SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 52


__ADS_3

DUA TAHUN KEMUDIAN


"Hari-hariku kini sepi. Senyumku hilang, bahagiaku kau bawa pergi bersamamu. Mengapa aku harus menerima semua kenyataan ini ?"


"Tania, aku mencintaimu."


"Tania, aku menginginkanmu."


"Tania, maukah engkau menikah denganku ?"


Suara Mike masih selalu terngiang di telinga Tania - suara lembut nan khas ketika ia membisikkan kata-kata paling cinta di telinga Tania. Terkadang celotehan dan rayuan mautnya ketika menginginkan sesuatu dari Tania - semua kenangan itu masih jelas membekas di ingatan Tania. Entah sampai kapan namun untuk saat ini, Tania lebih memilih mengurung diri di dalam kamarnya.


Ibunya membawanya kembali ke kampungnya agar ibunya bisa menemaninya dan membantu menyembuhkan luka hati yang ditinggalkan Mike.


"Ibu tahu, Nak. Berat bagimu untuk melewati semua kenyataan ini. Tapi hidup harus dilanjutkan. Jangan buang-buang waktu mudamu, Nak."


Berulang-ulang kali ibunya mengatakan hal itu ketika membawakan makanan kepada Tania. Mengelus punggung dan sesekali menepuk lembut bahu anaknya, sang ibu selalu berusaha dengan tabah menyemangati Tania.


Tania boleh kehilangan semangat hidup yang telah dibawa pergi oleh kekasihnya, namun sang ibu tak pernah menyerah menjadikan dirinya sebagai ibu, teman sekaligus kekasih bagi Tania yang tengah kesepian.


"Ibu telah membuatkanmu makanan kesukaan waktu kamu masih kecil, Nak. Kamu masih ingat kan ini ?"


Sayur bayam segar yang telah direbus dan disatukan dengan bawang putih memberikan aroma kenikmatan tersendiri di dalam kamar Tania. Ada empat potong tempe goreng yang tersedia di atas meja. Sang ibu berusaha membujuk anaknya agar makanan kesukaan sewaktu kecil Tania itu bisa dimakan oleh putrinya.


"Buka mulutmu, Nak. Kamu harus makan. Ibu menyuapimu ya."


Satu sendok pertama berhasil masuk ke dalam mulut Tania. Setiap hari sejak suasana hati Tania seperti ini, ibunya tidak kesulitan memberinya makan. Hanya saja, satu sendok pertama selalu memakan waktu hampir sepuluh menit agar bisa dikunyah oleh Tania sampai habis. Sabar dan tabah, memberikan kasih sayang dan perhatian tulus seorang ibu selalu ditunjukkan oleh ibu Tania. Setia hari. Setiap saat.

__ADS_1


Kehilangan yang dirasakan Tania benar-benar membuat ia kehilangan semangat hidupnya. Jangankan melakukan sesuatu, bergerak sendiri dalam kamar pun tak sanggup ia lakukan.


Di hadapannya tampak Mike tersenyum indah . Namun senyum itu adalah penambah luka di hati. Hanya terpampang bisu dari sebuah bingkai foto. Senyum itu telah mati bersama raga yang terbaring kaku kemarin.


"Kamu tersenyum bahagia meninggalkanku sendirian ? Ya, kamu bahagia ? Kamu jahat, Mike. Kamu jahat. Apa yang kamu lakukan ini jahat."


Sering Tania berbicara sendirian dengan foto Mike. Dalam hatinya ia mengumpat dan membenci kepergian Mike. Ia benar-benar tak ikhlas.


Berkali-kali handphoe Tania berdering - ibunda Mike meneleponnya hendak menanyakan kabarnya, namun belum pernah sekalipun ia menjawab telepon itu.


"Tania belum keluar dari kamar. Sudah seminggu ia mengurung dirinya di dalam kamar," jelas ibu Tania yang akhirnya menjawab setiap telepon dari ibu Mike.


"Hari-hariku kini sepi. Senyumku hilang, bahagiaku kau bawa pergi bersamamu. Mengapa aku harus menerima semua kenyataan ini ?"


Tania meratap sendirian di dalam kamar. Ia memeluk dengan erat gaun pengantinnya yang seharusnya sudah ia kenakan minggu kemarin. Semuanya kini tinggal kenangan.


"Mike, aku masih belum percaya ini sayang. Harusnya kamu sudah sah menjadi suamiku dan aku adalah istrimu. Kita saling mencintai, bukan ? Lalu kenapa kamu pergi meninggalkan aku sendirian seperti ini ?"


Tania terus meratap seorang diri. Ia benar-benar belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Ia hanya mampu melihat semua kenangan lama yang masih tersimpan. Meskipun luka di hati yang ia dapatkan, satu per satu kenangan itu ia ambil, ia ciumi, dan dipeluknya erat-erat. Air mata selalu menjadi teman setianya saat ini.


"Sayang, aku mampir sebentar ke tempat dekorasi. Jangan lupa cincinnya."


Kalimat terakhir itu tiba-tiba terngiang di telinga Tania ketika matanya tertuju pada sebuah kotak cincin pernikahan yang masih belum dikeluarkan dari dalam tasnya. Siapa sangka, itu adalah pesan suara Mike untuk terakhir kalinya.


Dan lagi-lagi Tania menangis meratapi nasibnya ketika meraih kotak cincin itu.


"Cincinnya sudah aku ambil, sayang. Bagaimana dekorasinya ? Semuanya sudah beres, bukan ?"

__ADS_1


Seperti orang yang sudah tak waras, Tania berbicara sendirian di dalam kamarnya. Di balik pintu, sang ibu menitikkan air matanya sedang menguping percakapan Tania dengan benda-benda mati yang didalamnya menyimpan semua kenangan tentang Mike.


"Ayo, sayang. Kenakan cincin ini pada jari manisku. Kamu adalah suamiku. Ayo, sayang."


Hancur. Sungguh hancur hati Tania. Semuanya tinggal kenangan. Mike telah tiada. Pada kenyataannya, gaun pengantin belum sempat ia kenakan. Cincin pernikahan pun belum melingkar di jari manisnya.


Andai saja ibunya tidak melarangnya melakukannya, Tania mungkin sudah sah menjadi istri Mike. Ia nekat tetap menikahi Mike meskipun lelaki yang sangat ia cintai itu terbujur kaku dalam raga tak bernyawa lagi.


Tania sempat melawan ibunya. Ia memaksa untuk tetap mendatangkan pastor yang akan menikahkan mereka untuk menikahkan mereka di rumah sakit. Seisi ruangan menangis meratapi nasib Tania saat itu. Ia histeris, seperti orang yang sudah gila.


Bagaimana mungkin itu bisa terjadi ?


Tania kembali membongkar semua barang-barang kenangan. Ia menemukan sebuah foto pra wedding yang telah terpasang pada sebuah bingkai. Ia menatap dengan tajam foto itu, mengusap wajah Mike, mencium lalu merebahkan tubuhnya sambil memeluk dengan sangat erat foto itu.


Mike mengenakan sebuah kemeja putih dengan bagian dada sengaja dibiarkan terbuka. Celana pendek seukuran lutut dan juga mengenakan kaca mata hitam membuat lelaki itu begitu tampan. Ia berdiri merentangkan kedua tangannya lalu ada seorang gadis memeluk dari belakangnya. Mike dan Tania tampak begitu bahagia di foto itu.


Di balik pintu, sang ibu mengusap air matanya lalu melangkah perlahan menjauhi pintu kamar putrinya. Ia masuk ke kamarnya dan menyalakan sepasang lilin pada pojok doa lalu dengan khusuk berdoa memohon bantuan Tuhan.


Ibu mana yang akan tega melihat kondisi anaknya seperti ini ?


Kehilangan yang putrinya rasakan saat ini bukanlah kehilangan biasa. Putrinya ditinggalkan begitu saja tanpa pesan apapun tepat di saat mereka tengah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Andai saja ia tak menghentikan putrinya waktu itu, saat ini putrinya menyandang status janda tepat setelah selesai upacara pernikahan. Tania nekat menikahi Mike yang telah pergi meninggalkannya.


Di dalam kamar, Tania berbaring dan mengusapi wajah Mike. Satu per satu kenangan tentang Mike dan dirinya perlahan-lahan hadir kembali dalam ingatannya. Tania memejamkan matanya. Pipinya tak lagi kering; air matanya tak henti-henti menetes membasahi pipinya.


... T A M A T ...

__ADS_1


__ADS_2