
^^^"Bagaimana mungkin aku merasa seperti telah lama mengenalnya? Siapa dia? Mengapa aku merasa begitu dekat dengannya?"^^^
...----------------...
Seorang lelaki terdiam lesu di teras rumahnya. Tak henti-hentinya ia memaki hujan yang turun begitu deras dan telah membatalkan rencananya.
Sebentar lagi hari akan gelap. Ia paling tidak suka bepergian malam-malam seorang diri. Apalagi esoknya adalah hari Senin.
Setelah menunggu lama, hujan akhirnya reda setelah ia hampir membatalkan niatnya untuk pergi. Tanpa basa-basi, ia langsung bergegas menuju garasi mobil dan melesat pergi.
Tinggal seorang diri, Nathan memang sudah terbiasa mandiri. Segala sesuatu selalu ia lakukan seorang diri. Ia tak pernah ingin merepotkan orang lain. Ojek online sekalipun.
Ia sudah terbiasa pergi seorang diri. Usianya pun masih muda. Karirnya pun melejit sehingga ia tak pernah kesulitan jika menginginkan sesuatu. Tetapi tidak tentang urusan perempuan.
Di usianya yang sudah matang untuk berkeluarga, ia malah lebih memilih sendiri dan menikmati hari-harinya tanpa menyibukkan diri dengan hal percintaan.
Entah sudah berapa banyak perempuan yang ingin mendekatinya namun selalu ia abaikan. Seolah-olah belum ada perempuan yang tepat dan berhasil memikat hatinya.
...****************...
Nathan keluar dari sebuah toko pakaian. Ketika hendak menyeberang ke Indomart untuk membeli kebutuhan dapur, hujan lagi-lagi menghalanginya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, ia pun berjalan menuju parkiran mobil. Ia akan singgah ke Indomart lain dalam perjalanannya jika hujan telah reda, gumamnya.
Jarak rumah semakin dekat, kurang lebih satu kilo lagi namun tak ada tanda-tanda hujan akan reda. Ia mulai menggerutu dan memelankan mobilnya.
"Tak ada jas hujan, tak ada payung, bagaimana caranya aku bisa singgah ke Indomart?" katanya seorang diri di dalam mobil.
Nathan lalu memutuskan untuk berjalan terus menuju rumah dan tidak ingin membeli apa-apa lagi. Ia pasrah. Namun hati kecilnya masih berusaha untuk menahannya dan memintanya untuk mengurangi kecepatan mobilnya.
Dan benar saja. Nathan akhirnya menghentikan mobilnya di tepi jalan ketika melihat seorang gadis berdiri seorang diri di sebuah halte.
Gadis itu tampaknya sedang berteduh. Tanpa ragu-ragu, Nathan menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil untuk menyapa gadis itu.
"Hai, kamu sendiri?" tanya Nathan percaya diri menyapa gadis itu terlebih dahulu.
"Yang kamu lihat?" jawab gadis itu ketus.
Nathan seketika merasa gugup. Ia berpura-pura membersihkan bajunya meskipun tak ada debu yang menempel di bajunya.
"Apakah kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Nathan lagi.
"Maksudku, aku merasa tidak asing denganmu sehingga aku memberanikan diri untuk menyapamu."
__ADS_1
Mendengar perkataan itu, gadis itu lalu memalingkan wajahnya dan menatap wajah lelaki tak dikenalnya itu.
Matanya melotot tajam. Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang. Lelaki di hadapannya membalas tatapannya.
Sama seperti apa yang dirasakan oleh Nathan, gadis itu pun ternyata merasakan hal yang sama. Ia pun merasa tak asing dengan lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa? Mengapa memandangiku seperti itu?" tanya Nathan penuh heran ketika melihat gadis itu menatapnya tajam.
"Aku Nathan," katanya sambil mengulurkan tangan meminta perkenalan.
"Ta,,, Tania,,,," jawab gadis itu gagap.
Entah apa yang terjadi, Tania dan Nathan merasakan hal yang sama satu sama lain. Sama-sama merasa sangat dekat. Sama-sama merasa seperti sudah bertemu sebelumnya.
Tania dan Nathan lalu sama-sama membisu. Tatapan mereka ke depan. Pada titik-titik hujan yang masih belum usai dan menggenangi jalanan.
"Aku merindukanmu," desah Nathan dalam hatinya kemudian dengan cepat tangan kanannya meraih tangan kiri Tania lalu mendekapnya erat. Sangat erat.
🌼Setelah absen sangat lama, author kembali lagi. Maaf bagi yang telah menunggu lama kelanjutannya. Terima kasih atas seluruh supportnya untuk karya ini.
Dukung terus karya ini dengan like dan vote sebanyak-banyaknya. Terima kasih. Tuhan memberkati.🌼
__ADS_1