
Alle pergi menuju jendela apartemennya itu meninggal kan Dion sendiri di kamar rahasia itu. Alle melupakan sesuatu, ia kembali lagi ke kamar Dion di rawat.
Sesampainya di sana, Alle langsung mengangkat suaranya.
"Kamu jangan kasih tahu sama Citra ya, kalo aku kasih tahu kamu tentang tantangan itu. Pliss ya, pliss, " Pinta Alle kepada Dion sambil mengagumkan kedua tangannya.
"Okey, " Sahut Dion singkat.
"Besok kita berangkat sama sama! " Sambung Dion. Alle terkejut mendengar perkataan Dion.
"Gausah, aku bisa kok naik bus. Besok jadi pusat perhatian gimana? kan aku jadi risih," Ucap Alle.
"Berangkat sama sama, atau gue kasih tau sama Citra! " Ancam Dion. Akhirnya Alle menyetujuinya.
Saat Alle hendak pergi, Dion tiba tiba menarik tangannya hingga ia jatuh menindih tubuh Dion.
Dion dan Alle melototkan matanya masing masing. Dion merasa tidak asing dengan wajah Alle. Sedangkan Alle, Jantungnya berdegub kencang.
"Maaf, " Kata Alle.
Dion menganggukkan kepalanya, "Ini juga salah aku, " Alle terkejut mendengar Dion bercakap dengan mengatakan 'Aku'. Rasanya Alle sangat bahagia.
Alle belum mengetahui bahwa ia hanya menjadi pacar Dion agar Meysa, musuh Alle sendiri agar cemburu kepada Dion.
Alle segera bangkit dari tubuh Dion dan segera pergi ke kamarnya untuk bersiap siap ke kafe milik Citra.
Citra juga memiliki perusahaan dan kafe sama halnya dengan Alle. Hanya saja Alle lebih besar perusahaannya.
***
Sesampainya di kafe, Alle langsung turun dari mobilnya. Ia sekarang tidak menjadi culun melainkan memakai masker untuk berjaga jaga agar musuhnya tidak mengintainya.
Alle mencari Citra di seluruh penjuru kafe, lalu pandangan Alle bertemu dengan pandangan Citra dan Jenry yang ternyata berada di ujung.
Alle menghampiri mereka, Citra dan Jenry belum menyadari kehadiran Alle.
Jenry yang sibuk dengan ponselnya, sedangkan Citra sibuk dengan mimpinya.
"Woy! " Jenry mendongak ke arah Alle dan tersenyum. Sedangkan Citra masih setia dengan mimpinya.
"Jen, dia tidur? " Tanya Alle sambil berbisik. Jenry menjawabnya dengan menganggukan kepalanya.
Alle berniat akan mengejutkan Citra, namun di hentikan Jenry. Alle mengerutkan dahinya.
Jenry ternyata ingin ikutan mengejutkan Citra. Jenry menghitung dengan jari tangannya.
Satu....
__ADS_1
Duaa...
Tiga...
"DOORR!!! "
"EH ALLE CIUM DION! " Citra spontan mengucapkan dengan nada yang terkejut.
Sedangkan Alle melototkan matanya, Jenry menahan tawanya.
"Heh! Sejak kapan gue cium Dion? " Protes Alle kepada citra. Citra mengucek matanya, dan melihat Alle yang sudah berada di hadapannya.
"Loh, Alle? Kapan datangnya? " Citra sengaja mengalihkan perkataannya agar Alle tidak marah padanya.
"Oiy, Jawab dulu pertanyaan gue! Kapan gue cium Dion? " Tanya Alle.
"Kan gua gak sengaja kupret! Orang kalian yang ngejutin gue, yah gue spontan langsung ngucapin itu, " Ucap Citra sewot.
"Cih, gak sengaja. Padahal dia juga kepengen ciuman sama jenry, " Ucap Alle yang hanya terdengar oleh Citra.
"Ish, apaan sih! " Citra menyemburatkan semua merah di pipinya. Alle terkekeh.
"Jadi gimana? Dia mau jadi pacar lo? " Tanya Citra dan Jenry bersamaan. Citra dan Jenry saling menatap satu sama lain.
"Ekhem," Alle Berdehem.
"Jawab dong le! " Citra terus mendesak Alle.
Dari tadi Jenry hanya menyimak percakapan Alle dan Citra. Hingga mendung menghiasi wilayah kota itu, air hujan mulai berjatuhan.
"Yaudah, gua pulang duluan ya! " ucap Alle, Citra dan Jenry mengangguk.
"Gue anter, " Kata Jenry.
"Gak usah, gue pulang naik bus aja. " Ucap Alle.
Alle sengaja tidak memberi tahu kan alasan ia menolak tawaran dari Jenry. Ia ingin Jenry tidak mengetahui kalau Dion masih di apartemennya. Ia juga tidak ingin Dion melihat ia dan Jenry pulang bersama sama. Alle takut Dion curiga.
***
Alle sekarang sudah sampai di apartemen nya, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Alle tadi sudah ijin kepada kakek dan neneknya kalau ia akan menginap di apartemennya satu malam ini.
Alle tadi sempat kehujanan, oleh karena itu ia langsung mandi. Alle takut ia demam dan merepotkan neneknya.
Setelah selesai mandi, ia hanya mengenakan handuk dan menampakkan kaki jenjangnya yang mulus dan ia memang terbiasa hanya memakai handuk jika sedang di apartemennya.
Alle hendak menuju ke kamarnya. Namun, Alle melihat pintu kamarnya terbuka dan ia melihat Dion sedang berdiri di depan meja rias Alle.
__ADS_1
Untunglah Alle menyembunyikan seluruh identitasnya di mansion Agus. Alle memang sudah menduga jika kaki Dion tidak bisa diam.
"Hei, kamu ngapain di kamarku? " Tanya Alle.
Dion membalikkan tubuhnya dan terpaku melihat penampilan Alle. Dion meneguk air liurnya, ingin sekali ia menghukum Alle yang hanya memakai handuk dan menunjukkan kaki jenjangnya yang indah itu.
Dion masih terpaku hingga suara bentakan Alle hampir merusak pendengarannya.
"Dion! Keluar dari kamarku sekarang juga! " Bentak Alle.
Dion mendekati Alle, Dion merasa sangat tidak asing dengan wajah Alle. Ia terpesona dengan bibir pink milik Alle.
Alle merasa Dion mendekati nya dan melihat ke arah bibirnya... Alle bingung mengapa Dion melihatnya sampai sebegitu fokusnya.
Alle terkejut saat Dion merengkuh pinggannya. Dan Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Alle...
Cupp...
Dion mengecup singkat bibir Alle. Alle membulatkan matanya. Dion telah mengambil ciuman pertamanya.
"Bibirmu manis, " Lirih Dion dengan serak.
Alle bersemu merah , entah kenapa Alle tidak marah saat Dion mengambil ciuman pertamanya. Alle malah merasa Kupu kupu beterbangan di perutnya.
Alle melihat Dion dan mengatakan, "Kamu mengambil ciuman pertama aku, ".
Dion malah tersenyum dan melepaskan rengkuhannya. Lalu berbisik ke telinga Alle.
" Thanks, Ciuman pertama nya, " Bisik Dion.
Alle bertambah blushing karena perkataan Dion. Alle segera mendorong tubuh Dion sampai keluar kamar. Lalu ia menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.
Dion hanya terkekeh melihat reaksi Alle yang malu malu. Lalu Dion kembali ke ruangan nya.
Dion berbaring dan memikirkan perbuatannya tadi, "Gak mungkin kan gue udah langsung suka sama tuh cewek culun. Dia gak buluk buluk amat juga sih, tapi gue penasaran deh sama dia. Kayak pernah liat mukanya aja, body nya juga oke. Kulitnya tadi habis mandi putih kok, tapi kenapa ke sekolah kulitnya itam ya?" Batin Dion penasaran.
"Eh kenapa gua jadi mikirin tuh cewek? " Ucap Dion sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di kamar Alle, Alle sedang berguling guling ke sana ke mari di ranjang nya. Alle juga terus terusan menyentuh bibir yang di cium oleh Dion. Jantungnya berdegub sangat kencang.
"Duh, kok jantung gua berdebar debar ya? Tapi kan gua gak boleh jatuh cinta sama tu cowok, " Ucap Alle.
***
Keesokan harinya, Alle dan Dion datang dengan menaiki motor milik Dion. Dion sempat menelpon asistennya untuk mengantarkan motornya ke apartemen Alle.
Dion menggenggam tangan Alle, Semua mata siswa-siswi SMA Atlanta melihat ke arah mereka. Siswa siswi SMA Atlanta sudah tahu bahwa Alle dan Dion menjalin hubungan dari sosial media.
__ADS_1
Dari jauh, ada seorang perempuan yang panas melihat Alle dan Dion bergenggaman. Perempuan itu tidak lain adalah Meysa.