Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 23 - TUDUHAN


__ADS_3

Allena menutup mulutnya dan tidak percaya apa yang di lihatnya sekarang. Ia melihat dirinya sendiri sedang menembak kepala pria paruhbaya yang bisa di bilang adalah orang itu seorang polisi. Allena menembak kepala pria itu dengan pistol, pria itupun jatuh ke sungai.


"Nggak! Gue nggak lakuin itu!" Bantah Allena pada Citra dengan suara pelan.


"Iya. Gue tahu kalau rekaman ini di edit, lo tenang aja. Gue akan cari tahu rekaman asli ini, " Ujar Citra menenangkan Allena.


Allena menganggukkan kepalanya.


Drttttt.....


Ponsel Allena bergetar, ia melihat pesan masuk dari Jenry.


"Cit, Jenry kirim pesan ke gue." Ujar Allena.


"Yaudah baca!"


Allena membuka pesan yang di kirim Jenry lalu membacanya.


Jenry A.


Lo datang ke belakang sekolah, jelasin sama gue tentang rekaman itu!


"Yaudah, kita ke belakang taman aja. Sekalian minta bantuan sama Jenry untuk meretas rekaman aslinya." Ucap Citra


Allena menganggukkan kepalanya, "Oke."


Allena dan Citra beranjak dari kelas itu dan pergi menuju ke belakang sekolah. Setiap melintas, Allena di cemooh dan di tuduh sebagai pembunuh. Ya, sepertinya rekaman itu sudah menyebar luas ke seluruh jagat Atlanta.


Sebelum sampai ke belakang sekolah, Allena dan Citra di hadang oleh Dion. Dion menatap tajam Allena, sedangkan Allena hanya menatap Dion datar.


Dion tetap diam dan menatap tajam Allena, Allena yang terburu-buru ke belakang sekolah langsung angkat bicara.


"Awas aku mau lewat!" Seru Allena.


"Video itu memang benar ya?" Tanya Dion.

__ADS_1


"Tidak benar." Bantah Allena langsung.


"Udah awas, aku mau lewat!"


Allena dan Citra langsung melewati Dion.


***


Allena melihat Jenry yang sedang menyandarkan tubuhnya di pohon jambu belakang sekolah. Pohon jambu itu sudah tidak berbuat maupun berdaun, bisa dikatakan bahwa pohon jambu itu pohon gersang.


Jenry menyadari Allena dan Citra yang datang menghampiri dirinya. Jenry pun membalikkan tubuhnya menghadap kedua gadis badgirl yang menyamar sebagai gadis biasa itu.


"Jelasin kejadiannya!" Perintah Jenry langsung.


Allena langsung menceritakan kejadian itu, di mana ia mengikuti anak buah Farhan dan Farhan yang hampir membunuh seorang pria paruh baya.


"Gitu ceritanya!" Ujar Allena.


"Tapi gue yakin, bukan Farhan yang nyebarin tuh rekaman." Sahut Citra mantap.


"Meysa." Kata Citra dengan menepuk tangannya sekali.


Allena dan Jenry mengernyitkan dahinya masing-masing, Allena jadi teringat ancaman Meysa saat itu.


"Benar, pasti Meysa tuh yang nyebarin videonya." Ujar Allena.


Jenry memegangi dagunya sambil berpikir sesuatu. Allena dan Citra yang melihat Jenry mengedikkan bahunya.


"Gue yakin kalo rekaman itu di edit. Soalnya kalau menembak dengan pistol, sesudah menekan pelatuknya, pasti bahu lo sedikit terangkat dan mundur karena tembakan tuh pistol. Sedangkan nih rekaman, bahu Alle nggak terangkat sama sekali." Jelas Jenry.


"Bener juga, kan efek menembak pasti tubuh kita kayak orang kaget." Sahut Citra.


"Jadi, gimana?" Tanya Allena.


"Lo tenang aja, gue akan jelasin nanti di kantor polisi." Ujar Jenry.

__ADS_1


Allena tersenyum tipis, "Thanks ya, Jen." Ucap Allena.


Jenry menganggukkan kepalanya dan mengatupkan bibirnya. Jenry lalu menelpon seseorang untuk mengurus rekaman itu.


***


Jam istirahat, Allena dan Citra tidak pergi ke kantin karena akan di gosipkan orang-orang. Allena dan Citra hanya duduk sambil bersenda gurau di sana.


Tiba-tiba, segerombolan geng datang menghampiri meja mereka dan menggebraknya. Allena dan Citra terkejut karena suara gebrakan itu tidak pelan.


"Ngapain kamu gebrak-gebrak meja orang?" Bentak Citra sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Heh, kami mau demo! Kami nggak mau ada di sekolah ini seorang pembunuh! Benar tidak!" Seru gadis yang memakai pakaian ketat dan bermake up setebal 5 cm.


"Benar!!" Sahut yang lainnya.


"Bawa dia ke lapangan!" Perintah gadis itu.


"Eh, eh... kalian mau ngapain narik narik aku!" Pekik Allena.


Mereka tidak peduli dengan teriakan Allena dan Citra. Mereka terus membawanya ke lapangan. Mereka membawa Allena dengan menyeret tangan Allena. Sampai-sampai Allena menahan sakit karena cengkraman mereka yang kuat.


Di lapangan, semua orang di sana sudah berkumpul. Allena mengernyit dan makin penasaran. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi, sekarang ia hanya akan mengikuti permainannya saja.


Mereka yang menyeret Allena langsung menghempaskan tangan Allena dengan kasar. Allena memegangi tangannya yang sudah di cengkram bahkan kuku mereka yang tajam itu berhasil mengelupas kulit Allena.


"Heh, wajahnya aja yang polos dan culun. Tapi nyatanya, dia itu pembunuh!"


"Iya, gue juga nggak nyangka kalau si culun itu ternyata pembunuh.. iihh amit-amit."


Masih banyak cemoohan siswi-siswi padanya, bukan hanya siswi tapi siswa juga memandang dirinya sinis.


Allena sebenarnya benci di saat keadaanya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus mengikuti permainan si Meysa dulu.


~To Be Continued~

__ADS_1


__ADS_2