
"Setelah ini akan ada apa lagi ? Apakah kamu berpikir aku akan menyerah ? Tidak. Aku katakan itu tidak akan terjadi karena aku telah mencintaimu dengan sungguh."
.
.
.
Tak ada percakapan sepanjang jalan. Pun tak ada pelukan seperti biasanya dari Tania. Ia duduk menjauh, mematung dan memilih diam tanpa kata di belakang kekasihnya.
Mike fokus mengendarai sepeda motornya namun pikirannya tak tentu arah, ia ketakutan dan menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah ini ketika mereka tiba di kost Tania.
Semuanya sudah jelas. Harusnya tak ada lagi ketakutan dalam diri Tania bahwa ia akan kehilangan Mike. Mike telah dengan berani mengatakan pilihannya dan itu adalah pilihan yang tepat.
"Lebih baik mencintai seseorang yang mencintaimu daripada harus mencintai seseorang yang belum tentu mencintaimu."
Mike menghentikan sepeda motornya. Tania turun dari sepeda motor dan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Namun di dalam hatinya, ia berharap Mike mencegahnya.
"Tania, tunggu."
Tania berhenti dan menoleh ke arah Mike. Apa yang ia harapkan benar-benar terjadi, Mike menahannya.
"Parkir sepeda motormu dan masuklah," pinta Tania tegas. Mike hanya diam dan menuruti perintah Tania. Ia tak peduli apakah ia bisa masuk ke dalam dan Tania akan mendapat teguran karena membiarkan dirinya masuk ke dalam kamar kostnya.
Tania membukakan pintu lalu membiarkan Mike masuk terlebih dahulu dan dengan segera ia menutup pintunya.
"Apakah aku boleh masuk disini ? Kamu akan dimarahi,,,"
"Aku tidak peduli," potong Tania cepat.
Tania meletakkan tasnya lalu berdiri di hadapan Mike. Ia menatap mata Mike dengan sangat tajam. Mike hanya diam melihat tingkah Tania yang tiba-tiba menjadi sangat berani.
__ADS_1
"Setelah ini akan ada apa lagi ? Apakah kamu berpikir aku akan menyerah ? Tidak. Aku katakan itu tidak akan terjadi karena aku telah mencintaimu dengan sungguh," kata Tania dengan lembut lalu memeluk Mike dengan sangat erat.
Mike tak percaya dengan keberanian Tania namun perlahan, ia pun membalas pelukan kekasihnya itu. Ia membiarkan Tania mencurahkan semua isi hatinya lewat pelukannya lalu dengan lembut ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di kepala Tania.
Tania mengangkat kepalanya, menatap Mike lalu memukul pelan dada kekasihnya.
"Aku mencintaimu, Mike."
Mike masih diam tak membalas satu kata pun. Ia menatap tajam ke dalam mata kekasihnya. Tangannya bergerak cepat membelai rambut Tania, dan sekali lagi mendaratkan sebuah ciuman mesra namun kali ini tepat di bibir kekasihnya.
Tania mendesah pelan. Mike dapat merasakan debaran jantung kekasihnya, juga cengkraman Tania di lengannya.
"Aku tidak bermain-main dengan hubungan ini, Tania. Aku menginginkanmu."
Tania menitikkan air matanya - terharu - setelah mendengar sekali lagi pengakuan Mike.
"Aku telah mengikhlaskanmu, Laura. Biarkan aku memilih sendiri siapa yang akan menemaniku nanti. Jangan memaksaku untuk mencintaimu lagi. Aku tidak ingin meninggalkan Tania. Aku mencintainya."
Perbedaannya mungkin karena Laura telah meninggalkan Mike tanpa pesan. Namun hal itu tidak menghilangkan rasa cinta Laura pada dirinya. Bertahun-tahun ia memendam rasa itu sendirian hingga ia tanpa sengaja kembali bertemu dengan Mike.
Mereka pun membuktikan perasaan yang mereka miliki bahwa mereka masih saling mencintai. Pertemuan mereka beberapa bulan lalu sudah bisa menjawab semuanya.
Namun Mike melakukan semua itu karena terpaksa. Ia tak bisa menahan dirinya ketika berada berdua dengan Laura di dalam kamar tempat Laura menginap. Laura mungkin saja tulus melakukan itu karena ia masih nenginginkan Mike.
"Maafkan aku, Laura. Kamu harus bisa melupakan diriku. Aku tak bisa kembali dan masuk ke dalam kehidupanmu lagi..."
"Apakah karena aku seorang janda beranak satu ? Mike, aku rela mengambil keputusan untuk meninggalkan suamiku lantaran ingin menebus semua kesalahanku padamu. Aku mencarimu. Aku menunggumu. Pertemuan kita disini beberapa bulan lalu bagiku adalah sebuah rencana indah dari Tuhan. Aku pikir aku akan kembali memilikimu sehingga aku dengan berani memberikan diriku padamu."
Tania masih terus membayangkan apa yang terjadi di pertemuan mereka barusan. Ia tak menyangka Laura dengan berani mengatakan semuanya di hadapannya. Ia tahu Laura masih memiliki keinginan yang sangat besar untuk mendapatkan Mike kembali.
"Lupakanlah, Laura. Kamu harus bahagia dan menerima semua kenyataan ini bahwa kamu dan aku bukan ditakdirkan untuk saling memiliki. Aku tak akan mengubah pilihanku dan aku tidak akan bermain-main dengan hubunganku saat ini bersama Tania."
__ADS_1
Lagi-lagi Tania menitikkan air matanya - membayangkan kembali kata-kata Mike yang dengan penuh keyakinan memilih dirinya. Ia menyenderkan kepalanya ke dada bidang Mike. Kedua tangannya merangkul dengan erat tubuh Mike.
"Terima kasih telah membuktikan cintamu padaku, Mike."
Mike sama sekali tidak mengatakan apapun. Ia membiarkan Tania memeluk dirinya degan sangat erat. Tangannya membelai lembut rambut Tania yang terurai ke belakang.
"Aku mencintaimu, Mike. Aku mencintaimu," kata Tania sekali lagi. Dengan spontan, Mike menyeka air mata Tania yang membasahi pipinya. Lalu sekali lagi ia mendaratkan sebuah ciuman di kepala gadis itu.
Tania mendongakkan kepalanya dan dengan manja menatap mata Mike.
"Jangan tinggalkan aku, Mike."
Masih dengan sikap yang tenang dan tak mengatakan apapun, Mike menunduk dan mencium bibir Tania. Tania tak mengelaknya. Ia membiarkan Mike melakukan itu lalu perlahan ia pun membalas ciuman Mike.
Cengkeraman Tania semakin kencang di lengan Mike, sapuan napas Tania jelas terasa, ditambah lagi desahan lembut Tania membuat Mike semakin tak bisa menahan dirinya.
* * * * *
Mike meletakkan handphonenya lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia membayangkan kembali semua yang telah terjadi hari ini. Sejenak terlintas di benaknya sosok gadis masa lalunya, Laura, yang dengan sangat berani datang kembali demi dirinya.
Ia tak tega meninggalkan Laura dan sama sekali tak ada maksud untuk melukai perasaan gadis itu. Apa yang Laura rasakan saat ini adalah kesalahan dirinya sendiri. Sakit hati yang Laura rasakan saat ini tidak sesakit apa yang Mike rasakan waktu itu ketika Laura meninggalakn dirinya tanpa pesan dan menikah secara paksa dengan anak orang kaya.
Bertahun-tahun ia berusaha untuk melupakan Laura namun waktu mepertemukan mereka kembali dengan tak disengaja.
"Mike, maukah engkau bersahabat denganku ?"
Pertanyaan Laura itu masih jelas menghantui pikiran Mike. Sama sekali ia tak membenci gadis itu. Ia menghentikan langkahnya ketika Laura dengan tiba-tiba menanyakan itu padanya.
"Aku telah mengikhlaskanmu, Laura. Berbahagialah. Kita harus melanjutkan hidup kita masing-masing dan kita tidak harus saling membenci satu sama lain."
Mike memeluk dengan erat bantal gulingnya dan tak disadari, ia terlelap sampai hampir tengah malam. Ia melewati hari yang benar-benar melelahkan dirinya dan juga hubungannya dengan Tania.
__ADS_1
Ia baru tersadar ketika perutnya terasa lapar. Dengan segera ia bangun dari ranjangnya, meraih handphonenya dan menyadari waktu sudah hampir pukul sepuluh. Ada sebuah pesan dan panggilan tak terjawab dari Kevin.