SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Epoisode 61-2


__ADS_3

^^^"Aku memang sedang terluka. Aku sedang tidak baik-baik saja selepas kepergianmu. Hari-hariku kini terasa hampa. Namun aku sadar. Ibuku benar, hidup harus terus dilanjutkan."^^^


...----------------...


Senja yang syahdu. Dengan dibaluti kain tenun pemberian ibunda Mike, Tania berjalan seorang diri ke makam Mike. Langkahnya terlihat pasti namun ingatannya selalu tertuju pada wajah dan seluruh kenangan tentang Mike. Hati kecilnya meratap. Rasanya belum ikhlas.


Tiga hari sudah Tania berada di rumah Mike. Setelah mendapatkan izin dari orang tuanya, ia berangkat seorang diri ke kampung kelahiran kekasihnya, yang seharusnya akan menjadi tempat masa tuanya bersama Mike bila saja lelaki itu kini masih ada.


Orang-orang yang berpapasan dengannya menyapanya dengan lembut. Dalam hati mereka pun merasa iba melihat kondisi Tania saat ini.


" Begitu cintanya ia pada Mike sehingga ia rela datang dan mengunjungi makam kekasihnya. "


Tania dibawa kembali ke kampung halamannya oleh ibunya ketika ia ikut mengantarkan jenazah Mike ke kampungnya. Dan hari ini, dengan hati yang tabah ia menemui lagi kekasihnya yang kini tak bisa lagi terdengar suaranya.


Tania duduk seorang diri di tepi pusara Mike, menyalakan dua belas batang lilin lalu dengan khusuk berdoa memohon keselamatan Mike. Tanpa ia sadari, air matanya menetes dan membasahi pipinya.


" Aku telah mengikhlaskanmu, sayang. Berbahagialah di rumah abadimu dan jadilah pendoa ulung bagiku, " bisik Tania lembut sambil tangannya mengusapi nisan Mike.


Lagi-lagi air mata Tania jatuh tanpa diundang. Isak tangis Tania seorang diri di samping pusara kekasihnya pertanda ia sesungguhnya belum sanggup menerima semua kenyataan ini. Mike tentu saja mengetahui hal itu. Kekasihnya berbohong.


Setelah ini Tania berencana untuk kembali ke Jakarta seorang diri. Ia akan melanjutkan hidupnya di kota itu, kota yang penuh dengan segala kenangan indah tentang dirinya dan Mike.


" Aku pamit, sayang. Maafkan aku karena tak bisa lagi mengunjungimu di makammu ini. Tapi kau tahu, bukan ? Kamu akan selalu hidup dalam hatiku, " kata Tania lagi; mungkin untuk sementara itu adalah salam terakhirnya untuk Mike, kekasihnya.


Andai saja waktu itu ibunya tak melarangnya, mungkin saat ini Tania bukan lagi hanya kekasih melainkan seorang istri, seorang janda muda yang ditinggal pergi oleh suaminya tepat di hari pernikahan mereka. Ia telah bersih keras untuk tetap menikahi Mike meskupun lelaki itu terbaring kaku dalam keadaan tak bernyawa.


...****************...


Di ruang tunggu bandara, ibu, ayah dan adiknya telah menantinya. Tania mengenakan baju dan celana berwarna hitam. Sarung tenun pemberian Ibu Mike pun tak lupa ia kenakan; sepanjang perjalanan ia terlihat seperti seorang perempuan dewasa ketika mengenakan sarung tenun.


Ayah dan ibu memeluknya. Sang adik meraih tas koper dan menentengnya. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Ayah dan ibu tak menanyakan apa-apa. Mereka tahu, putri kesayangan mereka masih terpukul dengan peristiwa ini. Mereka membiarkan Tania beristirahat di dalam mobil taksi.


" Apakah Ibu dan Ayah nemikirkanku ? " tanya Tania memulai percakapan.


Sang ibu dan ayah saling berpandangan. Raut wajah kebingungan nampak jelas terlihat disana. " Apa tidak salah Tania mengajak kita berbicara ? Bukankah ia selalu diam tanpa mengatakan apapun sejak kepergian Mike ? " tanya ibu Tania di dalam hatinya.

__ADS_1


" Menurutmu Ibu dan Ayah tak perlu melakukannya ? Bagaimana mungkin kami bisa tenang kalau kamu pergi seorang diri dengan keadaan hati yang sedang kacau ? " Ibu Tania bertanya balik lalu kembali memandangi wajah suaminya.


"Ibu pernah mengatakan padaku bahwa hidup harus terus dilanjutkan, bukan ? "


Ibu dan Ayah Tania semakin bingung kali ini ketika mendengar pertanyaan Tania yang satu ini.


"Aku akan kembali ke Jakarta dan melanjutkan hidupku seorang diri. "


Ayah dan ibunya lagi-lagi dibuat bingung oleh perkataannya. Namun Tania tak pedulikan apa yang dirasakan ayah dan ibunya saat ini. Ia menyenderkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Dan untuk kesekian kalinya, air matanya kembali jatuh dan membasahi pipinya. Ayah dab ibunya hanya diam dan saling berpandangan.


Tania tahu, ayah dan ibunya pasti sangat khawatir dengan situasi dan kondisinya saat ini. Namun ini adalah kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup dan melatih dirinya untuk bisa hidup sendir tanpa Mike.


" Kehilangan bukanlah sesuatu yang mudah untuk kita terima. "


...****************...


Tania masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya seolah-olah ia tak mau diganggu. Ia meletakan kopernya ke atas lantai lalu berjalan perlahan-lahan menuju tempat dimana terpajang bingkai foto dirinya dan Mike.


Ia menatap tajam wajah kekasihnya yang sedang tersenyum bahagia. Tanpa sepatah kata pun. Membisu.


Tania meraih kembali kopernya, membukanya dan hendak mengeluarkan pakaian kotornya dari dalam koper. Matanya terbelalak kaget. Tangannya gemetar ketika meraih secarik kertas yang ia temukan di dalam tas kopernya; di antara pakaian-pakaian kotornya.


Kedua kakinya terasa lemas, tak sanggup berdiri lagi. Ia terjatuh lalu terduduk diatas lantai. Ia menangis sejadi-jadinya sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya. Sesuatu yang sulit dipercaya namun nyata di hadapannya. Secarik kertas berisi dua bait puisi yang sangat menyayat hatinya.


" Apa maksudnya ini, Mike ? "


Tania semakin menangis sejadi-jadinya. Ayah dan Ibunya berlari dengan segera dan membuka pintu kamar Tania.


"Ada apa, Nak ? " tanya ibunya dengan segera setelah duduk di samping Tania dan memeluknya dengan erat.


Tania tak mengatakan apa-apa. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu ibunya dan membiarkan ibunya memeluknya. Sang ayah meraih secarik kertas itu dengan cepat lalu memainkan bola matanya disana, membaca seluruh isi tulisan pada kertas itu.


" Bagiamana mungkin ini bisa terjadi ? "


Ibu Tania pun penasaran lalu merampas kertas itu dari tangan suaminya. Pelukan pada putrinya pun semakin kuat. Ia ikutan menangis bersama putrinya setelah matanya selesai melafalkan satu per satu isi tulisan pada kertas itu.

__ADS_1


" Apakah Mike yang melakukan ini ? " tanya ibunya heran.


...Dear Tania...


...Dari matamu aku menemukan cinta......


...Dari hatimu telah kutemukan tempat paling nyaman...


...Mata yang selalu membuatku merasa berharga...


...Hati yang selalu memberiku tempat untuk terus tinggal bersamamu...


...Andai saja waktu dapat kuputar kembali...


...Aku hanya ingin menjadi lelaki paling beruntung...


...Andai saja waktu tidak memisahkan kita...


...Aku hanya ingin berdiri di hadapanmu saat ini...


...Lalu dengan yakin mengucap kata paling cinta ......


...Untukmu perempuan yang telah memberiku cinta...


...Aku ingin hidup dan menua bersamamu...


...Aku ingin mati di sisimu...


" Bagaimana mungkin seseorang yang telah tiada meninggalkan secarik kertas untuk kekasihnya yang masih hidup ? "


Seisi kamar menjadi hening seketika. Hanya suara isak tangis Tania yang terdengar.


" Bu, Mike masih hidup. Ia masih disini. Ia tak mungkin meninggalkanku. Ia sangat mencintaiku. Aku tahu itu, Bu. "


🌼🌹 Holla pembaca nan budiman. Jumpa kembali ya di Salam Terakhir Seri Kedua ini. Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat ya. Dukung terus Salam Terakhir, jangan lupa like, komen, share dan vote ya. Tuhan memberkati.

__ADS_1


Bagi yang belum sempat membaca Seri Pertamanya, yuk mampir dulu ya sebelum lanjut disini ..... 🌹🌼


__ADS_2