SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 67-2


__ADS_3

^^^"Apapun yang terjadi aku harus tetap hidup. Aku tidak boleh mati percuma dengan cara yang tidak semestinya seperti ini."^^^


...----------------...


Tamatlah riwayatku hari ini, pikir Tania. Jantungnya lagi-lagi berdegup dengan sangat kencang. Nafasnya kian tak teratur, ditambah lagi cekikan keras pria itu membuatnya semakin tak berdaya. Ia pasrah, tubuhnya lunglai tak berdaya.


"Mikeeeeee, to,,, to,,, tolong aku, Mikeeee,,, ."


Tak ada pilihan lain bagi Tania untuk meminta pertolongan. Satu-satunya orang yang ia yakini dapat membantunya hanyalah Mike. Kalaupun saat ini, ditengah bahaya yang mengancam hidupnya, Mike tak bisa muncul dan menampakkan dirinya ia berharap setidaknya ada satu tanda dari calon suaminya itu untuk menolongnya.


Ia sungguh-sungguh tak kuasa lagi untuk berteriak. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha menahan sakit karena cengkraman pria tak dikenal itu.


"Masih mau mengajak berlari lagi ?" tanya penuh ejek salah satu dari mereka dengan suara penuh amarah. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Tania yang membuat Tania merasa jijik.


"Si,,, si,,, siapa kalian. Ma,,, mau a,,, apa ka,,, kalian... ," Tania memaksakan sisa-sisa tenaganya untuk bertanya.


"Kamu mau tahu ? Hah ?" tanya pria yang mencekik lehernya itu geram. Perlahan-lahan ia menyeret tubuh Tania ke pinggir tembok dan menempelkannya pada dinding. Tak ada cahaya lampu di sekitar. Semuanya gelap.


"Nih, aku kasih tahu apa tujuannya," kata pria yang satunya lagi. Entah apa yang ada di pikiran mereka saat ini, mereka sama sekali tidak menunjukan bahwa mereka adalah orang suruhan. Seseorang yang sebelumnya menelepon salah satu dari mereka pun tak menghubungi kedua orang itu lagi.


Jantung Tania lagi-lagi berdegup dengan sangat kencang. Samar-samar matanya melihat seseorang berdiri di hadapannya, sedangkan yang satu lagi belum juga melepaskan cekikannya. Ia bergeser ke samping lalu memberikan ruang kepada rekannya yang satu lagi.


Dengan sangat cepat lelaki itu membuka bajunya hingga telanjang dada. Tangannya memegang dan mengelus bibir Tania sehingga membuat Tania merinding hebat.


Di dalam hati Tania berusaha berteriak. Ia merasa jijik dengan apa yang tengah ia alami saat ini. Matanya sudah tak sanggup ia buka lebar-lebar, tenaganya sudah habis karena berlarian sejak tadi. Dengan sisa tenaganya ia sekali lagi berusaha meminta pertolongan.


"Mike,,, to,,, to,,, long,,, ,"


Pria yang berada di hadapannya itu hendak menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tania. Tania tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia memejamkan matanya, berpasrah dan merelakan apapun terjadi atas dirinya.


...****************...

__ADS_1


Ibu Tania meletakkan handphone lalu berjalan ke ranjang. Ayah Tania sudah lebih dahulu berbaring disana setelah berbicara dengan putrinya. Ibu Tania menarik selimut dan membungkusi tubuhnya namun wajahnya jelas tampak gelisah.


"Ada apa, Bu ? Masih memikirkan Tania ?" tanya pak Lukas pada Maria, istrinya.


"Entahlah, Ayah. Ibu takut Tania berbohong pada kita. Ia berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini.


"Sudahlah, Bu. Biarkan saja Tania berjuang dengan caranya. Ayah yakin Tania bisa melewati semuanya."


Pak Lukas pun sebenarnya sama seperti istrinya namun ia harus berbuat apa ? Ia sama sekali tak menunjukan rasa khawatirnya di depan istrinya. Ia tahu betul bagaimana perasaan putrinya, apalagi dia seorang perempuan.


"Ibu tahu itu. Tapi... ."


"Ayah tahu apa yang Ibu pikirkan. Kita doakan saja yang terbaik untuk Tania. Tania sudah dewasa. Dia tahu apa yang harus ia lakukan."


"Tapi Ibu khawatir, Ayah."


"Ayah juga khawatir. Ayah juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Ibu rasakan saat ini. Tapi Ayah tak mau menunjukan itu. Apa jadinya kita kalau kita sama-sama menunjukan itu, Bu ?"


"Kita doakan yang terbaik untuk Tania, Bu," lanjut pak Lukas.


"Hmm, baiklah. Ibu tak akan menunjukan itu lagi di depan Ayah mulai sekarang," sahut bu Maria mendumel.


"Ayah tak melarang Ibu. Ayah sama sekali tak melarang Ibu untuk menunjukkan itu. Tapi kalau kita selalu seperti ini, kasihan Tania. Itu akan menjadi beban baginya, Bu."


Pak Lukas mencoba menenangkan istrinya. Bu Maria tak menjawab apa-apa selain membiarkan dirinya tetap dalam dekapan suaminya.


"Suara Tania baru saja tidak menunjukan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Ayah percaya itu."


"Baiklah. Kita doakan yang terbaik untuk anak kita. Semoga ia bisa melewati semuanya."


Wajar saja jika dihadapkan pada situasi seperti ini, ayah dan ibu Tania tentu saja merasakan kekhawatiran yang lebih. Bukan hanya ayah dan ibu Tania saja, semua orangtua tentu saja akan melakukan hal yang sama. Apalagi itu terjadi pada anak perempuan mereka.

__ADS_1


"Tidurlah, Bu. Kita serahkan semua pada Tuhan."


Pak Lukas mengecup kening istrinya disambut senyum bahagia dari Maria, istrinya. Bukan hal baru bagi bu Maria, suaminya mengecup keningnya sebelum tidur.


Ia selalu mendapatkan itu sebelum tidur ketika mereka berdua membicarakan sesuatu yang penting dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Meskipun usia mereka sudah tak muda lagi, pak Lukas selalu memberikan kasih sayang itu pada istrinya. Segala sesuatu yang telah mereka lalui seharian akan mereka bicarakan sebelum tidur malam, lalu selalu diakhiri dengan sebuah kecupan hangat dari pak Lukas.


...****************...


Entah sudah berapa lama ia terlelap dan tak sadar diri, Tania mencoba membuka matanya dan mendapatkan dirinya sedang berada di dalam sebuah kamar. Ia berbaring diatas sebuah ranjang. Tubuhnya dibungkusi sebuah kain selimut.


Ia tak tahu ia berada dimana saat ini. Ia menggosok kedua matanya dan berusaha untuk bangun namun seketika ia merasakan sakit yang luar biasa pada seluruh tubuhnya, lebih-lebih pada lehernya.


Tania menyentuh lehernya dan merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada memar pada lehernya. Ia terlihat panik dan mulai tidak tenang.


"Ada apa dengan diriku ? Apa yang telah terjadi ?"


Tania bertanya seorang diri, membolak-balikan kedua tangannya dan memeriksa seluruh tubuhnya. Tak ada luka memar lain selain lehernya. Hanya saja tubuhnya belum bisa digerakkan seperti sediakala lantaran sakitnya tak bisa ia tahan.


"Dimana aku sekarang ? Kamar siapa ini ? Mengapa aku tiba-tiba berada disini ? Siapa yang membawaku ?"


Tania masih bertanya-tanya seorang diri. Ia kembali menyentuh lehernya dan seketika itu pula ia seperti mengingat sesuatu.


"Orang-orang itu, apakah mereka yang membawaku kesini ?"


Ketakutan seketika kembali menguasai dirinya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini bila saja dua pria asing itulah yang membawanya ke tempat ini. Ia kemudian memaksakan diri melawan rasa sakit pada seluruh tubuhnya yang ia derita saat ini namun gerakannya terhenti ketika suara seseorang menyapanya. Suara seorang lelaki yang kedengarannya tak asing di telinganya.


"Hei, kamu sudah sadar ?"


Tania kaget bukan main, hampir saja ia teriak namun melihat sosok lelaki yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan berdiri di hadapannya, ia menjadi gagap.

__ADS_1


🌼 Jangan lupa terus dukung karya ini dengan like dan vote. Dukungan dari Anda sekalian akan sangat membantu performa karya ini. Terima kasih, God bless you. 🌼


__ADS_2