
Semester kedua perkuliahan kini telah dimulai lagi. Mike sudah mengatur waktu kerjanya dengan baik agar kuliahnya tidak terganggu. Ia pergi ke kampus tiga hari full dan sisanya ia fokus untuk bekerja.
Mike melangkah masuk ke halaman kampus. Tiba-tiba ada suara yang menyapanya dari belakang.
"Mike, tunggu aku," suara itu menghentikan langkah Mike. Mike sudah sangat mengenali suara itu. Ia menoleh dan mendapati Mega berjalan ke arahnya.
"Hai, Mega. Aku kira kamu sudah sampai duluan," katanya sambil meberikan tangan menyalami Mega. Mega hanya tersenyum.
"Bagaimana, kamu sudah siap menghadapi semester baru ?" tanyanya seketika sambil melangkah menuju ke kelas.
"Siap tidak siap, harus siap,hehehe," jawab Mega sekenanya sambil tertawa kecil.
Mike berjalan memasuki ruangan kelas diikuti Mega. Ketika sampai di depan pintu kelas, Mega memintanya untuk masuk terlebih dahulu. Ia hendak ke toilet. Mike mengangguk kecil lalu memasuki ruangan kelas dan menuju tempat duduknya.
*****
Mike berjalan berdua bersama Mega menuju parkiran. Seperti biasa Mega akan pulang bersamanya. Pikiran Mike sedikit lega karena sejak pertemuan pagi tadi, Mega sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia masih menyimpan perasaan cintanya pada Mike. Entahlah, Mega memendamnya dalam hatinya atau ia benar-benar sedang berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Mike tidak bisa membalas cintanya pada Mega.
"Ke taman, atau langsung pulang ?" tanya Mike tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka.
"Lain kali saja. Aku mau langsung pulang ke kost," jawab Mega datar. Mike mengangguknya sambil mengencangkan tali helmnya.
Mega tidak banyak bicara hari ini. Mike pun merasakan ada yang berbeda dari biasanya. Sejak meninggalkan parkiran, Mega tidak menaruh kedua tangannya di pinggang Mike dan memegang jaket Mike. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Mega benar-benar menjaga jarak kali ini.
Mike membiarkan perubahan itu terjadi sambil berpura-pura tidak menyadari apa yang terjadi di antara mereka.
"Bagaimana tawaranku kemarin. Apakah kamu sudah memikirkannya ?" Tanya Mike sambil memalingkan wajahnya agar Mega dapat mendengar suaranya.
__ADS_1
"Aku belum siap. Aku akan mengabarimu jika puisi-puisiki sudah siap," jawab Tania. Ia sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Mike. Barulah di saat itu, jarak duduknya sedikit lebih dekat pada Mike.
Mike kembali diam. Ia membiarkan suasana berbeda ini terjadi begitu saja. Begitu juga Mega, ia sedang berusaha agar perasaannya pada Mike tidak muncul lagi. Ya, semoga ia bisa karena Mike memang tidak bisa membalas cintanya. Inilah yang terbaik untuk mereka.
"Kabari aku segera agar aku bisa mengatur waktuku dan mengatur pertemuanmu dengan Kevin," kata Mike lagi. Mega hanya mengangguk di belakangnya.
Mike kembali fokus memandang ke depan, sesekali mencari celah jalanan yang bisa untuk menyelipkan sepeda motornya. Jalanan agak ramai sehingga seperti biasa, selalu menyebabkan kemacetan.
"Mike, apakah kamu telah menyukai gadis lain ? " Tanya Mega seketika. Kaget mendengar pertanyaan Mega, Mike hampir menabrak sebuah mobil angkot di depannya. Ia segera mengerem dengan sekuat-kuatnya. Mega terhunyuk memeluknya. Mega kaget dan ketakutan menyadari kegugupan Mike yang hampir membuat mereka celaka. Tentu saja hal-hal yang dadakan berubah seperti ini semakin meyakinkan Mega tentang apa yang ia pikirkan akhir-akhir ini.
"Ada apa Mike ?" tanya Mega seketika.
"Maafkan aku Mega. Angkotnya berhenti tiba-tiba," jawab Mike sekenanya dengan suara gemetar. Mike seperti disambar petir mendengar pertanyaan Mega. Wajahnya memerah. Ia belum sempat menjawab pertanyaan Mega. Pikirannya mulai berkecamuk. Ia berpikir keras apakah Mega menyadarinya bahwa ia memang sedang jatuh cinta pada gadis lain ? Ia mulai berperang hebat melawan pikirannya sendiri.
Mike terus menatap kedepan, berpura-pura lupa akan pertanyaan Mega.
"Sebentar lagi sampai di kost Mega, semoga ia tidak bertanya lagi," ia membatin.
Mike sengaja fokus memperhatikan jalanan yang masih ramai agar terlihat tidak tahu bahwa ia belum menjawab pertanyaan Mega.
Ia mengurangi kecepatan ketika hendak sampai di depan kost Mega. Mike menghentikan sepeda motor sesaat lalu hendak langsung pergi ketika Mega turun dari sepeda motor.
"Mike, kamu belum menjawab pertanyaanku," tanya Mega tiba-tiba, menghentikan niatnya untuk segera pergi. Wajahnya memerah. Jantungnya berdegup kencang.
"Belum. Aku akan memberitahumu jika ada," jawabnya setengah gugup.
Mega hanya diam menatapnya. Kedua tangan Mega memeluk erat beberapa buku besar yang ia tempelkan pada dadanya.
__ADS_1
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Mike. Terima kasih sudah mengantarku," kata Mega pelan.
"Siap bos. Jangan lupa makan ya," kata Mike sambil tersenyum pada Mega. Mega mengangguk lalu membalikkan badan dan berjalan memasuki pintu gerbang kostnya.
Mike menarik gas sepeda motornya lalu meninggalkan gang kost Mega. Pikirannya masih kacau. Jantungnya masih berdegup kencang.
"Semoga saja Mega mempercayaiku," ia membatin.
Mike berpikir perang hebat antara Mega dan Tania akan segera dimulai jika Mega telah tahu yang sebenarnya. Ia menjadi takut. Seketika pikirannya tertuju pada Tania. Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika hal itu terjadi.
Mike berusaha memperhatikan jalan di depannya agar sampai dengan selamat di kostnya. Ia mengabaikan sejenak pikiran tentang Mega dan Tania. Pikirannya sudah lega sebelumnya ketika merasakan perubahan yang terjadi pada diri Mega akhir -akhir ini, khususnya yang ia rasakan hari ini. Sejak malam itu di taman, Mega sepertinya telah berubah pada Mike.
Hari ini Mega sedikit sekali berbicara. Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan Mike padanya. Tidak ada permintaan untuk singgah ke taman dan menghabiskan waktu mereka berdua disana. Semuanya terlihat seolah-olah baik-baik saja, Mega memang sedang berusaha keras membunuh perasaannya pada Mike. Dia belajar ikhlas.
Namun pertanyaan Mega yang hampir membuat mereka celaka tadi benar-benar mengganggu pikiran Mike. Mike pikir Mega akan melupakannya ketika ia berpura-pura tidak mengingatnya lagi. Yang Mike pikirkan saat ini ialah ketakutannya waktu itu akan terjadi - ketika Mega kembali dari kampung dan ia sedang berusaha untuk menaklukan hati Tania - ia tidak ingin melihat pemandangan dua orang gadis berkelahi dan saling menjambak rambut.
Mike memarkir sepeda motornya setelah sampai di kost. Ia membuka pintu kamar dengan cepat lalu masuk, meletakkan tasnya di atas kursi lalu merebahkan tubuhnya pada ranjang.
"Tuhan, bantu aku. Semoga semua baik-baik saja," ia berbicara sendiri memohon pada Tuhan. Kedua tangannya diusapkan pada wajahnya, sesekali meremas-remas kepalanya.
Pikirannya kini kacau lagi. Terjebak di antara perasaannya pada Tania dan perasaan Mega kepadanya. Ia benar-benar bingung harus bagaimana. Apa yang harus ia katakan pada Mega ketika ia telah berhasil menjadikan Tania sebagai kekasihnya ?
Wajahnya biasa-biasa saja, tidak tampan dan menarik. Tapi kenapa ia harus terjebak pada rasa ini ? Ahh, Mike benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini.
"Semoga Mega cepat jatuh cinta pada Kevin agar ia pun segera merelakan Mike untuk menjadi milik orang lain."
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
__ADS_1
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati.🌹