
^^^"Aku tahu kamu masih disini bersamaku.^^^
^^^Terima kasih telah menjadi malaikat pelindungku. Aku merindukanmu."^^^
...----------------...
Tania mencoba menyapa lelaki itu namun suaranya terasa berat. Ia mencoba menggerakan tubuhnya namun sama sekali tak bisa karena masih terasa sakit.
Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum memandangi Tania yang sedang bergetar ketakutan. Senyum lelaki itu tak berubah. Masih menawan seperti sebelum-sebelumnya.
"Mikeeeeee..."
Teriak Tania kaget. Ia berteriak kaget dan terbangun dari lelapnya.
"Ya Tuhan, ternyata aku cuma mimpi."
Tania mengusap wajahnya. Tak lupa juga ia memeriksa seluruh tubuhnya. Tak ada luka di lehernya. Tubuhnya ia gerakkan. Tak ada sakit yang ia rasakan.
"Ternyata aku cuma mimpi aneh," gumam Tania lagi.
Ia kemudian bergerak turun dari ranjang dan berjalan ke arah sudut kamarnya. Ia menemukan sebotol air aqua di atas meja lalu menenggaknya.
Sorot matanya ia tujukan ke dinding kamarnya. Dari sana, Mike tersenyum melihatnya. Dari sebuah gambar bisu yang dipajang di dinding kamarnya.
"Apakah ini caramu mengingatkanku bahwa kau selalu bersama denganku, sayang?"
Tania kembali ke ranjangnya lalu berdoa lagi. Ia berusaha untuk memejamkan matanya lagi namun sudah tak bisa. Suara dan sentuhan orang-orang tak dikenal dalam mimpinya masih terngiang jelas di telinganya.
"Apa maksud semua ini? Apakah kamu menolongku sebelum sesuatu yang tak kuinginkan terjadi padaku?"
Tania terus bertanya dalam hatinya. Ia masih memikirkan mimpinya.
"Mike, jika kau mau, datanglah sayang," pinta Tania lembut. Air matanya perlahan menetes dan membasahi pipinya.
"Aku janji, aku tidak akan takut melihatmu. Datanglah, sayang. Aku ingin memelukmu."
Entah apa yang dipikirkan oleh Tania saat ini hingga ia mencoba berbicara dengan kekasihnya yang telah tiada itu.
__ADS_1
Rasanya tak puas bila hanya bertemu di dalam mimpi. Tania menginginkan kehadiran Mike secara nyata di hadapannya di sepertiga malamnya malam ini.
"Meskipun tadi itu hanya mimpi, terima kasih telah melindungiku, sayang," kata Tania lagi sambil menarik selimutnya dan mencoba memejamkan matanya.
...****************...
Suara alarm dari handphone mengagetkan Tania. Ia membuka matanya dan menyadari bahwa hari sudah siang.
Beruntungnya, hari itu adalah hari Minggu dan ia tidak akan pergi bekerja. Tania bangun dan menggerakan tubuhnya.
Ia meraih handphone dan mengeceknya. Sudah pukul tujuh dan ia baru bangun. Sejenak terlintas lagi bayangan lelaki yang telah menolongnya dalam mimpinya.
Lelaki itu tak lain adalah kekasihnya yang telah tiada. Tania menunduk sejenak lalu mengumpulkan niat untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke gereja.
Setelah selesai bersiap, Tania mengabari Mega untuk gereja bersama-sama. Tania berpikir untuk menemui sahabatnya itu dan menceritakan mimpinya.
Mega lalu memesan ojek online dari gudgetnya dengan tujuan gereja Matraman. Di sana ia akan bertemu dengan Mega karena sahabatnya itu gereja di sana juga.
Tania melangkah masuk ke halaman gereja ketika turun dari ojek online. Ia singgah di Gua Maria dan berdoa sejenak di sana.
Mega dan Kevin pun telah tiba tetapi mereka langsung masuk ke dalam gereja. Mereka membiarkan Tania berdoa sejenak di Gua Maria.
...****************...
Mega dan Kevin telah menunggu di depan gereja namun Tania belum juga keluar dan menemui mereka. Mega meminta Kevin untuk menunggu sebentar dan kekasihnya itu mengangguk setuju.
Di dalam gereja, Tania belum beranjak dari tempat duduknya. Matanya melotot tajam memandangi seseorang yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Hanya empat baris di depannya.
Lelaki itu mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana jeans berwarna hitam dan sepatu yang juga hitam. Mata Tania tak lepas dari lelaki itu.
Tiba-tiba getar handphone dari dalam tas mengagetkan Tania. Ia dengan cepat membuka tasnya dan mengecek - sebuah pesan dari Mega.
"Kami menunggumu di depan gereja."
Tania memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas tanpa membalasnya. Ia masih berniat untuk melihat lelaki yang berada di depannya lebih dekat lagi.
Tania mencari-cari lelaki itu namun di tempat duduknya lelaki itu telah tiada. Sepertinya lelaki itu telah keluar ketika Tania sedang membaca pesan dari Mega.
__ADS_1
"Ahh, sial...," gumam Tania kesal. Lelaki itu memang telah pergi meninggalkan Tania.
"Tapi bagaimana mungkin ia mirip dengan lelaki yang ada dalam mimpiku tadi malam? Bukankah lelaki tadi malam itu adalah Mike? Lalu, siapa dia? Mike?"
Tania berperang hebat melawan rasa penasaran dalam dirinya. Sejak kepergian Mike, kejadian-kejadian aneh selalu terjadi di sekitarnya.
Secarik kertas berisikan puisi dari Mike tiba-tiba ada dalam tas Tania sewaktu ia hendak pulang dari rumah Mike. Rekan kerjanya pernah mengatakan bahwa ada seorang lelaki mencarinya di tempat kerjanya.
Tadi malam, seorang lelaki menyelamatkan dirinya ketika ada orang-orang jahat yang hampir saja menodainya. Lalu hari ini, lelaki itu ada di dalam gereja tepat di hadapannya.
Tania memainkan bola matanya untuk mencari di dalam gereja namun ia tak menemukan lelaki itu lagi. Tania pun keluar dengan penuh tanda tanya.
Ia langsung menemui Mega dan Kevin yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Maaf, aku lama. Aku melewati hari yang berat. Kita harus duduk bersama dan aku akan ceritakan kepada kalian. Kalian harus tahu."
Mega memandangi Kevin penuh tanya. Tanpa menunggu lama, Tania mengeluarkan handphonenya untuk memesan ojek online dengan tujuan ke kost Kevin.
"Kevin, kita ke kostan kamu. Maaf akan merepotkanmu tapi kita harus bicara."
Kevin hanya diam dan mengangguk setuju lalu mengajak Mega menuju parkiran.
"Kita ketemu di sana," kata Tania lagi.
Mega belum mengatakan apapun. Ia hanya diam memperhatikan Tania yang nampak tidak tenang.
"Apa yang telah terjadi dengan Tania?" tanya Mega dalam hatinya ketika meninggalkan Tania yang sedang menunggu jemputannya.
"Kalian mungkin tidak akan percaya denganku tapi kalian harus tahu apa yang sedang aku alami saat ini," kata Tania dalam hatinya ketika jemputannya telah tiba dan membawanya pergi dari halaman gereja.
Ingatan Tania masih tertuju pada lelaki yang ia lihat di dalam gereja tadi. Wajah persisnya tak sempat ia lihat namun dari belakang, nampak tak ada perbedaan sama sekali.
Gaya rambut, gaya duduk dan warna pakaian yang dikenakan lelaki itu semuanya ada pada diri lelaki yang telah pergi meninggalkannya. Lelaki yang tadi malam ada di dalam mimpinya.
Lelaki yang telah berhasil membuatnya pasrah pada cinta dan menerima untuk dinikahi. Lelaki yang telah mengajarkan padanya banyak hal yang belum pernah ia alami sebelumnya. Lelaki yang telah mengajarinya apa itu cinta. Lelaki yang hampir saja menjadi suaminya jika maut tak memisahkan mereka berdua.
🌼Setelah absen sangat lama, author kembali lagi. Maaf bagi yang telah menunggu lama kelanjutannya. Terima kasih atas seluruh supportnya untuk karya ini.
__ADS_1
Dukung terus karya ini dengan like dan vote sebanyak-banyaknya. Terima kasih. Tuhan memberkati.🌼