SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 26


__ADS_3

Seperti biasa setelah pulang dari kampus, Mike mengajak Mega untuk singgah ke Taman Kenangan. Ia beruntung, hari ini Mega menyetujuinya - mereka kembali meski tak seperti dulu.


Mega tentu saja menjaga jarak karena ia sekarang adalah kekasih Kevin. Kembali ke taman adalah salah satu hal yang akhir-akhir ini ingin ia lupakan namun karena Mike memaksanya, ia mengiyakan meskipun dalam hatinya menolak.


"Aku ingin berbicara denganmu, Mega. Kali ini saja. Kembali ke taman bersamaku," rengek Mike ketika keluar dari ruangan kelas.


Sesampainya mereka di taman, Mega tak menunggu Mike yang sedang memarkirkan sepeda motornya. Ia berjalan terlebih dahulu, toh tidak kemana-mana, pasti di tempat yang sama.


Mega menunjukan aura tak berseri sama sekali. Mike menyadarinya namun ia masa bodoh. Ia tahu Mega sedang berusah menjaga jarak karena sekarang Mega adalah kekasih Kevin, temannya.


Mega bukan lagi gadis bodoh yang masih mengharapkan cintanya, ia kini tengah bahagia dengan lelaki yang mencintainya.


"Aku tahu kamu tak ingin lagi ke tempat ini, Mega," Mike membuka percakapan setelah menyusul Mega yang telah duduk di tempat biasa.


"Sebentar lagi ulang tahun Tania. Aku ingin kamu membantuku," pinta Mike sambil memainkan ekor matanya.


Mega seketika memancarkan aura bahagia. Ia tersenyum.


"Kamu serius ? Apakah kamu akan menyatakan perasaanmu, Mike ?" Mega menyerang Mike. Ia telah tersenyum.


Rupanya ia telah menunggu saat ini tiba agar ia tak lagi menyiksa dirinya untuk terus memikirkan Mike. Menurutnya, ia akan baik-baik saja tanpa memikirkan Mike lagi jika Mike sudah mempunyai kekasih, dan inilah saatnya.


Ia tahu ia salah jika kembali memikirkan rasa itu. Mike harus segera mempunyai kekasih agar kekasihnya itulah yang ajan selalu menemaninya. Gadis siapapun yang akan Mike jadikan kekasih, Mega akan dengan senang hati mendukung.


"Katakan, apa yang mau kamu lakukan ? Apakah aku harus memberitahu Kevin ?" Tanya Mega lagi dengan semangat.


"Tentu saja, Mega. Kevin harus tahu," sahut Mike datar.


"Katakan Mike, apa yang akan kamu lakukan ?" Taya Mega lagi penasaran.


Mike hanya diam. Ia mendehem kecil sambil memainkan handphone di tangannya.


"Kalian akan tahu nanti. Yang harus kalian lakukan adalah mengajak Tania untuk pergi bersama kalian, aku akan datang kemudian, aku akan berpura-pura tidak bertemu dengannya karena aku masuk kerja. Selebihnya kalian akan lihat nanti. Hehehehe," terang Mike sambil tertawa.


Mega tersenyum kecil. Ia penasaran apa yang akan Mike lakukan.


"Baiklah kalau begitu. Itu soal mudah. Aku akan memberitahu Kevin. Aku akan mengabarimu nanti," jawab Mega santai.


Keduanya lalu diam. Mike masih memainkan handphone, memutar-mutarnya. Tatapannya tak menentu. Ia tampak serius.


Mega pun demikian. Ia memegangi handphone dan mengabarkan kepada Kevin tentang rencana Mike.

__ADS_1


"Ayo, aku mengantarmu pulang," pinta Mike seketika. Mega mengangguknya. Mereka meninggalkan Taman Kenangan - Mike mengantar Mega kembali ke kostnya.


Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, sebaiknya kita pulang atau aku akan tersiksa disini mengenang rasa yang pernah ada.


*****


Mike mengenakan pakaiannya setelah selesai mandi. Ia melangkah mendekati meja, mengeluarkan beberapa buku dari tas lalu membuka dan mempelajari kembali semua pelajaran yang ia dapatkan hari ini di kampus.


Satu jam berlalu. Setelah belajar, ia memutuskan untuk langsung tidur karena besok, seperti biasa ia akan masuk shift pagi. Mega menawarinya makan tadi di kostnya sehingga Mike tak perlu lagi harus keluar dan membeli makan malamnya.


Mike melangkah mendekati ranjang dan meraih bantal gulingnya. Tak ada sesuatu yang ia pikirkan saat ini. Ia sengaja tak menanyakan kabar Tania. Namun, ketika hendak memejamkan matanya bunyi handphone mengagetkannya.


Dengan segera ia beranjak mendekati meja dan meraih handphone, membaca sejenak apa yang tampil pada layar handphonenya - sebuah panggilan video dari Laura.


Ia memegang handphone dan membawanya ke ranjang, ia akan menjawab panggilan Laura dalam keadaan sedang berbaring. Dengan cepat Mike membuat gerakan ke atas pada layar untuk menjawab.


"Halo, Mike. Apakah aku mengganggumu ?" Tanya Laura sambil tersenyum ketika berhasil mendapati wajah Mike pada layar handphonenya.


"Tidak, Laura. Kamu sudah sampai ?" Mike bertanya balik sambil menebar senyum.


"Ya, baru saja sampai di rumah. Bosku menyuruh sopirnya mengantarku," jawab Laura sekenanya. Ia sedang duduk tapi bukan di kamarnya, masih terdengar suara ayah dan ibunya, juga Rachel anaknya. Laura sedang bermain bersama anaknya.


"Sebentar lagi, aku masih bermain sama Rachel. Aku merindukannya," jawab Laura. Laura memanggil anaknya, menggendongnya lalu meminta anaknya menyapa Mike.


"Pa,,, pa," Rachel menyapa Mike dengan kata yang masih belum jelas ia ucapkan. Laura tertawa meperhatikan tingkah anaknya. Mike hanya tersenyum.


Laura lalu menggendong Rachel dan berpamitan pada kedua orang tuanya untuk masuk ke kamar. Ayah dan ibunya saling berpandangan, mereka mengira itu adalah kekasih baru Laura.


"Dia memanggilmu Papa, hehehehe," Laura menerangkan pada Mike sambil tertawa.


"Hehehe, lebih tepatnya Om, kamu harus mengajarinya," balas Mike sambil tersenyum.


Laura membaringkan Rachel di sampingnya lalu kembali menatap wajah Mike pada layar handphonenya.


"Aku merindukanmu, Mike," kata Laura membisik. Rachel meracau tak jelas di samping ibunya seolah-olah mengatakan sesuatu namun tak jelas. Mike hanya tersenyum.


"Hehehe, sudah kuduga kamu akan merindukanku," jawab Mike mengejek. Laura hanya tersenyum.


"Aku serius Mike. Andai saja aku dapat memutar kembali waku yang telah lewat, aku ingin mewujudkan cintaku padamu," kata Laura pelan. Ia tak lagi menunjukan aura cerianya.


Memang, rasa cintanya pada Mike begitu dalam sampai detik ini. Apalagi setelah pertemuan mereka di Jakarta, Laura merasakan dengan sungguh kedamaian dan kebahagiaan yang belum sama sekali ia dapatkan dari mantan suaminya.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana ? Semuanya sudah berlalu. Aku harap kamu mengikhlasinya, Laura," kata Mike serius menatap wajah Laura dengan erat.


"Enathlah Mike. Aku rasa aku tak bisa melupakanmu, apalagi setelah sekian lama kita akhirnya bertemu kembali."


"Aku juga tidak melupakanmu, Laura. Yang harus kita lakukan saat ini bukan saling melupakan tapi harus saling mengikhlaskan," potong Mike cepat.


Laura hanya diam. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan sebelumnya ketika meninggalkan Mike tanpa berita. Pikirnya, Mike pasti akan menunggunya jika saja ia mengatakannya pada Mike waktu itu.


"Aku tahu ini tidak mungkin, Mike. Apakah kamu benar-benar tak ingin menerimaku lagi ?" Tanya Laura tajam.


"Laura, ini bukan soal... "


"Apakah karena aku telah menikah dan mempunyai anak dari lelaki lain ?" Tanya Laura cepat memotong pembicaraan Mike.


"Ahh, kau ini. Aku tidak berpikir sampai kesitu, Laura. Tolonglah mengerti," Mike membalas dengan cepat lalu diam sesaat.


"Mungkin ini sudah jalan yang harus kita terima. Aku tidak mau kamu memikirkan hal ini lagi, Laura," lanjut Mike lagi. Laura diam.


"Aku memahami apa yang kamu alami. Aku menghargai keputusanmu waktu itu meskipun aku baru mengetahui itu setelah bertahun-tahun lamanya. Biarlah kita menjadi teman saja. Aku akan selalu ada untukmu jika kamu meminta bantuanku, Laura. Aku berjanji padamu," lanjut Mike lagi berusaha menenangkan Laura.


Mike tahu ini berat untuk Laura namun ia harus berusaha untuk nenguatkan Laura. Ia telah lama mengikhlaskan Laura. Laura harus bahagia dengan keadaannya sekarang.


"Aku mencintaimu, Mike. Aku merindukanmu," kata Laura lagi sambil memiringkan badannya. Suara Rachel tak kedengaran lagi.


"Laura, jika kamu mencintaiku maka kamu harus bisa mengikhlaskan hubungan kita yang sudah lama berakhir. Jangan menyiksa dirimu dengan terus memikirkan hubungan kita. Kamu harus bahagia dan membesarkan Rachel," balas Mike berpinta.


Laura hanya diam. Dalam hatinya ia menyimpan luka teramat dalam - menyesali perpisahan mereka - pertemuannya dengan Mike menyadarkannya bahwa cintanya memang hanya untuk Mike seorang.


"Sudahlah Laura. Kamu istirahat. Kamu pasti kecapean. Aku besok masuk kerja pagi jadi aku tak bisa lama-lama," kata Mike meminta Laura untuk menyudahi pembicaraan mereka.


Sudah tak ada lagi yang perlu diperjuangkan lagi. Yang harus mereka lakukan adalah saling mengikhlaskan dan saling mendukung satu sama lain agar bahagia dengan jalan hidup mereka masing-masing.


"Baiklah Mike. Istirahatlah. Aku merindukanmu," bisik Laura pelan. Mike hanya tersenyum.


"Aku juga Laura. Tidurlah. Peluk cium buat Rachel ya," balas Mike. Laura hanya mengangguk lalu menutup panggilan videonya.


Mike membiarkan handphonenya tergeletak sesaat di dadanya. Ia menarik napas dalam. Sebetulnya ia pun masih menyayangi Laura namun ia sudah berusaha semampunya selama ini untuk mengikhlaskan Laura.


Mike mengambil handphone di dadanya, meletakkan kembali ke meja lalu kembali ke ranjang dan memeluk bantal gulingnya.


Yang perlu kita lakukan untuk tetap berdamai dengan masa lalu bukanlah melupakan - itu tak akan bisa - melainkan mengikhlaskannya

__ADS_1


__ADS_2