SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 32


__ADS_3

"Aku ingin menjadi yang paling hangat bagimu. Aku ingin menjadi yang paling tenang di telingamu"


.


.


.


Seperti biasa Tania bangun dan membantu ibu Icha di dapur - menyediakan sarapan dan juga untuk jualan ibu Icha.


Hari ini ibu Icha menyediakan sebuah menu spesial. Ibu Icha memasak nasi kuning untuk makan siang mereka.


Tadi malam ketika sedang duduk menonton televisi, Tania sudah mengatakan pada ibu Icha bahwa ia akan berulang tahun besok. Tania memberikan selembar uang seratus ribu kepada ibu Icha untuk membeli keperluan masak.


"Tania gak bisa bantuin ibu ya, Tania mau siap-siap pergi dulu bu," kata Tania setelah selesai mengupas bawang.


"Iya eneng, ibu mah teu nanaon. Enang pergi aja. Nanti siang baru kita makannya rame-rame ya," jawab ibu Icha.


Tania lalu bergegas ke kamar, menyediakan buku-buku dan beberapa lembar kuisioner untuk penelitiannya.


Ia akan melanjutkan penelitiannya ke beberapa rumah yang belum ia singgahi kemarin.


Baru saja Tania melangkahkan kakinya keluar dari rumah, ia menyadari bahwa ada beberapa pesan masuk yang belum ia bacakan. Pesan dari Mega, dan juga dari Mike. Ada beberapa lagi dari beberapa teman kampusnya.


Tania segera membacanya lalu tersenyum sendiri ketika membaca pesan dari Mike.


"Aku ingin menjadi yang paling hangat bagimu. Aku ingin menjadi yang paling tenang di telingamu. Selamat ulang tahun Tania."


Tania mendadak sedih. Ia jauh dari semua teman-teman dan juga Mike, lelaki yang pada ulang tahun sebelumnya memberikan sebuah kalung yang masih ia kenakan sampai sekarang.


"Aku tahu kamu mencintaiku Mike. Aku ingin sekali hari ini berada di dekatmu. Aku ingin tahu apa yang akan kamu lakukan hari ini," batin Tania lalu terus berjalan.


Tania menghentikan langkahnya pada rumah yang akan ia kunjungi dan menyalami pemilik rumah tersebut. Kebetulan ada balita di rumah itu - Tania lalu melanjutkan tugasnya.


* * * * *


Kevin telah lebih dahulu sampai di kost Mega. Waktu kira-kira jam 08.17 WIB. Ia menunggu Mega, kekasihnya yang sedang menyiapkan dirinya.


Tentu saja lama. Apa lagi yang akan dilakukan para wanita ketika hendak bepergian ? Dandan pastilah yang harus diutamakan.


"Tak apalah Kevin menungguku. Toh Mike juga belum datang," gumam Mega sambil memoleskan bedak di wajahnya. Ia terlihat cantik sekali hari ini.

__ADS_1


Setelah memastikan ia sudah selesai berdandan, Mega mengambil kotak hadiah untuk Tania yang telah dibungkus dalam kado, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kantong hitam. Kantong hitam itu ia masukan lagi ke dalam tas ranselnya. Pas muat.


Ia meraih jaketnya yang ia gantung di samping lemarinya ketika terdengar bunyi motor Mike. Lelaki itu telah datang. Mega segera keluar kost, mengunci pintu kamarnya lalu berjalan ke arah depan - Kevin dan Mike saling bersalaman disana.


"Sudah siap, Mega ?" Tanya Kevin dan Mike hampir bersamaan. Mega menyadari kekompakan kedua lelaki yang bersahabat itu lalu dengan cepat mengangguk - Kevin dan Mike saling berpandangan dan tersenyum.


"Kamu tak membawa kado untuk Tania ? Oh iya, lupa, kadonya cinta ya," kata Kevin meledek.


Mega hanya tersenyum. Ia tahu lelaki itu pasti punya sesuatu yang spesial. Ia yakin sekali karena ia telah mengetahui ide Mike lah sehingga Kevin menyatakan perasaan padanya.


Mike hanya tersenyum sambil mengenakan helmnya.


"Kamu tahu siapa aku, bukan ? Lihat saja nanti," jawab Mike dengan sangat yakin.


Lelaki itu memang tidak membawa apa-apa. Tak ada kado atau apapun. Ia hanya membawa sebuah tas berukuran kecil berwarna hitam, dipadu dengan sedikit warna abu-abu yang melingkar di dadanya.


Semalam setelah pulang kerja, Mike tak bisa tidur memikirkan hari ini. Ia tak tahu apa yang pasti yang akan ia lakukan. Namun satu yang ia yakin, cintanya tak akan ditolak karena ia sendiri sudah mendengar ungkapan Tania pada Mega waktu itu.


Di dalam saku celananya ia hanya menyimpan selembar kertas kecil. Tapi bukan sebait puisi. Hanya itu saja. Tak ada kado, tak ada juga yang lainnya.


"Alamatnya, aman ?" Tanya Mike seketika pada Mega ketika mereka sudah siap untuk berangkat.


"Oke baiklah. Terima kasih Mega," lanjut Mike dengan nada girang lalu menstarter motornya.


"Ikuti aku," kata Mike pada Kevin sebelum mereka meninggalkan lorong depan kost Mega.


Kevin dan Mega mengikuti Mike. Mereka keluar menuju lampu merah Matraman menggunakan under pass sehingga langsung mengambil arah menuju Jatinegara.


Sudah bisa dipastikan bahwa rute perjalanan mereka panjang. Tapi Mike sudah mengaturnya. Ia sudah mengecek di google map dan rute yang akan ia tempuh adalah yang tercepat.


Mereka tidak mengambil jalur Puncak. Menurutnya, lebih cepat via Cibadak, sehingga langsung masuk daerah Sukabumi. Setelah semuanya selesai bersama Tania, barulah mereka akan mengambil jalur Puncak ketika pulang agar Kevin dan Mega bisa bermalam mingguan menikmati indahnya alam Puncak.


* * * * *


Mike menghentikan sepeda motornya di dekat sebuah warung di pinggir jalan, lalu memberikan tanda pada Kevin dan Mega untuk ikut berhenti. Matahari semakin menyengat. Mereka tidak bisa menghindari kemacetan sehingga Mike merasa lelah dan sedikit kram di pantatnya.


"Kite istirahat sejenak," kata Mike sambil melirik jam tangannya. Waktu sudah pukul 12.20 WIB.


Kevin dan Mega turun dari sepeda motor lalu menghampiri Mike.


"Mega, cek lokasinya," titah Mike cepat.

__ADS_1


Mega mengeluarkan handphonenya memainkan jarinya beberapa saat lalu menunjukan pada Mike.


"Sudah dekat. Kalau lancar, dua puluh menit lagi kita tiba disana," kata Mega sambil menunjukan keterangan google map pada layar handphonenya.


"Baiklah, kita istirahat sebentar. Aku mau merokok dulu," kata Kevin sambil berjalan menuju warung di pinggir jalan.


Kevin memesan segelas susu putih, dan sebotol air mineral untuk Mega. Sedangkan Mike tak memesan apa-apa.


Mike mengeluarkan handphonenya, mengetik sesuatu lalu mengirim pada Tania.


"Jangan lupa makan Tania."


Pesannya singkat. Ia tahu gadis itu pasti tak akan meresponnya karena pesannya semalam pun belum dibalas. Mungkin Tania sedang sibuk, pikir Mike positif.


Tapi apa yang terjadi ?


Mike membelalakan matanya. Sebuah panggilan video dari Tania. Tentu saja Mike kelabakan. Ia tak mungkin menjawab telepon itu. Ia tak mau Tania mengetahui rencananya. Ia sudah sangat dekat dengan lokasi gadis itu. Sudah sangat dekat dengan cintanya.


"Sialan. Mega, Kevin, video call dari Tania," kata Mike gusar pada Kevin dan Mega sambil menunjukan panggilan video dari Tania.


"Terima saja, dia merindukanmu bro," kata Kevin dengan nada bercanda.


"Jangan, kita sudah dekat. Biarkan saja dulu," sahut Mega cepat.


Mike membiarkan handphonenya berdering. Ia meletakkan handphonenya ke atas meja di warung lalu memesan segelas kopi hitam.


"Bro, aku minta rokokmu," kata Mike dengan nada gusar. Tapi Kevin dan Mega menjadi tidak tenang. Kevin mengernyitkan dahinya kebingungan.


"Sejak kapan kamu merokok lagi, bro ?" Tanya Kevin heran. Mega pun ikut heran.


"Berikan saja. Aku hanya ingin merokok dan menikmati segelas kopi," jawab Mike tenang sambil menyulutkan rokoknya.


Kevin tertawa bebas. Ia menyadari kegugupan yang dirasakan sahabatnya itu. Wajah Mike memerah. Ia mulai keringatan.


"Belum bertemu Tania saja sudah keringatan, bagaimana kalau sudah bertemu ?" Kata Kevin meledek.


Mike masa bodoh, ia menikmati kopi dan sebatang rokoknya yang sebenarnya sudah ia tinggalkan sejak ia masuk kuliah.


"Ketika gugup menguasaimu, barangkali pahit segelas kopi dan sebatang rokok mampu membantumu agar terlihat lebih tenang."


🌼 Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan ceritanya. Dukung terus karya ini dengan like, dan vote. Komentar darimu semua akan menjadi motivasi berharga bagi saya. Tuhan memberkati. 🌼

__ADS_1


__ADS_2