
"Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Menualah bersamaku."
.
.
.
Mike masih diam di posisinya. Wajahnya sangat jelas menampakkan rasa gugup. Kevin hanya tersenyum memandangi sahabatnya itu. Tapi tidak bagi Mega, ia sama sekali tak menganggap itu sebagai lelucon. Ia justru penasaran - menunggu apa yang akan Mike lakukan setelah itu.
Mega tahu lelaki itu benar-benar menginginkan Tania untuk menjadi kekasihnya, tidak seperti dirinya yang pernah memaksakan kehendaknya namun Mike hanya sanggup mencintainya sebagai sahabat dan saudari.
Lelaki pekerja keras, mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya, itulah yang pernah menjadikan Mega seperti orang gila yang mengejar-ngejar Mike.
Tania beruntung, ia harus bersyukur. Semoga mereka bahagia.
Tania keluar dari kamar dengan wajah masih menampakan kebahagiaan. Ia duduk disamping Mega dan lagi-lagi memeluk Mega untuk kesekian kalinya.
"Terima kasih ya, kalian sahabat terbaik yang aku punya sekarang. Semoga kita tetap seperti ini ya," kata Tania memecah keheningan.
Mega dan Kevin hanya tersenyum. Mike masih diam di posisinya.
"Maaf, disini tak ada apa-apa. Ibu masak nasi kuning, apakah kalian sudah makan ?" Tanya Tania pada teman-temannya.
Uppss, Mike juga masih temen loh, belum resmi berpacaran.
"Tak perlu repot-repot Tania. Kami hanya datang menemui saja. Tetap semangat ya disini, semoga penelitianmu berjalan lancar. Jangan lupa pulang, ada yang menunggu di Jakarta," kata Mega sambil mengedipkan mata ke arah Mike.
Tania hanya tersenyum. Ia benar-benar merasa bahagia dengan kedatangan Mega dan teman-temannya. Ia tak menyangka mereka memberikan kejutan ini padanya.
"Terima kasih," kata Tania singkat sambil memeluk Mega kembali.
"Kalian masih mau duduk atau langsung pulang ? Perjalanan kalian masih jauh. Maksudku, aku tak menyuruh kalian untuk cepat-cepat pulang, aku masih ingin bersama kalian tapi kita tak bisa kemana-mana, disini saja tak apa-apa..."
"Boleh jalan-jalan ke kebun teh ?"
Mike menyambar cepat ketika Tania belum mengakhiri perkataannya. Tiga pasang mata memandang bersamaan ke arahnya. Mike menatap tajam Tania.
"Boleh ? Aku izin ibu ya ? " Tanya Mike lagi.
Tanpa menunggu jawaban Tania, Mike berdiri dan menuju ke dapur, meminta izin ibu.
__ADS_1
"Sok wae, eneng tahu tuh jalan kesana," jawab ibu Icha mengizinkan.
Tania tersentak gugup. Jantungnya berdegup kencang setelah mendengar jawaban ibu Icha.
Ini kah waktunya ? Sudah siapkah aku ? Oh my God !!!
Tania berdiri dan berlari kecil menuju dapur, berusaha tak memperlihatkan rasa gugupnya. Mike muncul dari sana dan memberi jalan kepada Tania ketika berpapasan. Mike lalu mendekati Mega dan Kevin.
"Bro, apakah Tania menerimaku ?" Tanya Mike pada kedua sahabatnya.
"Sudah kukatakan, percayalah pada hatimu, Mike, " jawab Mega santai. Kevin menepuk pundak Mike.
"Ayo, aku tunjuk jalannya," kata Tania seketika setelah muncul dari dapur.
"Aku ambilkan dulu jaketku, udaranya dingin apalagi sore begini," lanjutnya sambil masuk ke kamar.
Mike keluar terlebih dahulu setelah berteriak kecil berpamitan pada ibu Icha yang berada di dapur. Mega dan Kevin mengikutinya.
Tania pun keluar dari dalam kamar dan menyusuli mereka. Ia telah mengenakan sebuah jaket berwarna hitam.
Mike tampak tenang, melayangkan pandangan jauh kedepan. Ia merentangkan tangannya seolah-olah ingin menyatu dengan alam di sekitarnya.
"Semesta, restui aku," ia membatin.
Kevin dan Mega berada di depan, mengambil jarak sedikit menjauh dari Tania dan Kevin. Mega tak henti-hentinya mengabadikan moment indah mereka.
Mereka berpelukan sambil berfoto. Sesekali mereka tertawa. Mereka tampak sangat bahagia sendiri, tak mempedulikan Mike dan Tania.
Mereka kini berada di tengah-tengah sebuah perkebunan teh yang begitu luasnya. Tak ada pohon-pohon lain, hanya ada rumput-rumput liar , sisanya adalah pohon teh.
Tingginya hanya sepinggang, merata seluruhnya memenuhi dataran miring di bawah kaki gunung.
Ada sebuah pabrik susu yang masih baru dan itu letaknya di pinggir kampung, membatasi perkebunan teh dan perkampungan.
"Kamu tidak merasa dingin ?" Tanya Tania seketika, memulai percakapan. Mereka sudah diam sepanjang jalan hingga tiba di perkebunan teh.
Sedangkan disana, di baris sebelahnya Mega dan Kevin sedang menikmati pemandangan. Mereka asyik berfoto tanpa menghiraukan Tania.
"Dingin, tapi tidak apa-apa. Ada yang akan menghangatiku," jawab Mike sekenanya tanpa memandangi Tania.
Aku berharap itu menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Aku harap itu bukan rayuanmu," kata Tania, ia tak gugup lagi. Malah ia sedang berusaha memancing agar Mike memandanginya.
Sedari tadi, Mike terus saja memandangi sekelilingnya, sesekali memainkan ujung jari-jarinya menyentuh daun-daun teh, lalu merentangkan kedua tangan - entah apa yang ia lakukan.
"Apakah semua yang kukatakan selama ini masih kamu anggap rayuan ?"
Dukk, jantung Tania berdegup hebat. Mike tiba-tiba memalingkan wajahnya, menghentikan langkahnya hingga ia berdiri tepat di depan Tania, lalu menatapanya tajam. Jarak mereka hanya lima senti.
Tania mematung seketika, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Mike begitu dekat dengannya. Selama pertemuan mereka, baru kali ini Mike sedekat ini.
"Katakan padaku Tania, apakah semua yang pernah kukatakan itu kamu anggap rayuan ?" Tanya Mike lagi.
Matanya, uhhh. Siapapun gadis yang kini berdiri di hadapannya pasti merasakan hal yang sama seperti Tania.
Bila saja kamu adalah kekasihku, sudah kueratkan pelukanku pada pinggulmu lalu aku akan membisikkan kata paling cinta: aku mencintaimu.
Tania membisu, tak mampu mengatakan apa-apa saat ini.
Mike tak menghiraukan Tania yang masih menggantungkan jawabannya. Ia membalikkan badannya. Tania akan terus mematung jika aku tetap menatapnya, pikirnya.
"Tempatnya indah ya. Suasananya sejuk, tenang. Tak ada suara berisik."
Tania masih belum menjawabnya. Gadis itu berusaha tetap tenang dan berjalan lagi mengikuti langkah Mike.
"Tania, mendekatlah," pinta Mike tiba-tiba dan menghentikan langkahnya.
Lagi-lagi Tania gugup tak karuan namun berusaha menyembunyikan itu. Ia memberanikan dirinya melangkah mendekati Mike dan berdiri di samping lelaki itu. Mereka menatap lurus ke depan memandangi gunung yang kokoh berdiri di hadapan mereka.
"Maaf, aku tak memberimu apa-apa di hari ulang tahunmu," kata Mike pelan.
Tania menarik napas dalam, lalu menghembusnya. Di hadapan mereka, tampak jelas awan yang perlahan-lahan bergerak menyelimuti gunung sehingga membuat udara sore itu semakin dingin.
"Aku tak mengharapkan hadiah darimu, Mike. Kalung pemberianmu masih aku pakai sampai saat ini. Aku bahagia, tak menyangka ternyata kamu menjawabi tantanganku," jawab Mega tenang.
"Aku melakukannya untukmu,Tania. Sekali lagi selamat ulang tahun ya. Semoga Tuhan selalu melimpahi berkat-Nya padamu. Semoga di usia yang kini bertambah, kamu semakin dewasa dan semoga semua impianmu dapat terwujud," lanjut Mike.
Impian yang belum terwujud adalah menjadi kekasihmu, Mike.
Tania memalingkan wajahnya, lalu memandangi Mike yang lagi-lagi merentangkan kedua tangannya seolah-olah ingin menyatukan dirinya dengan alam.
Ia memandangi lelaki yang sudah menghadirkan kenyamanan dalam dirinya akhir-akhir ini ketika ia berada di dekat lelaki itu.
__ADS_1
🌼 Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan kisah Mike dan Tania. Dukung terus karya ini dengan like dan vote serta kritikan yang membangun. Tuhan memberkati. 🌼