
Seminggu berlalu. Mike tetap menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya di hari-hari libur - sesekali mengulangi pelajaran yang sudah ia dapatkan di semester pertama.
Ia merasakan ada yang kurang. Ia tahu ini kesalahannya. Mengabaikan Mega membuatnya menyesal. Sesampainya Mega di kampung, tidak ada sekalipun kabar dari Mega untuknya. Mike menantikan kabar darinya seperti seseorang yang merindukan kabar dari kekasih hatinya yang pergi jauh.
Terkadang Mike berpikir bahwa ia aneh. Ketika Mega ada di dekatnya, ia memperlakukannya layaknya sahabatnya, saudarinya. Kini, ketika Mega jauh ia merindukannya setengah mati. Ia merasakan ada yang ikut hilang.
Ketika Mega berada di dekatnya, Mike sama sekali tidak membalas perasaannya. Mike kuat dengan egonya bahwa Mega hanya seorang sahabat baginya. Sama sekali tidak ada tumbuh rasa suka pada diri Mega.
Mike berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Pergi pagi pulang malam. Berharap sedikit melupakan sosok Mega sedetik saja. Tidak memikirkan puisinya, tidak memikirkan kepergiannya yang tanpa ada kabar sedikitpun meski Mike tahu, Mega hanya sebentar saja di sana.
Mike berusaha keras untuk tidak sesering mungkin mengingatnya tapi nyatanya, semakin ia berusaha melupakannya, semakin Mega hadir menghantuinya di siang dan malamku.
Ia memutuskan untuk tidak pulang ke kost malam ini. Mike pergi ke taman tempat biasa dia menghabiskan waktu bersama Mega.
Tidak ada yang istimewa. Sesekali ada minuman di tangannya dan juga Mega tetapi malam ini ia tidak membawa apa-apa, melangkah gontai menuju tempat biasa mereka selalu duduk berhadapan mengelilingi satu buah meja yang terbuat dari batu.
Langkahnya berhenti seketika. Matanya lekat memandang pada tempat biasa dia dan Mega duduk disana. Ada seorang gadis disana. Sendirian, mengenakan kaos berwarna merah maron, celana jeans panjang berwarna hitam pekat. Rambutnya panjang terurai. Bibirnya diolesi lipstik berwarna merah tua. Mike tertegun seketika. Aura gadis membuat Mike mematung.
Mike melangkah maju dengan penuh keragu-raguan. Gadis itu menunduk memperhatikan handphonenya. Jarinya sibuk memainkan layar handphone. Entahlah apa yang ia lakukan. Ia tak menyadari kedatangan Mike.
"Hai, apakah kamu keberatan aku duduk disini ?" Tanya Mike gugup ketika ia sampai tepat di tempat gadis itu duduk, tempat dimana Mike dan Mega biasa menghabiskan waktu disini.
Gadis itu mengangkat wajahnya cepat begitu mendengar suara Mike.
"Tidak, silahkan saja," kata gadis itu santai. Ia lalu menunduk lagi memainkan handphonenya. Sejenak Mike melirik. Sepertinya ia sedang membaca sesuatu. Mungkin novel.
"Apakah kamu menunggu seseorang ?" Tanya Mike lagi memastikan.
"Tidak, aku sedang sendirian, tidak menunggu siapa-siapa," jawab gadis itu tenang. Kali ini ia tidak langsung kembali menunduk melihat ke layar handphonenya. Mungkin ia sadar Mike ingin mengajak ngobrol dengannya. Lalu ia menenggak minumannya, dan kembali memandang ke arah Mike.
Mike merasakan getaran dalam hatinya. Tatapan gadis itu, tajam menikam ke dalam hatinya. Mike seperti merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam hatinya ketika matanya lekat memandanginya tajam.
__ADS_1
Bulu matanya lentik. Pipinya montok. Tubuhnya sedikit kecil, maksudnya lebih pendek dari Mike, mungkin sekitar lima puluh senti. Mike gugup.
"Aku Mike," kata Mike tiba-tiba sambil memberikan tanganku mengajak kenalan.
"Tania," jawabnya lembut. Sentuhan tangannya, uhhh. Mike merasakan ada yang aneh. Sesuatu seperti ikut mengalir bersama sentuhan tangannya. Ya, ada sesuatu. Tapi gadis itu tetap tenang disana.
"Maaf, aku tidak punya tempat lain untuk duduk. Aku lebih suka disini," kata Mike melanjutkan sebelum ia lepaskan genggamannya.
"Aku sering kesini dan disinilah tempatku," kata Mike lagi sambil memberikan senyum. Tak perduli senyumnya manis atau bukan d mata gadis itu tapi paling tidak ia sudah mengetahui bahwa senyumnya manis dari pengakuan seorang gadis. Mega. Dia pernah mengatakannya kala itu.
"Kamu sering kesini ? Sendirian ?" Gadis bernama Tania itu bertanya balik.
"Emmm, tidak. Aku bersama temanku," sahut Mike dengan nada sedikit gugup.
"Kekasih ?" Mike tersentak kaget. Bola matanya berputar cepat.
"Emm, tidak. Dia temanku. Sekarang dia sedang berlibur di kampungnya," jawab Mike cepat berusaha menyembunyikan rasa gugupnyaP.
Lagi-lagi Mike tersentak kaget dengan pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan Tania. Ia menarik napas pelan.
"Ya, seperti itulah kira-kira," kata Mike santai sambil tangannya menggaruk kepalanya meski tak ada rasa gatal di kepalanya.
"Kami sering bersama-sama menghabiskan waktu disini melepas lelah sepulang dari kampus. Dia teman kuliahku," kata Mike lagi menjelaskan.
"Oh, baiklah. Aku kira kekasihmu sehingga kamu datang kemari karena merindukannya, hehehe," sambung Tania mengejeknya. Tidak ada sedikitpun rasa malu yang tampak dari setiap kata yang keluar dari mulut Tania, namun ramah dan santun.
Mereka diam. Mike memandanginya tajam. Kadang ia memergoki Mike sedang menatapnya sehingga Mike berpura-pura menunduk dan menggaruk kepalanya tidak jelas. Jantung Mike berdegup kencang. Tania menyadari itu. Dia lalu berpura-pura menunduk memperhatikan lagi handphonenya.
"Apakah kamu juga sering kesini ?" Tanya Mike lagi pada Tania.
"Ini kali pertamaku. Tak ada waktu untukku datang kesini," jawab gadis bernama Tania itu sekenanya.
__ADS_1
"Lalu, malam ini ?" Tanya Mike lagi mencari tahu.
"Entahlah, aku tiba-tiba ingin datang kesini sendirian," jawabnya tenang. Kali ini ia mengalihkan pandangannya pada Mike. Mike selalu merasakan getaran hebat ketika Tania menatap tajam padanya.
Mereka lalu diam. Mike terus mencuri pandang padanya sedangkan ia tidak mempedulikan Mike.
"Sudah hampir pukul sepuluh, aku harus pulang," kata Tania tiba-tiba sambil melirik ke jam tangannya.
"Kamu masih mau disini ?" Tanyanya lagi pada Mike.
"Ya, aku masih disini. Mungkin sebentar lagi aku akan pulang.
"Baiklah, aku duluan," katanya sambil melambaikan tangan.
"Tunggu," dengan cepat Mike berdiri dan menghentikan langkahnya.
"Mau aku antar pulang ?" Tanya Mike gugup. Entah apa yang merasukinya sehingga dengan berani menawarkan tumpangan pada gadis yang baru ia kenal.
"Hehehe, tidak usah repot-repot. Aku sudah memesan ojek online. Mungkin lain kali," jawab Tania sambil terkekeh. Mungkin saja ia merasa lucu dengan tingkah Mike yang mendadak aneh dan sok kenal.
Mike belum juga duduk. Masih ia perhatikan Tania yang berjalan dengan cepat menuju kerumunan ojek online yang beramai-ramai menunggu disana. Pandangannya tak beralih sedikitpun dari sosok gadis yang baru saja ia kenal.
"Baiklah, dia sudah memberi harapan, lain kali, hehehe," gumamnya dalam hati. Tania telah memberi signal dan ia mungkin akan sering kesini setelah ini.
Mike kembali duduk. Kali ini, tak ada sedikitpun bayangan Mega yang hadir dalam pikirannya meski saat ini ia duduk tepat pada tempat dimana mereka sering berdua. Pikirannya hanya memikirkan Tania yang baru saja pergi. Sentuhan lembut tangannya, tatapan matanya, rasanya ia mengirimkan sesuatu yang telah masuk dan akan bersemayam dalam hati Mike.
Dasar laki-laki, cepat sekali melupakan gadis yang satunya ketika sudah mengenal gadis lain. Eitss, tunggu dulu. Mike dan Mega bukan sepasang kekasih. Wajar saja jika Mike memikirkan gadis lain. Ya, Mike berharap ini yang namanya jatuh cinta.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
__ADS_1
Tuhan memberkati.🌹