SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 70-2


__ADS_3

^^^"Maaf jika aku lancang. Entahlah, aku tiba-tiba merasa seperti ingin sekali mendekapmu dan tidak mau kehilangan dirimu."^^^


...----------------...


"Aku merindukanmu," desah Nathan dalam hatinya kemudian dengan cepat tangan kanannya meraih tangan kiri Tania lalu mendekapnya erat. Sangat erat.


Tania tiba-tiba gagap. Tubuh kekar Nathan secepat kilat langsung memeluknya. Tak bisa berkata apa-apa, Tania hanya membisu.


Sama sekali tak ada niat dalam hatinya untuk mendorong tubuh kekar Nathan agar menjauh dari dirinya. Bagaimana mungkin lelaki yang ia kenal beberapa detik lalu langsung mendekapnya begitu saja?


Tania membiarkan hal itu terjadi hingga Nathan menyadari sendiri apa yang ia lakukan lalu perlahan melonggarkan dekapannya dan tersipu malu.


Tania menatapnya tajam tanpa berucap sepatah kata pun pada Nathan.


"Maaf jika aku lancang. Entahlah, aku tiba-tiba merasa seperti ingin sekali mendekapmu dan tidak mau kehilangan dirimu."


Tania masih diam tanpa kata. Tatapannya lekat tertuju pada dua bola mata Nathan yang mulai gugup setelah menyadari apa yang ia lakukan baru saja.


"Kamu hendak kemana? Bolehkah aku mengantarmu pulang?" tanya Nathan tiba-tiba, berusaha mengalihkan tatapan Tania yang masih tajam dan membuatnya gugup.


Nathan tak mendapatkan jawaban apapun dari Tania. Tania masih membisu dengan tatapan yang masih belum berubah.


"Jika tidak, aku akan pergi," kata Nathan lagi dengan usaha yang sama namun sia-sia, Tania tak menjawab apa-apa.


Nathan menundukkan kepala lalu berbalik dan hendak pergi membiarkan Tania berdiri seorang diri. Hujan perlahan sudah mulai berhenti.


"Tunggu..."


Teriak Tania menghentikan langkah Nathan. Lelaki itu belum sempat membalikkan badannya menghadap Tania namun kedua tangan gadis itu telah merangkulnya dari belakang dengan erat.

__ADS_1


Jika sebelumnya Tania dibuat membisu oleh Nathan, kali ini giliran Nathan yang diam dan membisu.


Tania memeluknya dengan sangat erat, menyenderkan kepala pada pundak kokoh Nathan dan memejamkan matanya. Tania menangis.


Seketika Nathan merasakan debaran jantung yang sangat hebat. Ingin sekali ia berbalik dan membalas pelukan hangat itu namun Tania tiba-tiba melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat semula.


...****************...


Tania terduduk lemah di tepi ranjang. Pikirannya masih tertuju pada apa yang baru saja ia lewatkan. Ia menunduk malu, tidak memandang wajah Mike pada foto yang terpajang di dinding kamarnya.


Ia merasa sangat bersalah telah secepat itu memeluk lelaki lain selain Mike, kekasihnya yang telah tiada. Lalu perlahan, titik-titik air mata menetes membasahi pipinya.


Tania lalu merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Sama sekali tak ada keberanian untuk memandang wajah Mike.


"Maafkan aku, sayang. Aku telah mengkhianati cintaku padamu. Tapi aku merasa seperti telah lama mengenalnya. Aku merasakan kehadiranmu dalam dirinya."


Sementara di sana, Nathan membiarkan tubuhnya terguyur air. Ia membiarkan tubuhnya berlama-lama di bawah shower.


"Bagaimana mungkin aku bisa melakukan ini pada seorang gadis yang baru aku temui? Bagaimana jika ia sudah memiliki kekasih, atau suami? Apakah aku telah menodainya?" tanya Nathan seorang diri di dalam kamar mandi.


Ia merasa takut jika ia telah menodai gadis itu dengan apa yang telah ia lakukan baru saja. Ia mengutuk dirinya sendiri.


Ia yang selama ini bersifat dingin terhadap setiap gadis yang ingin mendekatinya. Ia yang sama sekali belum memikirkan hubungan percintaan, hari ini telah bertekuk lutut pada seorang gadis yang baru ia kenal.


"Tapi gadis itu, apakah ia merasakan hal yang sama sepertiku? Bagaimana mungkin ia hanya diam, tanpa kata, lalu tiba-tiba memelukku juga?


"Apakah dia seorang perempuan malam yang sedang butuh sentuhan kehangatan? Tapi, mengapa ia tak menerima tawaranku untuk mengantarnya pulang?"


Nathan bertarung hebat dengan pikirannya sendiri. Entah sudah berapa lama ia membiarkan dirinya terguyur oleh air dari shower. Wajah Tania kini mendapat tempat pertama dan kekal di dalam ingatannya.

__ADS_1


...****************...


Setelah seharian menemani Kevin di cafe, Mega diantar pulang oleh Kevin ke kostnya. Mereka memang belum bisa tinggal serumah karena belum menikah.


Siang malam Kevin standby di cafe miliknya lantaran persiapan untuk pernikahan mereka. Bandnya sendirilah yang mengisi live music di cafe-nya.


Kevin tak mau membebankan semua ke orangtuanya lagi. Ia ingin membiayai sendiri pernikahannya. Semangat yang diajarkan alamarhum Mike padanya masih ia laksanakan hingga saat ini.


"Kamu pasti lelah, sayang. Langsung istirahat ya. Maaf sudah merepotkanmu seharian di cafe," kata Kevin setelah Mega turun dari sepeda motornya.


"Tidak apa-apa, sayang. Ini juga demi kita berdua," balas Mega sambil tersenyum.


Kevin lalu mendekatkan bibirnya dan mengecup kening Mega sebelum ia pergi dan meninggalkan Mega seorang diri.


"Hati-hati, sayang. Jangan bergadang lagi, langsung istirahat. Kamu juga pasti sangat lelah."


Kevin hanya tersenyum dan mengedipkan matanya lalu pergi meninggalkan Mega seorang diri.


Setelah menyelesaikan kuliah, Kevin dan Mega tidak mencari pekerjaan lain. Mereka berdua fokus mengelola cafe milik Kevin yang diberikan oleh ayahnya.


Tiga bulan lagi, Mega dan Kevin tidak akan lagi tinggal terpisah. Keduanya akan sah menjadi sepasang suami dan istri setelah sekian lama menjalin hubungan serius.


Kepergian Mike dari antara mereka sejenak menghilangkan rasa cemburu Kevin untuk selamanya. Ya, terkadang Kevin merasa cemburu melihat kedekatan Mega dan mantan lelaki pujaannya itu.


Kevin memang tak pernah menunjukan sikap lebih ketika ia merasa cemburu. Ia menghargai persahabatan mereka yang telah mereka bangun sejak SMA.


Mike telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan semangat perjuangan yanga masih dimiliki oleh Kevin hingga saat ini.


🌼****Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan kisah Salam Terakhir Seri Kedua. Dukung terus karya ini dengan like, share dan jangan lupa vote. Tuhan memberkati! 🌼

__ADS_1


__ADS_2