
Mike kembali ke kostnya setelah mengantarkan Mega pulang ke kostnya. Tidak seperti malam-malam sebelumnya pikirannya selalu berkecamuk memikirkan Mega. Semua yang telah terjadi tadi di taman semoga bisa menghilangkan perasaan cinta Mega kepadaku, batinnya.
Mike bisa bernapas dengan lega kini. Yang harus ia lakukan sekarang adalah berusaha untuk tetap dekat sama Mega layaknya sahabat dan saudarinya sendiri agar dia tidak merasa Mika menghilang darinya. Dan satu lagi yang paling penting ialah harus mempertemukan Mega dan Kevin. Bagaimanapun caranya.
Tawarannya pada Mega belum disetujui oleh Mega tapi paling tidak, ada sedikit harapan karena Mega telah berjanji akan mengabari - ia masih memikirkannya. Mike mempunyai keyakinan, bukan sebuah kebetulan Kevin menemuinya lagi setelah sekian lama di Jakarta. Kevin hadir di saat yang tepat.
Mike meraih handphonenya, melirik jam di layarnya lalu pikirannya seketika tertuju pada Tania. Mike tidak sempat melihat Tania lagi sebelum pulang. Mike menggenggam tangan Mega dan menuntunnya berjalan keluar meninggalkan taman tanpa memperhatikkan apa-apa lagi. Mungkin saja ia melihatku, atau bisa saja temannya yang melihatku berada di taman tadi, batinnya.
Dengan cepat jemarinya mengetik sesuatu pada sebuah room percakapan whatsapp.
Ia membaca ulang sesaaat sebelum mengirimkannya.
"Tania, bagaimana kabarmu hari ini ?" Mike kembali membaca sejenak kalimat itu sebelum mengirimnya. Ingin ia tambahkan sedikit lagi kata-kata tapi ia. memutuskan dengan cepat menyentuh tombol mengirim.
Mike tidak menunggu balasan dari Tania dengan segera. Ia meletakkan kembali handphonenya lalu membuka sebuah buku bacaan. Ia mencari pembatas halaman buku untuk membaca sambungan dari halaman yang telah ia baca sebelumnya - sebuah buku kumpulan cerpen yang berjudul Narasi Rindu dari para penyair asal NTT yang tergabung dalam Komunitas Rumah Sastra Kita. Buku antologi itu mengangkat tema Pesan Perdamaian dari Bumi Flobamora untuk Nusantara Seri 2.
Mike mengarahkan matanya fokus membaca hingga beberapa halaman sebelum handphonenya akhirnya bergetar di atas meja. Ada pesan whatsapp yang masuk. Mike segera meletakkan buku ke atas meja lalu meraih handphonenya. Mike tersenyum kecil mengira itu adalah pesan balasan dari Tania.
"Ah, ternyata Mega," gumamnya sedikit kecewa lalu dengan malas membuka dan membacanya.
"Mike, terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia mengenal dirimu," isi pesan Mega. Singkat. Dahinya kemudia mengernyit. Pikirannya kembali berkecamuk. Apa maksudnya ? Mega tidak bunuh diri, kan ?
"Mega, apakah kamu baik-baik saja ? Ini yang terbaik untuk kita," Mike bertanya panik. Mega tidak butuh waktu lama untuk membaca pesan Mike.
"Aku baik-baik saja, Mike. Aku mengerti sekarang. Benar kata orang, terkadang mencintai harus berani melepaskan." Mike mematung seketika setelah membaca pesan Mega. Ia diam menatap layar handphone.
"Aku berharap tidak ada penyesalan. Kamu akan tetap menjadi sahabat dan saudariku. Selamanya."Mike mengirim dengan cepat kalimat itu. Dan Mega langsung membacanya.
"Terima kasih Mike. Aku mencintaimu," pesan balasan lagi dari Mega. Mike tertegun lalu mengetik lagi.
"Aku juga mencintaimu."
__ADS_1
Tidak ada balasan lagi dari Mega. Tapi pesannya sudah terbaca. Pikirannya mulai panik. Semoga Mega tidak melakukan hal aneh disana.
*****
Mike bangun sedikit lebih pagi hari ini. Ia melangkah ke arah meja, mendekati dispenser dan mengambil segelas air minum. Dengan cepat ia meneguk airnya lalu berjalan menuju kamar mandi - sebuah perubahan besar, ia jadi rajin mandi pagi sekarang.
Hari ini ia tidak kemana-mana - Ia sedang libur. Ia hanya akan menghabiskan waktunya dengan membaca buku, atau menulis.
Mike berjalan mendekati meja setelah selesai berpakaian. Ia meraih handphonenya dan seketika ia teringat akan pesan whatsappnya pada Tania. Tania tidak membalasnya semalam. Mike menyalakan handphonenya lalu dengan cepat memeriksa notifikasi pesan whatsapp - berharap ada pesan dari Tania. Dan benar. Tania mengirimkan pesan ketika Mike sudah tertidur pulas.
"Kabarku baik. Bagaimana denganmu ?" Isi pesan Tania singkat. Mike tersenyum kecil. Lalu memencet tombol memanggil.
"Halo, selamat pagi," sahut Tania di seberang setelah beberapa saat berdering.
"Halo, selamat pagi Tania. Apakah kamu sudah bangun ?" tanya Mike sok akrab.
"Iya, sudah," jawab Tania sekenanya sambil berdiri berkacak pinggang.
"Puji Tuhan. Kabarku baik," jawan Tania santai. Dia hanya menjawab ketika ditanya.
"Syukurlah Tania,"
"Oh ya, Tania. Kamu sudah tersenyum atau belum sama sekali ?" tanya Mike tiba-tiba, seperti biasa selalu ingin menggombal Tania.
"Kenapa memangnya ?" tanya Tania bingung.
"Aku sarankan jangan. Bahaya Tania. Mentari tidak akan bersinar hari ini karena ia malu pada senyum manismu," kata Mike menggombal lagi. Ia terkekeh disambut suara kekeh Tania di seberang yang juga tertawa.
"Memangnya mataharinya kamu ?" tanya Tania balik.
"Aku tidak takut pada senyummu, Tania. Setelah mengenalmu aku selalu berharap di hari-hariku yang akan datang, ada senyum paling manis yang akan selalu kulihat pertama kali ketika aku bangun dari tidurku, yaitu senyummu."
__ADS_1
"Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak mudan dirayu," sambung Tania.
"Aku sedang tidak merayumu. Aku sedang menceritakan padamu tentang mimpiku," jawab Mike pasti.
"Hehehehe, dasar tukang gombal," Tania terkekeh.
"Tania, boleh aku mengatakan sesuatu ?" tanyanya menghentikan kekeh Tania.
"Apa ?"
"Jangan lupa sarapan," bisiknya pelan. Tania hanya terdiam tersipu malu di seberang ketika Mike memberikan perhatian sederhana itu. Ia dapat memastikannya.
"Masih ada lagi yang mau kamu katakan ? Jika tidak ada lagi, aku akan matikan teleponnya. Hari ini aku sibuk," Tania tiba-tiba bertanya dengan nada serius.
"Iya ada. Satu lagi," kata Mike gugup.
"Jaga dirimu Tania," katanya berbisik. Tania hanya bergumam dan mematikan teleponnya. Ia tersenyum sendiri. Harus diakui bahwa ia mulai merasakan kenyamanan dengan Mike.
Mike tidak pedulikan apa yang dipikirkan Tania disana. Yang jelas ia merasa lega. Mega telah mengikhlaskannya dan berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaannya. Pelukan dan kecupan Mike pada Mega semalam semoga membuatnya percaya pada Mike bahwa Mike juga mencintainya tetapi tidak bisa memlikinya. Mike hanya bisa mencintainya sebagai sahabatnya, sebagai saudaranya.
Kelak, jika Mike sudah berhasil mendapatkan Tania, perasaannya pada Mega ini mungkin salah di mata Tania. Apalagi jika Mike memperlakukannya layaknya saudarinya sendiri tepat di mata Tania - memeluknya, bergandengan tangan, selalu bersamanya.
Tania mungkin tidak mengatakannya tetapi ia akan menyimpannya di dalam hatinya. Dia tentu tidak akan menerima kekasihnya masih berpelukan dengan gadis lain yang bukan siapa-siapa, hanya saudari ketemu gede.
Mike tersenyum sendiri ketika menyadari bahwa pikirannya benar-benar terlalu jauh memikirkan Tania menjadi miliknya dan segala perasaannya ketika menyadari sikapnya di belakang Tania bersama Mega. Hehehe. Dia terobsesi untuk menjadikan Tania miliknya.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati.🌹
__ADS_1