
"Ibu, aku merindukanmu... "
.
.
.
.
.
Dia Ibuku
Wanita setengah tua itu
Bajunya lusuh-abu abu kecoklatan; kotor
Parang di kanan tofa di kiri-digenggamnya erat
Botol air digantungdi bahu-bungkusan makanan bagai mahkota di kepala
Kakinya tegap melangkah
Dia itu ibuku-ke kebun setelah menjanda
Jika ada yang bertanya
Pergi pagi buta, pulang kala hari mulai gelap
Dia itu ibuku-petani ulung di kampungku
Tak pernah ada keluh-pun kesahnya tak pernah ada
Mike menarik napasnya dalam-dalam lalu perlahan menghembuskannya. Setelah mengusap air matanya, ia menutup kembali buku hariannya - sebuah buku berwarna coklat yang selama ini menjadi ruang curhatan hatinya.
"Ibu, aku merindukanmu..."
Mike menatap dengan tatapan sendu wajah ibunya di layar handphonenya setelah menggoreskan ungkapan hatinya dalam sebuah puisi tentang ibunya.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri, masalah hubungan percintaannya dengan Tania setelah kejujurannya tentang Laura, gadis di masa lalunya itu membuatnya benar-benar dilema. Tania mungkin masih kecewa dengan kejujurannya, begitu juga Laura yang terpaksa harus ia jauhi setelah pertemuan mereka beberapa bulan lalu.
Dan hari ini, entah kenapa Mike memikirkan ibunya yang telah lama ia tinggalkan sendirian. Ayahnya telah lama meninggalkan mereka, sehingga ibunya harus seorang diri mengurus peternakan ayam pedaging peningggalan ayahnya. Selain itu, ibunya pun tak lupa membagi waktu untuk menengok kebun mereka dan ia harus mengurusnya seorang diri.
Terkadang air mata tak bisa diajak untuk bersahabat, selalu menetes dengan sendirinya. Terlebih ketika Mike merindukan belaian penuh mesra ibunya ketika ia masih kecil - memainkan rambutnya hingga Mike tertidur pulas di pelukan ibunya.
Masalah hati yang ia alami saat ini rasanya sangat berat. Ketika memutuskan untuk menjadikan Tania kekasihnya, waktunya sudah terbagi lagi antara kerja, kuliah dan juga harus sesering mungkin bertemu Tania agar rasa saling memiliki di antara mereka semakin bertambah.
Dan hari ini, ia harus rela mengambil cuti - berdiam diri di dalam kamar kostnya selama beberapa hari demi menjaga jarak antara dirinya dengan Laura yang tiba-tiba muncul dengan alasan kerjaan. Pikiran Mike makin kacau karena sesungguhnya ia tak mau menjauhi Laura; toh mantan masih bisa menjadi teman.
Baru saja hendak beranjak dari meja belajarnya, handphonenya berdering. Mike menengok sebentar ke layar androidnya lalu membiarkan handphonenya terus berdering. Ia berlalu pergi begitu saja dan berdiri di depan pintu kamar kostnya dan menarik badannya, menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan lalu masuk lagi kedalam kamar kostnya. Ia bingung harus berbuat apa sekarang.
Ia mengambil handphonenya dan memainkan jarinya di layar handphonenya, sekali lagi handphonenya berdering - panggilan whatsapp kedua dari Laura, gadis yang hadirnya kembali kini membawa pengaruh buruk bagi hubungan Mike dengan Tania.
Sebenarnya semua baik-baik saja bila Mike tak mengatakan semuanya kepada Tania namun ia lebih memilih untuk jujur.
Ia sejatinya tak tega membiarkan Laura mengusiknya seperti ini namun inilah yang terbaik bagi mereka bertiga. Ia tahu di antara kedua gadis ini sama-sama memiliki cinta yang kuat terhadap dirinya. Laura masih mengharapkan dirinya, sedangkan Tania tak mau Mike menduakan dirinya.
Mike mengabaikan lagi panggilan whatsapp dari Laura. Ia meletakkan kembali handphonenya sebelum sebuah notifikasi pesan masuk. Mike meliriknya dan mendapati sebuah pesan dari Laura berbaris diantara pesan grup whatsapp lainnya.
"Aku tahu kamu ingin menjauhiku, Mike. Aku tahu kamu melakukan ini karena terpaksa. Jika kamu tak keberatan, aku ingin menemuimu. Ajak juga kekasihmu, aku ingin menemuinya."
"Katakan, dimana aku harus menemuimu ?"
Singkat. Padat. Jelas. Tak mau berbasa-basi Mike membalas pesan Laura.
"Cafe di hotel tempat kamu bekerja. Aku mennunggu kalian berdua."
Tak menunggu lama, Laura sudah membalas pesan Mike. Tanpa berpikir panjang lagi Mike menyiapkan dirinya lalu berjalan menuju halaman kost, tempat dimana sepeda motornya ia parkirkan. Ia tak mengabari Tania terlebih dahulu. Dengan buru-buru ia mengendarai sepeda motornya menuju kost Tania, tak peduli kekasihnya itu sedang berada di kost atau tidak.
"Mandi, siapkan dirimu. Dandan yang cantik, aku menunggumu di depan kost."
Blak-blakan. Tak banyak yang ia katakan lalu langsung mematikan teleponnya. Tak peduli apa respon Tania, ia memasukan kembali handphonenya ke dalam saku jaketnya.
Semuanya terjadi dengan tiba-tiba. Belum lama setelah mesin motor ia matikan ia sudah langsung menelepon Tania, kekasihnya. Gugup terlihat jelas di wajahnya, kira-kira apa yang akan menjadi pertanyaan pertama setelah Tania keluar dari kamar kostnya.
Di dalam sana Tania mengernyitkan dahinya, namun ia menuruti perintah Mike. Ia menuju lemari pakaiannya dan mengganti pakaiannya, memoleskan sedikit bedak dan memakai lipstik lalu mengambil tasnya dan keluar menuju ke depan kostnya.
Mike tampak semakin gugup. Ia hendak menyalakan sepeda motornya namun pertanyaan Tania mencegahnya.
__ADS_1
"Ada apa ? Kita mau kemana ?"
Mike hanya menatap tajam wajah kekasihnya yang sedang penuh dengan kebingungan.
"Ayo, naiklah. Nanti kamu akan tahu sendiri."
Tak banyak yang Mike jelaskan selain meminta Tania untuk segera naik. Tentu saja Tania masih bingung karena belum mendapatkan jawaban atas pertanyannya. Ia menuruti saja perintah kekasihnya.
Tak ada percakapan sepanjang perjalanan menuju hotel tempat Mike bekerja. Masing-masing berkutat dengan pikiran masing-masing. Mike membayangkan apa reaksi Tania ketika mengetahui kemana tujuan mereka berdua. Dan juga apa yang ingin diinginkan Laura dengan pertemuan mereka hari ini.
Sedangkan Tania masih dengan perasaan yang sama - bingung - ia mau dibawa kemana oleh Mike.
...****************...
"Untuk apa kamu membawaku ke hotel, Mike ?"
Mike tidak menjawab pertanyaan Tania. Ia terus saja berjalan menuju lift sebelah kiri. Ia sengaja menutup wajahnya dengan tutup kepala jaket dan tentu saja hal itu membuat Tania semakin bingung.
"Mike, kamu tak akan berbuat macam-macam denganku disini, bukan ?"
Untuk pertanyaan kali ini, Mike menoleh dan menatap wajah Tania. Ia tak menyangka Tania berpikir seperti itu namun ini resikonya karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Tania, aku meninctaimu. Maafkan aku. Tapi kamu akan mengetahuinya setelah ini."
"Apa maksudmu, Mike ?"
Mike tak menjawab lagi hingga pintu lift terbuka. Ia memegang tangan Tania lalu menariknya masuk ke dalam lift.
"Mike, jangan macam-macam atau aku akan meninggalkanmu disini," ancam Tania.
Tentu saja Tania akan berpikiran seperti itu. Ia ketakutan karena kenyataannya Mike membawanya masuk ke dalam sebuah hotel mewah dan sedari tadi pertanyaannya belum mendapatkan jawaban yang tepat.
"Mike, katakan apa maumu membawaku kesini atau kamu akan menyesal," ancam Tania sambil berbisik karena tak mau suaranya didengarkan tamu hotel lain yang sedang berada dalam satu lift bersama mereka.
"Mike, lepaskan aku atau aku akan teriak," bisik Tania dengan nada geram di telinga Mike ketika Mike menggenggan tangannya dan menariknya keluar setelah pintu lift terbuka di lantai lima.
Mike tak menghiraukan pertanyaan Tania. Tania menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan rasa takut yang menguasai dirinya setelah ia tahu Mike hanya membawanya ke sebuah cafe.
🌼 Dukung terus, jangan lupa like, share, komentar dan vote ya. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia Salam Terakhir. Tuhan memberkati... 🌼
__ADS_1