
LAURA PoV
Laura merasa lelah selama hampir satu minggu menemani bosnya melakukan perjalanan bisnisnya. Mereka menemui beberapa pemilik cafe ternama di ibukota untuk menawarkan produk kopi mereka.
Bosnya, Tuan Vinsen Fernandez adalah seorang pengusaha kopi yang boleh dibilang sukses. Tuan Vinsen sudah mengangap Laura seperti anak gadis semata wayangnya. Ia tidak memiliki anak, gadis kecilnya Wulan Fernandez meninggal saat masih berusia enam tahun diserang penyakit demam berdarah.
Jika Wulan masih hidup, usianya mungkin tak jauh berbeda dengan Laura saat ini. Istrinya, Nyonya Agnes da Silva selalu tampak murung ketika sekretaris suaminya itu datang ke rumah. Ia selalu memikirkan putrinya.
Saking sayangnya mereka terhadap Laura, mereka kemudian membantu Laura untuk membayar semua hutang ayahnya pada Camat yang memaksa Laura menikahi putranya. Tentu saja sebuah pernikahan paksa - pernikahan yang bukan atas dasar cinta.
Laura menemani bosnya selama beberapa hari di Jakarta dan besok sore mereka akan kembali ke NTT. Bosnya mengizinkannya untuk menghabiskan waktunya malam ini untuk mengelilingi kota Jakarta sedangkan Tuan Vinsen memilih diam di kamar hotelnya untuk beristirahat saja.
Sore itu Laura tampak jenuh di kamarnya. Ia menghabiskan waktu untuk menelpon ibunya dan bermain-main sejenak bersama putri kesayangannya. Ia kemudian memutuskan untuk menerima tawaran Taun Vinsen untuk sedikit mencari udara segar di ibukota.
Sejenak terlintas bayangan Mike. Ia berpikir sejenak lalu memutuskan untuk bertemu dengan Mike malam ini. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan berusaha mencari Mike di meja piket namun tak ada Mike disana.
Ia kemudian menanyakannya pada beberapa security yang lain dan mendapatkan nomor telepon Mike. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelepon Mike.
"Halo, siapa ini ?" Tanya Mike ketika menjawab panggilan dari sebuah nomor yang tak dikenal.
"Mike, ini aku Laura. Aku mencarimu di meja piket tapi tidak menemukanmu. Aku meminta nomormu di salah satu temanmu disini," jawab Laura menjelaskan.
"Oh, baiklah. Ada apa Nona Laura ?" Tanya Mike santai setelah mendengar penjelasan Laura.
"Mike, bolehkan aku bertemu denganmu ? Besok aku akan pulang ke NTT," tanya Laura spontan tanpa berbasa-basi lagi.
"Hah ? Bertemu denganmu ?" Tanya Mike kaget.
"Ya. Apakah kamu keberatan ?" Tanya Laura tajam.
"Hmmm, tidak. Katakan saja dimana aku akan menemuimu," sahut Mike pelan.
"Aku menunggumu di hotel," jawab Laura tegas, lalu menutup teleponnya.
MIKE PoV
Di balik kamarnya yang berukuran kecil dan cukup untuk seorang, Mike tampak gundah. Sepanjang malam ia selalu memikirkan Laura. Semenjak pertemuan mereka malam itu, Mike tak melihat Laura lagi malam-malam berikutnya.
Laura pergi bersama bosnya ketika pagi setelah Mike lepas tugas piketnya dan kembali sebelum Mike masuk lagi.
Perihal melupakan, memang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Yang harus kita lakukan ialah mengikhlaskan. Dan Mike sudah berhasil melakukannya. Ia telah mengikhlaskan Laura dan mendoakan Laura agar bahagia bersama siapapun yang akan menerima dia bersama putrinya.
Sejenak Mike tidak memikirkan tentang Tania dan seluruh pengakuannya. Mike hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan isi hatinya.
Saat ini ia hanya memikirkan Laura. Bayangan Laura yang menghantuinya tak bisa ia hindari. Ia terus-terusan memikirkan Laura. Ia berbaring di ranjangnya, membiarkan tangan sebelah kanannya melintang bebas di atas dahinya sebelum ia dikagetkan oleh suara handphonenya.
Ia segera bangun dan meraih handphonenya. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Tidak seperti biasanya ketika ia selalu mengabaikan panggilan. Kali ini ia tak berpikir panjang untuk menjawabnya.
"Halo, siapa ini ? Tanya Mike setelah menjawab panggilannya.
"Mike, ini aku Laura. Aku mencarimu di meja piket tapi tidak menemukanmu. Aku meminta nomormu di salah satu temanmu disini," jawab Laura menjelaskan.
"Oh, baiklah. Ada apa Nona Laura ?" Tanya Mike santai setelah mendengar penjelasan Laura. Ia sedikit gugup setelah mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Mike, bolehkan aku bertemu denganmu ? Besok aku akan pulang ke NTT," tanya Laura spontan tanpa berbasa-basi lagi. Sejenak Mike menelan ludahnya. Jantungnya sedikit berdegup hebat.
"Hah ? Bertemu denganmu ?" Tanya Mike kaget setelah mendengar apa yang dikatakan Laura.
__ADS_1
"Ya. Apakah kamu keberatan ?" Tanya Laura tajam. Mike semakin tak karuan menahan napasnya yang perlahan-lahan mulai memburu.
"Hmmm, tidak. Katakan saja dimana aku akan menemuimu," sahutnya pelan. Ia menyetujui permintaan Laura.
"Aku menunggumu di hotel," jawab Laura tegas, lalu menutup teleponnya. Mike belum sempat mengatakan apa-apa lagi namun Laura telah menutup panggilannya. Begitu cepat.
Mungkinkah selalu seperti ini seorang sekretaris ketika menelepon ? Mike bergumam.
Ia tak bisa mengelak. Ia telah menyetujuinya dan Laura menunggunya malam ini di hotel. Mike melirik jam tangannya, baru pukul enam belas lewat dua puluh menit. Masih banyak waktu untuk ia memikirkan apa yang harus ia katakan dan memikirkan akan seperti apa pertemuan mereka malam ini.
*****
Mike melangkah masuk ke dalam hotel setelah bersalaman dengan beberapa rekan kerjanya di meja piket. Bukan jadwalnya untuk piket jaga malam ini sehingga ia bebas bertemu Laura.
Rekan kerjanya tidak bertanya banyak, mereka tahu Mike akan bertemu salah satu tamu hotel mereka. Mike mengenakan celana panjang jeans berwarna hitam. Sepasang sepatu berwarna putih menutupi kakinya. Jaket hitam yang pernah ia kenakan untuk membuntuti pertemuan Mega dan Tania ia kenakan lagi malam ini, menutupi baju kaos oblong berwarna putih.
Ia melangkah tanpa ragu-ragu melewati beberapa orang di meja resepsionis, mereka tidak mengenalinya karena ia menutupi wajahnya dengan penutup kepala jaket.
Ia menghentikan langkahnya di depan lift dan memencet tombol untuk membuka liftnya. Ia dengan cepat merengsek masuk ke dalam lift lalu dengan cepat pula memencet tombol tutup dan angka 2 hampir secara bersamaan.
Kamar Laura berada di lantai 2, nomor 21, Mike jelas mengingatnya karenan ia yang mengambil cardlock kamar Laura.
Ia memperhatikan sesaat setelannya pada bayangannya di dinding lift. Dengan penuh percaya diri ia keluar setelah pintu liftnya terbuka tepat di lantai 2.
Ia melangkahkan kakinya lagi mencari kamar nomor 21 dan menghentikan langkahnya setelah menemukan apa yang ia cari. Ia merogohkan tangannya ke dalam saku celananya, mengeluarkan handphonenya lalu menelpon Laura.
"Halo, Mike. Kamu sudah..."
"Aku di depan kamarmu," kata Mike cepat memotong pertanyaan Laura dan langsung menutup teleponnya.
Pintu seketika terbuka, Mike tampak gugup bukan main. Jantungnya berdegup kencang. Matanya membelalak ketika Laura telah berdiri di hadapannya.
Laura tidak mengenakan baju resmi, maksudnya setelan yang sesuai untuk bisa berada di luar kamar. Tentu saja Mike kebingungan. Yang ia pikirkan, Laura telah berdandan dan menunggunya menjemput lalu mereka keluar menikmati indahnya suasana malam ibukota.
"Kamu belum bersiap-siap ?" Tanya Mike kaget.
Laura terdiam sesaat, menyenderkan tubuhnya pada daun pintu kamarnya. Lekukan tubuhnya terlihat sangat jelas, Laura masih seperti gadis remaja yang belum mempunyai anak. Ia sangat pandai merawat dirinya. Tentu saja.
"Lalu untuk apa kamu berdiri depan kamarku jika kita akan keluar dan menikmati udara segar ibukota malam ini ? Kamu bisa menungguku di lobby, bukan ? Kita tidak akan kemana-mana, " Jawab Laura santai tanpa ada sedikitpun menunjukan rasa gugupnya.
Laura melebarkan pintunya dan mengisyaratkan pada Mike untuk masuk.
"Laura, aku pikir kita akan pergi dan berjalan-jalan mengelilingi ibukota malam ini," kata Mike tiba-tiba dan masih menahan langkah kakinya untuk masuk. Laura tidak menggubris.
"Masuklah Mike, atau bosku akan melihatmu," kata Laura sambil berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan beberapa minuman dingin.
Ia juga mengambil beberapa buah apel dan meletakannya di atas mejanya. Laura sama sekali tak mempedulikan Mike yang masih kebingungan di depan kamarnya.
Kamar Laura cukup luas, fasilitasnya pun tergolong mewah. Pantas saja banyak sekali tamu yang memilih menginap di hotel itu. Ketika kita berdiri di depan jendela maka mata kita akan dimanjakan dengan megahnya Monumen Nasional kebanggaan orang-orang di negeri ini.
Mike masih tampak ragu sebelum memberanikan diri untuk masuk. Ia termakan omongan Laura bahwa jika ia tak masuk maka bos Laura akan melihatnya.
Mike langsung duduk pada sofa berwarna coklat yang berada di samping ranjang. Laura sama sekali tak mempedulikan Mike dengan segala kegusarannya. Ia berjalan masuk ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya.
Ia sudah mandi sedari tadi sebelum Mike datang namun belum sempat memakai sabun pencuci wajah ketika handphonenya berdering.
Mike masih bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Laura meninggalkannya sendirian. Ia telah berada di dalam kamar hotel Laura. Ia tidak bisa berbuat apa - apa. Semoga saja tidak ada hal gila yang terjadi, batinnya.
__ADS_1
Laura keluar setelah membersihkan wajahnya. Ia melangkah mendekati Mike. Ia hanya mengenakan baju tidur dress tanktop renda pita berwarna cream sehingga jelas menampakan dadanya yang terbuka.
Mike keringatan. Ingin rasanya ia bangkit berdiri dan meninggalkan Laura seorang diri. Laura tidak mempedulikannya. Ia tahu Mike ketakutan. Ia duduk dan membuka sebotol minuman fanta kemudian menuangkannya pada gelas miliknya dan gelas Mike.
"Minumlah Mike. Kamu tampaknya butuh sesuatu yang dingin," kata Laura menyindir. Mike menyadari bahwa ia ketahuan sedang ketakutan.
"Laura, apakah kita hanya bertemu disini ?" Mike bertanya tiba-tiba. Suaranya gemetar.
"Aku pikir kita akan kuluar dan berjalan-jalan," lanjut Mike lagi dengan gusar.
"Apa yang kamu takutkan Mike ?" Tanya Laura tenang. Ia menenggak minumannya lalu memalingkan wajahnya menatap Mike. Mike semakin gemetar.
"Buka saja jaketmu. Kamu sepertinya kepanasan. Apakah ac di kamarku belum terlalu dingin ?" Pinta Laura tegas.
Dukkkk. Jantung Mike serasa berhenti berdetak. Ia mematung. Pikirannya mulai bermain sangat jauh memikirkan apa yang akan Laura lakukan padanya.
Laura menyadari itu. Perkataannya membuat Mike bisa mati seketika. Namun ia hanya tersenyum.
"Kamu bukan anak kecil lagi Mike. Aku tahu
aku bukan siapa-siapa, hanya masa lalumu," Laura melanjutkan. Ia tampak santai. Tak ada sama sekali rasa gugup. Hanya Mike, dia mematung di sebelah Laura.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu Mike. Tenang saja. Tidak perlu takut."
"Lalu apa maumu, Laura ?" Mike memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu atau dia akan terus mematung. Ia berusaha untuk tenang tetapi masih tak bisa dipungkiri, jantungnya berdegup kencang. Sedangkan Laura hanya tersenyum.
"Hehehe, minumlah dulu Mike. Atau kamu akan mati kepanasan," Laura tertawa kecil mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mempedulikan sedikitpun perasaan Mike saat ini.
Mike meraih gelasnya dan meneguk dengan cepat minumannya. Laura masih tersenyum sinis.
"Tenangkan dulu pikiranmu Mike. Jika tidak kamu akan terus mematung sepeti itu," Laura lagi-lagi mengejek Mike.
Mike belum pernah mengalami hal yang saat ini tengah ia hadapi - berada di samping gadis yang berpakaian seksi dan menampakan lekuk tubuhnya yang masih indah. Sedangkan Laura, ia pernah menikah dan mempunyai anak. Tentu saja hal ini sudah terbiasa meskipun pernikahannya itu bukan berdasarkan cinta.
Mike berusaha keras menenangkan pikirannya ketika Laura berdiri dan meraih sehelai kain tenun daerah NTT dan menutupi tubuhnya.
"Laura, aku..... "
"Masih ketakutan, Mike ?" Laura memotong pembicaraan Mike. Mike seketika diam.
"Maafkan aku Mike. Aku pikir kamu akan merasa biasa saja," kata Laura berusaha mencairkan suasana.
"Apakah kamu belum memiliki kekasih ?" Laura bertanya lagi. Mike hanya diam dan melotot ke arah Lauara. Ia sudah sedikit merasa tenang.
"Aku belum menemukan gadis yang mampu menaklukan hatiku sepertimu," jawab Mike sinis. Sama sekali ia tak memikirkan Tania yang sebenarnya sedang ia sukai saat ini.
"Semoga mereka tidak meninggalkanmu seperti aku meninggalkanmu," sahut Laura menyambar perkataan Mike.
Seketika Mike mengarahkan matanya dan memandangi Laura. Ia sudah bisa menguasai dirinya, tak ada lagi rasa takut dalam dirinya. Laura sudah menutupi tubuhnya.
Laki-laki normal manapun akan merasakan hal yang sama seperti Mike.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati. 🌹
__ADS_1