
"Bolehkah aku memelukmu ? Hanya memelukmu, tidak lebih. Sesuatu yang berharga harus dijaga agar tidak hilang, bukan ? "
.
.
.
.
.
Setelah beberapa jam bergadang dan mendengarkan Kevin melantunkan lagu-lagu romantis dari suara indahnya, Mega akhirnya tak kuasa lagi menahan kantuknya. Sudah sedari tadi ia menguap beberapa kali namun ia paksakan matanya karena kekasihnya belum usai memanjakan telinganya.
"Aku sudah tak bisa menahan kantukku, Kevin. Jika kamu masih ingin duduk, lanjutlah sendiri. Aku duluan ke kamar."
Mega mengatakan apa yang ia rasakan saat ini sambil sedikit bermanja memeluk kekasihnya dan menyenderkan kepala di bahu kekasihnya.
"Masuklah duluan, aku akan menyusul sebentar lagi," sahut Kevin lembut.
"Baiklah, aku lebih dahulu."
"Ada tempat yang akan kamu sisakan di sisimu untukku, bukan ?"
Mega tak menjawab dengan perkataan, ia hanya melemparkan senyuman manisnya. Kevin paham betul arti dari senyuman itu.
Mega berdiri dan berlalu pergi meninggalkan kekasihnya yang masih ingin duduk sendirian ditemani gitar kesayangannya. Ia memainkan intro sebuah lagu yang sebelumnya telah dinyanyikannya, tentu saja lagu yang ia nyanyikan di sebuah cafe ketika ia menyatakan perasaannya pada Mega.
Kevin memasukan kembali gitarnya ke dalam tasnya dan meletakkan ke atas meja. Ia meraih handphonenya, memainkan jarinya di layar androidnya beberapa saat lalu berdiri menenteng lagi gitarnya ke dalam kamar.
Entah sudah terlelap atau belum, disana Mega telah membungkusi tubuhnya dengan selimut yang telah disediakan di villa itu. Kevin perlahan-lahan naik ke ranjang dan merengsek masuk ke dalam selimut yang telah menyelimuti tubuh kekasihnya.
Mega menyadari hal itu bahwa kekasihnya telah berada seranjang dengannya. Ia membuka matanya lalu membalikkan badannya ke arah Kevin. Kevin menatapnya sambil tersenyum.
"Apakah kamu benar-benar mengizinkanku untuk tidur seranjang dengamu, Mega ?"
Mega hanya tersenyum membalas pertanyaan kekasihnya.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak takut ?" tanya Kevin menggodanya.
"Jangan membuatku berubah pikiran dan kamu akan tidur di sofa malam ini."
Kevin tersenyum mendengar apa yang dikatakan Mega.
"Kalau kamu bisa, lakukan saja," kata Kevin spontan hanya untuk mencobai kekasihnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan ? Asalkan kamu tidak melanggar janjimu."
Lagi-lagi Kevin tersenyum mendengar apa yang dikatakan kekasihnya. Dengan perlahan tangan kanannya menyentuh dagu kekasihnya. Mega menatapnya tajam dengan tatapan manjanya.
"Bolehkah aku memelukmu ? Hanya memelukmu, tidak lebih. Sesuatu yang berharga harus dijaga agar tidak hilang, bukan ?"
"Jangan merayuku. Tidurlah. Aku sudah tak bisa menahan mataku lagi."
Mega membalikan badannya seketika, seolah-olah memberi tanda bahwa ia memang ingin dipeluk oleh kekasihnya saat ini. Kevin tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Perlahan ia menarik selimut untuk membungkusi tubuhnya dan Mega lalu tangannya bergerak pelan melingkar di pinggang Mega.
Mega merasakan hal itu dan ia membiarkan Kevin melakukannya. Apa yang harus aku takutkan ? Kevin tak mungkin melakukan hal yang aneh padaku malam ini karena dia telah berjanji hanya memelukku, gumamnya.
Kevin berusaha sekali lagi melakukannya namun Mega dengan cepat mengangkat bahunya, menghalangi ruang gerak Kevin.
"Aku mencintaimu, Mega."
Kali ini Kevin berusaha dengan cara lain. Entah apa yang ia inginkan namun ia berusaha merayu kekasihnya dengan kata-kata romantis.
"Aku tahu, sayang. Tidurlah. Besok kita harus bangun lebih pagi, perjalanan kita masih jauh."
Mega menolak dengan sungguh apapun yang akan dilakukan Kevin saat ini. Ia hanya ingin tidur. Membiarkan Kevin memeluknya, itu sudah cukup baginya.
* * * * *
Mega membuka matanya, kedua tangan mengusap mata kiri dan kanannya. Ia menyadari pelulan Kevin masih melingkar erat di pinggangnya. Perlahan-lahan ia membalikkan badannya dan memandangi wajah kekasihnya yang masih tertidur dengan pulas. Waktu menunjukan jam lima pagi.
Mega memindahkan tangan Kevin dengan sangat hati-hati agar tak sampai membangunkan kekasihnya itu. Lalu dengan sangat lembut ia mendaratkan sebuah kecupan hangat pada kening kekasihnya dan segera beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Mega telah selesai mandi, berdiri di depan cermin lemari di dalam kamar dan memandangi wajahnya. Tuhan, terima kasih masih memberiku nafas baru di pagi ini, batinnya.
__ADS_1
Di belakangnya Kevin bergerak membalikkan badan dan mendadak kaget. Sepertinya cahaya lampu kamar membangunkannya. Ia mengusap matanya lalu melihat ke samping dan menyadari Mega telah tiada. Ia mencari dan menemukan kekasihnya sedang berdiri di hadapan cermin yang menempel di lemari pakaian yang disediakan di dalam kamar.
Dengan segera ia beranjak dari ranjangnya dan menghampiri Mega. Ia memeluk kekasihnya itu dan meletakkan dagunya di atas bahu kekasihnya.
"Kamu cantik hari ini, sayang."
Lalu sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Mega. Mega hanya diam, membiarkan itu terjadi.
"Segeralah mandi, sayang. Kita masih harus melanjutkan perjalanan."
Kevin mengangguk kecil lalu melepaskan pelukkannya. Ia tak mengatakan apapun kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Mega masih berdiri di depan cermin. Kali ini ia mulai membaluri tubuhnya dengan body lotion mulai dari ujung kakinya hingga ke lehernya yang tidak terlalu jenjang.
Tak berapa lama Kevin masuk kembali ke dalam kamar sudah dengan wajahnya yang tampan dan segar.
"Jangan terlalu mempercantik dirimu. Aku tak mau banyak lelaki yang akan melirikmu nanti."
Kevin memecah keheningan ketika menyadari kekasihnya masih berdiri di depan cermin sedang berdandan. Entah mengapa, hari ini Mega terlihat menyibukkan dirinya dengan mendandani dirinya sendiri.
"Aku hanya ingin membuatmu lebih percaya diri ketika berjalan berdua denganku."
"Aku mengharuskannya ?"
"Aku yang ingin melakukannya untukmu," sahut Mega sambil tersenyum.
"Jangan terlalu lama. Kita harus segera berangkat sekarang agar tidak terjebak macet."
Mega tak menjawab sepatah kata pun. Ia sibuk memoleskan lipstik berwarna merah muda pada bibirnya yang seksi. Sungguh, hari ini ia tampak serius mempercantik dirinya untuk Kevin.
Mereka meninggalkan villa penginapan mereka dan melanjutkan perjalanan mereka menuju Taman Bunga Nusantara yang letaknya masih cukup jauh.
Udara pagi yang masih sangat dingin dari alam nan indah pegunungan Puncak membuat Mega tak sekalipun melonggarkan pelukkannya. Rasa nyaman dan bahagia campur aduk ia rasakan saat ini ketika berdua bersama kekasihnya.
Selama ini mereka hanya menghabiskan waktu mereka dengan urusan kampus. Mega sama sekali tidak menolak tawaran Kevin ketika kekasihnya itu memintanya untuk touring berdua ke Taman Bunga Nusantara. Meskipun awalnya ia takut akan terjadi sesuatu pada mereka ketika Kevin memintanya untuk membawa pakaian ganti dan itu artinya mereka akan menginap satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Nusantara.
Rasa cinta dan sayang yang ia miliki saat ini pun semakin dalam. Ia tak mau kehilangan Kevin. Tambah lagi, ketakutannya kini terjawab. Tidak ada apapun yang terjadi semalam meskipun mereka tidur berdua seranjang.
"Semoga pelukanmu akan terus hangat untukku hingga kita menua bersama," batin Mega sambil terus mengeratkan pelukannya.
__ADS_1