SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 43


__ADS_3

"Jika semesta mengizinkan, aku ingin akulah satu-satunya yang akan memilikimu. Lalu bersamamu, aku akan menaklukan dunia"


.


.


.


Mentari merekah di ufuk barat. Waktunya hampir selesai karena sebentar lagi gelap akan merenggut terangnya. Perlahan-lahan ia bergerak kembali ke peraduan. Sedangkan dua remaja yang sedang kasmaran, sedari kemarin masih belum mengikhlaskan untuk saling pergi walau hanya sesaat.


Mega masih bertahan di kostan Kevin. Sebenarnya ia ingin kembali ke kostnya agar lebih leluasa untuk beristirahat. Berdua bersama seorang lelaki yang adalah kekasihnya, jangankan semenit, sedetik pun ia tak sanggup untuk terlelap.


Jantungnya selalu saja berdegup kencang bila Kevin mendekapnya erat, mengajaknya berbaring lalu saling beradu pandang dengan jarak yang teramat sangat dekat.


Berulang kali Kevin membelai rambut kekasihnya, Mega. Dan berulang kali pula Mega memejamkan matanya, merasakan kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan bila berada di dekat Kevin. Ia menyadari, kini cintanya telah utuh hanya untuk Kevin seorang.


"Kamu cantik," bisik Kevin lembut. Tangannya membelai mesra pipi Mega.


"Terima kasih telah menjadikan aku kekasihmu," lanjut Kevin lagi.


Mega hanya membisu menatap lekat mata kekasihnya.


"Dulu aku pernah sangat mencintai seseorang. Aku mempercayainya namun aku tak tahu, bahwa dia ternyata menduakanku. Aku menutup pintu hatiku untuk gadis lain,,,"


Kevin terdiam sejenak, tak melanjutkan kata-katanya. Ia meraih tangan Mega, lalu menciuminya. Lembut sekali.


"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, rasa cinta yang telah lama hilang itu kembali dan menggiringku untuk memberanikan diriku agar menyatakannya padamu," lanjut Kevin membisik lembut.


Mega hanya diam. Sedari tadi ia belum mengatakan apapun. Cinta memang tak harus dikatakan. Kevin pun pasti merasakannya walau Mega tak mengatakan itu lagi. Berada bersamanya sejak kemarin, lalu pagi tadi ketika kamar mandi menjadi saksi untuk pertama kalinya Mega menyerahkan bibirnya kepadanya, tentu saja ia tahu Mega kini berharap banyak pada cintanya.


"Terima kasih, Mega. Engkau telah menyembuhkan lukaku yang pernah ada...."


"Jika semesta mengizinkan, aku ingin akulah satu-satunya yang akan memilikimu. Lalu bersamamu, aku akan menaklukan dunia," sambar Mega sehingga lelaki itu tak dapat melanjutkan perkataannya.


Kevin menatap tajam mata Mega, memainkan bola matanya memandangi wajah Mega lalu dengan lembut meraih dagu Mega dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Mega.


"Aku tak perlu harus mengatakannya lagi. Aku aminkan apa yang menjadi doamu. Aku ingin mati di sisimu," ucap Kevin lembut.


Mega masih memejamkan matanya. Kevin melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya dan memeluk erat Mega. Mega kini lupa bahwa ia ingin sekali pulang ke kostnya agar bisa beristirahat lebih banyak - besok ia harus ke kampus seperti biasanya. Apalah daya, ia kini terjebak dalam pelukan hangat Kevin, kekasihnya.

__ADS_1


* * * * *


Mike kini tengah berbaring di ranjang setelah seharian penuh bekerja menggantikan rekannya yang telah menggantikannya kemarin.


Baru saja hampir satu jam lebih ia mengobrol dengan Tania yang meneleponnya - katanya Tania merindukannya.


Ya, apakah ada lagi yang lain selain rindu jika kamu dan dia menyadari bahwa jarak sedang memisahkan kalian ?


Tania masih merasa terkesan dengan apa yang sudah Mike berikan di hari ulang tahunnya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah berdua, duduk di hadapan kekasihnya, menatap wajah kekasihnya lalu mendengar kekasihnya itu mengatakan 'aku mencintaimu.'


Begitu juga Mike, lelah yang ia rasakan seharian terbayar lunas setelah mendengar suara lembut Tania, canda dan tawa gadis yang baru kemarin menjadi kekasihnya, yang sesekali di sela-sela percakapan selalu memotong pembicaraan Mike hanya untuk mengatakan rindu dan cinta.


"Kamu pun mungkin demikian jika sedang kasmaran, bukan ?"


Mike hendak meletakkan kembali handphonenya setelah Tania mematikan telepon. Besok ia harus bangun pagi karena ada jadwal kuliah. Kantuknya tak bisa lagi ia tahan namun tiba-tiba handphonenya kembali berdering.


Ia meraih kembali handphonenya dan melirik layar androidnya - ia mendapati nama Laura tertera pada layar handphonenya. Gadis itu meneleponnya.


Tak ada niat dalam hatinya untuk mengabaikan telepon dari gadis itu. Ia telah lama mengikhlaskan mantan kekasihnya itu dan kini Laura hanya sebagai teman baginya.


Kenangan bersama gadis itu pun tak selalu ia kenang, toh semuanya sudah berlalu sehingga Mike menjawab telepon dari mantan kekasihnya itu.


"Halo, Mike. Apakah aku mengganggumu ?" tanya Laura dari seberang.


"Sedikit, tidak banyak. Hehehe," jawab Mike mengajak bercanda.


"Maaf jika mengganggumu, Mike. Aku hanya mau bilang, sepertinya aku hamil," ucap Laura pelan namun tegas, jelas terdengar di telinga Mike.


"Kamu sedang bercanda, bukan ?" tanya Mike tajam.


Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Apa yang baru saja ia dengar seolah-olah mengejarnya dan mengajaknya berlari di siang bolong.


Tania baru saja mengatakan kerinduan pada dirinya namun kini ia harus mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Dan bila saja hal itu benar-benar terjadi, bagaimana dengan perasaan Tania yang baru satu hari menjadi kekasihnya ?


"Entahlah, tapi aku sudah telat datang bulan, Mike," jawab Laura cemas.


Mike semakin tak karuan. Ia berperanh hebat melawan ketakutan dalam dirinya. Yang ia takutkan adalah perasaan Tania, bukan yang lain. Toh ia tak akan bisa mengelak karena ia memang pernah bertemu dengan Laura di hotel tempat ia bekerja sebagai security.


"Kamu serius, Laura ?" tanya Mike lagi.

__ADS_1


"Maksudku, mungkin saja kamu hanya belum waktunya untuk datang bulan," lanjut Mike lagi. Tak bisa dibohongi, suaranya mulai terdengar gemetar.


"Semoga saja di pertengahan bulan aku datang bulan jika awal bulan ini tidak. Aku hanya mau mengabarimu agar nanti kamu tidak kaget lagi jika itu benar-benar terjadi, Mike. Maafkan aku," jelas Laura yang masih dikuasai rasa cemas.


"Baiklah. Semoga saja tidak, Laura. Aku harap kamu mengerti," kata Mike memohon.


"Aku bukan bermaksud lari dari tanggung jawab jika itu benar terjadi, namun aku takut ini akan melukai perasaan orang lain. Maksudku aku sudah memiliki kekasih," lanjut Mike lagi.


"Ya, Mike. Aku mengerti. Maafkan aku," sahut Laura lembut.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu ?" tanya Laura cepat.


"Katakan saja, Laura," jawab Mike.


"Aku merindukanmu," kata Laura berbisik namun terdengar jelas di telinga Mike.


Mike terdiam membisu, menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan.


"Apakah kamu bersedia menerimaku jika aku benar-benar hamil, Mike ?" tanya Laura mengagetkan Mike.


"Aku tidak akan lari dari tanggung jawab, Laura," jawab Mike sekenanya setelah lama terdiam.


"Bahkan aku seorang janda ?"


Duuukkkkk. Seperti ada sesuatu yang menghantam tepat di dada Mike. Pertanyaan itu, apakah harus membedakan status seseorang jika cinta menuntunmu kesana ? Apa kuasamu ?


"Siapapun kamu, aku akan menerimamu," jawan Mike setelah lama terdiam.


"Laura, aku berharap kamu benar-benar memastikannya," ucap Mike cepat.


"Aku akan mengabarimu lagi, Mike. Semoga ini hanya perasaanku saja. Fokuslah pada kuliahmu, Mike," kata Laura lembut.


Mike membisu kembali. Pikirannya kembali tertuju pada Tania, kekasihnya. Ia memikirkan perasaan Tania sampai-sampai perkataan Laura terakhir tak ia dengar lagi.


Ia meletakkan handphonenya lalu menatap kosong pada langit-langit kamar. Pikirannya kembali menerawang jauh - memikirkan ibunya, memikirkan Tania, memikirkan kuliahnya.


"Semoga Laura hanya telat datang bulan, tidak hamil," gumamnya dalam hati lalu mencoba memejamkan mata.


🙏 TERIMA KASIH MASIH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN KISAH CINTA MIKE DAN TANIA. DUKUNG TERUS "SALAM TERAKHIR" 🙏

__ADS_1


__ADS_2