
"Hei, Ngapain kalian berdua?!"
Allena dan Dion melihat ke arah asal orang yang berteriak. Orang yang berteriak itu ternyata adalah guru yang sedang mengajar di kelas Allena.
Dion dengan cepat-cepat melepaskan pelukannya dari Allena. Allena pun bergegas pergi dari sana. Namun, lagi-lagi tangannya di tahan Dion.
Allena mengerutkan dahinya, mimik wajah Allena seperti menanyakan ada apa. Dion menunjukkan raut wajahnya yang sedih dan sendu. Seakan ia tidak ingin Allena pergi.
Allena melepaskan tangan Dion dari tangannya. Lalu menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis seakan mengartikan 'Semua baik-baik saja'.
Allena perlahan mulai menjauh dari tempat Dion berdiri dan meninggalkan seluruh wilayah sekolah yang luas itu. Saat di depan gerbang, Allena menatap kembali ke sekolah yang akan menjadi miliknya itu.
Ya, sebenarnya SMA Atlanta adalah milik ayahnya dulu. Namun karena Ayahnya sudah tiada, maka Samuel lah yang menjadi kepala yayasan sekaligus kepala sekolah SMA Atlanta.
Namun, Allena merasa perasaannya tidak enak. Dengan buru-buru Allena meninggalkan sekolah itu dan pulang ke apartemennya. Tapi saat di parkiran, ia melihat Farhan yang sedang berbicara dengan seseorang. Allena yakin jika itu bersangkutan dengan pendaftaran sekolahnya.
Allena berinisiatif untuk menguping pembicaraan Farhan dan orang yang tidak di kenalnya itu. Rasa perasaan Allena yang begitu tinggi hingga ia nekad menguping pembicaraan mereka.
"Bagaimana? Kau sudah mengurusnya?"
"Sudah Tuan Muda Farhan, kami sudah menyiapkan seluruh pendaftaran anda di sekolah ini."
Farhann mengangguk dan memberikan sebuah buku tebal pada orang itu.
"Jaga buku itu, jangan sampai Allena dan temannya yang lainnya mengetahui buku ini. Buku ini adalah riwayat seluruh kejahatan yang aku lakukan, jadi jika mereka mendapatkannya. Kemungkinan besar Allena akan melaporkannya ke polisi. Allena, Allena... sebenarnya siapa dia? Oh iya, cari tahu semua tentang Allena!"
"Baik, Tuan muda!"
Di balik mobil, Allena mendengar itu tersenyum smirk. Ia sekarang sudah tahu apa yang akan di rencanakan Farhan selanjutnya.
"Sepertinya permainan akan di mulai."
__ADS_1
***
Di apartemen, Allena melihat Dea yang sedang memasak masakan rumahan. Ya, di antara Allena, Citra dan Dea. Dea adalah gadis yang paling dewasa dan mandiri.
Allena melepaskan sepatunya lalu meletakkannya di rak sepatunya. Ia melihat Dea yang sedang memotong wortel dan mengaduk masakan yang mungkin adalah sup.
"De, lo bikin sup ya?" Tanya Allena.
"Ya."
"Masakin gue nasi goreng dong!"
"Nggak ada nasi dingin, sori."
"Kalo gitu buatin gue tempe krispi ya!"
"Hen."
"Thanks, "
Di kamar Allena, Allena membuka bajunya dan memakai handuk untuk membersihkan seluruh foundation yang menempel hampir di seluruh kulitnya. Setelah selesai, Allena memakai baju santainya.
Allena menghampiri dapur yang mejanya sudah ada makanan rumahan. Allena yang melihat itu tergiur dengan matanya yang berbinar. Dea yang melihat sahabat sekaligus sepupunya itu hanya terkekeh.
"Udah cepetan di makan! Nanti dingin!"
Allena dengan lahap memakan sup dengan nasi itu sampai habis. Lalu Allena memakan tempe krispi yang tidak kalah enaknya dari makanan yang ia makan terlebih dahulu tadi.
"Arghh..."
Sendawa Allena terdengar di seluruh dapur. Dea menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Allena.
__ADS_1
"Le, minggu depan kak Deo datang. Dia numpang nginap di sini ya, soalnya kalo di rumah nggak ada orang sama bahaya. "
"Okey, nggak pa pa. Anggap aja rumah kalian sendiri." Balas Allena santai.
"Thanks ya Le!"
Allena hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis tapi manis.
***
Seluruh kelas ribut dan sangat bising, apalagi dengan kedatangan murid baru yang di kabar-kabarkan cantik. Para kaum adam tak sabar menanti-nanti kedatangan seseorang yang membuat mereka penasaran setengah mati itu.
"Mey, Kira-kira siapa murid baru itu?" Tanya Farhan.
"Nggak tahu, moga aja masih cantikan gue daripada murid baru itu." Kata Meysa.
"Iya, iya. Lo tetep cantik kok di mata gue."
Farhan memang menjadi murid baru di kelas Meysa dan Dion. Karena itu memang pilihan Farhan, jadi tidak dapat di bantahkan lagi.
Sedangkan Dion? Ia sangat lesu setelah Allena di keluarkan. Bahkan ia jarang membuat onar. Angga, Jenry dan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelesuan seorang ketua geng yang sangat terkenal di SMA Atlanta.
Tidak lama kemudian, guru wali kelas mereka datang dan berteriak.
"Semuanya duduk di tempat masing-masing! Jangan ada yang berdiri lagi, jika masih ada yang berdiri maka Ibu akan memberikan hukuman menghormat bendera sampai pulang sekolah!"
Seluruh siswa-siswi berdudukan, mereka tidak sabar menanti kedatangan murid baru itu.
"Baiklah, Ibu sudah mengatakan kalau ada murid baru. Jadi perlakukan ia dengan baik dan anggap ia sebagai teman atau saudari kalian. Okey, silahkan masuk!"
Seorang gadis sepanjang 1,66 meter masuk ke dalam kelas dengan wajah dingin dan datarnya. Penampilannya yang sedikit acak-acakan dan rambut yang di gerai. Bahkan dasinya di jadikan sebagai ikat pinggangnya.
__ADS_1
"Kenalin, gue Allena Cahyara. Jangan betah main sama gue, "
~ To Be Continue ~