SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 13


__ADS_3

"Sepertinya pada dirimu aku telah menemukan tuan atas puisi-puisiku yang telah lama membisu"


.


.


.


Mike masih tertegun. Kakinya gemetar, tak bisa melangkah. Ia bediri di depan meja, sedikit menunduk menatap kosong pada meja di kamar kostnya yang terbuat dari papan lalu difernis rapi. Kedua tangannya menopang di atas meja.


Pikirannya berkecamuk hebat. Masih terngiang dengan jelas di telinganya kata-kata Mega barusan. Mike mencoba melupakan, menganggap biasa saja karena ia tidak akan memaksakan kehendaknya untuk luluh dan membalas cinta Mega padanya tetapi penegasan Mega benar-benar mengganggunya.


Mike bisa saja dengan jelas mengatakan pada Mega bahwa ia tidak akan bisa menerima cinta Mega. Mike bisa saja mengabaikannya tetapi ia tidak bisa. Yang ia pikirkan sekarang adalah Tania, apa yang akan terjadi jika ia menolak Mega dan Mega tahu ia mencintai gadis lain.


Mike mundur seketika dan mendapati ranjangnya. Ia merebahkan tubuhnya mencoba menutup mata melupakan semua kata-kata Mega yang terngiang di telinganya barusan.


Tapi lagi-lagi ia tidak bisa. Semakin ia mencoba melupakannya semakin itu hadir dan menghantui pikirannya. Mike benar-benar tersiksa oleh perasaannya sendiri pada Tania dan perasaan Mega padanya. Ia terjebak pada cinta yang bertolak belakang; Mega mencintainya tetapi ia sudah menanamkan benih cinta untuk mencintai orang lain.


Mike memaksakan diri untuk memejamkan matanya, mencoba untuk tidur karena ia harus masuk kerja shift malam, sampai-sampai ia lupa untuk makan siang. Ia tidak lagi mempedulikan perutnya, nanti saja di tempat kerja baru mencari makan disana, pikirnya.


*****


Mike tiba lebih cepat tiga puluh menit di tempat kerja sebelum pergantian piket. Sudah ada rekan jaga shift malamnya yang juga sudah tiba disitu. Mike lalu menyempatkan diri mencari makan di sekitar untuk mengisi perutnya agar bisa bertahan sepanjang malam ini.


Mike berusaha melupakan masalahnya ketika sudah berada di lingkungan kerja agar bisa fokus menjalankan tugasnya.


Baru saja selesai makan dan hendak kembali ke lobby utama tempat ia akan bertugas malam ini, handphonenya berdering, ada panggilan masuk dari Tania.


Mike tertegun sejenak melihat layar handphonenya. Dalam hatinya ada sedikit rasa bahagia Tania menghubunginya , tapi di sisi lain ia gugup apa yang harus ia katakan pada Tania. Namun ada keberanian yang mendorongnya, tangannya kemudian menggeser tombol hijau pada layar dan mencoba menjawab telepon dari Tania.

__ADS_1


"Halo, Tania," jawabnya cepat berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya. Ini pertama kalinya Tania meneleponnya.


"Halo, Mike. Apakah aku mengganggumu ?" tanya Tania di seberang.


"Tidak, Tania. Aku baru saja tiba di tempat kerja, aku masuk shift malam hari ini dan akan pulang besok pagi jam tujuh," jawab Mike cepat.


"Oh, baiklah. Maaf aku tidak bisa bertemu denganmu kemarin. Aku benar-benar sibuk sehingga lupa mengabarimu," kata gadis itu sembari meminta maaf.


"Oh, baiklah. Tidak apa-apa. Setidaknya aku merasa lega sudah mendengar suaramu," Mike menjawab dengan nada santai sambil tersenyum sendiri.


"Hmm, jangan merayuku," sambar Tania cepat.


"Aku sedang tidak merayumu. Kamu tahu, aku memikirkanmu sepanjang malamku. Aku pikir kamu risih dengan caraku dan akan menjauhiku," katanya dengan nada sedikit memelas.


"Katakan sesuatu tentang puisinya, apakah kamu membacanya lagi ?" tanya Mike lagi seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada Tania untuk memotong pembicaraaannya.


"Hehehehe, terima kasih puisinya. Aku menyukainya. Untuk pertama kali dalam seumur hidupku seorang lelaki menuliskan puisi untukku," kata Tania sambil terkekeh.


"Lalu apa ?" tanya Tania cepat, lalu diam sesaat.


"Aku memajang puisimu di dinding kamarku," lanjut Tania lembut.


Mike tersenyum sendiri mendengarnya. Ia tertegun sesaat mendengar apa yang dikatakan Tania. Mike tersenyum sendiri ketika mengetahui bahwa puisinya dipajang pada dinding kamar Tania.


"Tania, kamu adalah puisi-puisi tak bertuanku yang selama ini membisu," katanya pasti.


Memang ia merasa ia telah menemukan mood baru untuk lebih semangat dan berusaha melupakan masalahnya yang ada.


"Aku rasa aku menemukan tuan atas puisi-puisiku," Mike berkata lagi sambil tersenyum. Ia mendengar dengan jelas suara kekeh Tania di seberang. Tania tertawa malu-malu bahagia.

__ADS_1


"Hahaha, kita baru berkenalan. Jangan terlalu cepat menjadikan aku tuan atas puisimu, " Tania menyahut lembut sambil terkekeh di seberang.


"Jika demikian, jangan berusaha untuk lari dariku. Aku pastikan, aku tidak akan salah bila harus memilihmu," kata Mike lagi dengan cepat, Tania hanya diam di seberang.


"Sudah dulu ya. Semangat kerjamu. Jaga dirimu," sambung Tania cepat memecah keheningan sesaatnya lalu mematikan telepon.


Mike tersenyum sendiri. Jika ada yang melihatnya mereka akan mengira dia sedang bahagia tetapi nyatanya, dia sedang berhadapan dengan masalah besar dalam hidupnya - berusaha menaklukkan hati Tania dan menolak cinta Mega dengan cara baik-baik.


Selama ini, menulis puisi baginya hanya sekadar hobby saja. Ia membayangkan sedang mencintai seseorang, merasakan seolah-olah sakit hati dikhianati, dan memperjuangkan seseorang yang ia cintai.


Semuanya ia lakukan hanya dengan berimajinasi karena ia belum memiliki kekasih sungguhan. Namun sejak malam itu, bayangan Tania selalu hadir dalam setiap ingatannya. Tak ada kuasa dalam dirinya yang mampu mengusir bayangan Tania.


Benar, ia berani menjadikan Tania sebagai tuan atas puisi-puisinya yang selama ini belum bertuan lantaran kehadiran Tania yang secara tiba-tiba sejak malam itu memompa semangatnya untuk mencurahkan semua yang ia rasakan dalam hatinya tentang cinta - bukan lagi tentang kehilangan yang ia imajinasikan - dan Tanialah tujuannya.


Entah apa yang istimewa dalam diri Tania, Mike belum menyadarinya. Yang ia tahu, ada rasa ingin memiliki gadis itu. Ada rasa ingin menjadikan gadis itu teman hidupnya dan menjadi tuan atas puisi-puisinya.


Ia sama sekali tak memikirkan Mega yang mati-matian berusaha mendapatkan cintanya. Baginya, ia hanya mampu menerima dan mencintai Mega sebagai teman, sahabat dan saudari bagi dirinya. Tidak lebih.


Ia akan berusaha keras menolak cinta Mega padanya namun harus dengan cara yang bijak agar apa yang ia lakukan tidak melukai perasaan Mega sedikitpun.


Mega hanya perlu mengerti dan memahaminya saja. Ia pun tak harus memaksakan kehendaknya sendiri karena justru disitulah letak rasa sakit yang sesungguhnya, mencintai namun tak dicintai dan itu pasti sungguh menyakitkan.


Mencintai seseorang memang butuh perasaan yang sama dari orang yang kita cintai agar kita mampu mewujudkannya dalam perjalanan hidup selanjutnya.


Toh apa untungnya jika suatu saat kamu memilikinya namun sesungguhnya dia sedang membohongi perasaannya sendiri bahwa ia tak mencintai dirimu ? Bahagia, atau luka yang akan kamu dapatkan ?


Mike tak mau hal itu terjadi jika ia membohongi dirinya untuk menerima cinta Mega lantaran kasihan, tak mau melihat Mega terluka. Apa yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik bagi dia dan Mega.


🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.

__ADS_1


Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.


Tuhan memberkati.🌹


__ADS_2