-sama muda. Fokuslah dulu pada apa yang ingin kita capai saat ini. Jika kamu ditakdirkan untuk menjadi milikku, kamu tidak akan menjadi milik orang lain," jelas Tania dengan tenang.
Mike menunduk perlahan, tangannya ia lepaskan dari tangan Tania lalu berpura-pura memainkan rambutnya.
Ia menyadari saat ini ia berada dalam situasi batin yang tidak tenang. Laura kembali dan menginap di hotel tempat ia bekerja ketika ia telah berjanji untuk menjauhi Laura dan fokus memperbaiki hubungannya dengan Tania.
Tania hanya tersenyum melihat perubahan yang terjadi pada Mike. Ia mengejek dan mengajak Mike untuk bercanda. Ia tahu kekasihnya itu sedang dalam suasan batin yang lagi kacau.
"Apakah karena kamu masih merasa bersalah padaku sehingga kamu melakukan ini ? Aku baik-baik saja, Mike. Asalkan kamu berjanji untuk tidak mengecewakanku," batin Tania.
"Bagaimana kabar ibu ?" tanya Tania berusaha mencairkan suasana hati Mike.
"Puji Tuhan, ibu sehat. Ia menunggu menantu dan cucu, hehehe," sahut Mike dengan nada bercanda. Tania pun ikut tertawa.
"Sebentar lagi kuliahku akan selesai, Mike. Bulan depan aku sidang skripsi."
"Oh, ya ? Sukses ya. Secepatnya agar aku segera melamarmu," sahut Mike cepat. Tania hanya tertawa kecil.
"Mike, apakah kamu serius ingin cepat-cepat bersama denganku ?"
Tania mulai yakin bahwa Mike sedang tidak bermain-main - sudah berulang kali ia mengatakan hal yang sama. Tania mencoba memastikan lagi, apakah karena suasana hatinya yang sedang kacau ataukah Mike benar-benar ingin memiliki dirinya sepenuhnya.
"Apakah aku terlihat sedang bermain-main ?" tanya Mike tajam.
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu ?" Tania balik bertanya.
"Gampang, tenang saja. Setelah memilikimu aku akan melanjutkan kuliahku lagi."
Tania lalu diam. Ia mulai yakin Mike benar-benar serius ingin memilikinya sepenuhnya.
"Setelah wisudamu, minta orang tuamu tetap disini. Aku akan menelepon ibuku untuk datang dan kita akan menikah disini. Setelah itu, kamu mencari pekerjaan dan aku akan terus bekerja sambil melanjutkan kuliahku."
Tegas. Jelas. Perkataan Mike sungguh jelas dan tegas. Bagi Tania, kedengarannya akan seperti sebuah pembuktian bahwa Mike adalah tipe lelaki tegas dan bertanggungjawab namun sesungguhnya, Mike sedang berusaha menyembunyikan suasan hatinya saat ini.
Apa yang ia katakan memang benar bahwa ia menginginkan Tania namun di hati kecilnya, hadirnya Laura membuatnya tidak tenang. Ia memilih merahasiakan hal itu kali ini. Ia tidak akan memberitahu Tania bahwa ia akan libur selama beberapa hari kedepan.
Yang Mike pikirkan saat ini ialah menebus kesalahannya dan berusaha meyakinkan Tania.
🌼Terima kasih pembaca setia Salam Terakhir. Like, vote dan dukung terus karya ini ya dan jangan bosan menunggu. Tuhan memberkati. 🌼
__ADS_1