Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 34 - YOU ARE MY ALLENA (END)


__ADS_3

[ TUJUH TAHUN KEMUDIAN ]


Allena sekarang sudah berusia 25 tahun, ia bekerja sebagai CEO perusahaan peninggalan kakeknya. Dengan IQ tingginya, ia bisa menjadi CEO di usianya yang masih muda.


Nasib teman-temannya, seperti Dea dan Citra. Dea menjadi seorang Dokter sedangkan Citra membangun usahanya dari nol dan mengembangkan bisnis restorannya.


Banyak perubahan pada Allena, kulitnya semakin putih. Bahkan wajahnya juga berbeda jauh dari tujuh tahun yang lalu. Bibir dan hidungnya juga.



***


Allena bangun dari tidur panjangnya dan mendudukkan tubuhnya di kepala ranjang miliknya. Ia menguap dan meregang-regangkan otot-otot miliknya.


"Uuhh.. udah jam berapa ya?"


Allena melihat jam dindingnya yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia beranjak dari ranjannya lalu menyambar handuknya. Allena memasuki kamar mandi dengan bernyanyi-nyanyi kecil.


Selesai mandi, ia pun bergegas dan bersiap-siap untuk pergi bekerja. Apalagi hari ini ia mendapat kabar kalau ada perusahaan besar yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan miliknya.


Saat turun ke bawah, Allena melihat kakek dan neneknya yang sedang menonton televisi. Sedangkan si Leon menarik narik kain gorden jendela yang berada di dekat televisi.


"Kek, nek...! Allena pergi berangkat kerja dulu ya." Ucap Allena sembari menghampiri kedua pasangan lansia itu lalu menyalam tangannya.


"Hem, hati hati di jalan."


Allena pun berangkat ke kantor, hari ini entah kenapa mood dan firasatnya baik. Ia melakukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di perusahaannya, semua bawahan dan staff membungkukkan badan padanya. Allena merespon sapaan serta bungkukan mereka hanya dengan raut wajah datar dan anggukan kepalanya.


Di ruangannya, sekretarisnya memberi tahukan jadwal rapat hari ini. Hari ini ia akan mengadakan pertemuan dengan CEO perusahaan yang bekerja sama dengannya.


"Baiklah, adakan pertemuannya jam 12 siang nanti. Sekalian kita makan siang bersama mereka!" Perintah Allena.


"Baik, Bu!"


Jam 12 siang, Allena dan sekretarisnya sudah menunggu di restoran yang sudah mereka janjikan. Allena sesekali meminum air putihnya supaya kerongkongannya tidak kering dan melihat jam tangannya.


"Sudah 10 menit kita di sini, kapan mereka datang?" Tanya Allena pada sekretarisnya itu.


"Saya baru mendapat telepon dari mereka, lima menit lagi mereka akan sampai di sini." Jawab Sekretarisnya itu.


Allena menganggukkan kepalanya lalu melihat kembali jam tangannya. Di dalam hati, Allena menggerutu karena orang yang akan menjalin kerjasama proyek itu belum datang sama sekali. Padahal, Allena sangat ingin merebahkan dirinya ke ranjangnya. Dan hari ini adalah tanggal di mana ia dan Dion jadian. Ia akan mengunjungi tempat-tempat yang ia kunjungi bersama Dion sewaktu SMA.


"Yon, aku kangen banget sama kamu." Batin Allena.


Sekretarisnya itu sedikit bingung melihat Allena yang melamun. Karena sekretarisnya itu sama sekali belum pernah melihat Allena yang sedang melamun. Sepertinya moodnya sedang buruk, pikir sekretarisnya itu.


Lamunan Allena berakhir ketika sekretarisnya itu memanggilnya dan mengatakan kalau orang yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka telah datang.


"Maaf, CEO kami sedang mempunyai urusan. Saya, selaku asistennya akan mewakili Pak Alpha." Ujar orang itu.


Allena dan orang itu berjabat tangan. Merka duduk di kursi masing-masing dan membicarakan tentang proyek gas alam yang ada di Thailand.


***


Pukul 4 sore, Allena melajukan mobilnya ke pantai yang pernah ia kunjungi bersama Dion. Ia kembali teringat dengan momen-momen di mana ia dan Dion sedang berpelukan dan membagi kehangatan satu sama lain.


Air matanya tanpa izin jatuh lagi, entah kenapa jika tentang Dion ia akan lemah dan cengeng. Allena benci seperti itu, tapi ia juga mencintai Dion. Bahkan sampai saat ini, tempat Dion belum ada yang menggeser atau menggantikan di hatinya.


Allena sudah sampai di pantai, ia pun memarkirkan mobilnya di parkiran dekat jualan pernak-pernik khas laut. Allena melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobilnya.


Bugh...


Allena melangkahkan kakinya ke arah pantai lalu berlari lari layaknya anak remaja. Padahal tidak satupun ada yang mengejarnya. Ia kemudian menghampiri jualan makanan laut.


"Bi, aku mau kepiting gorengnya satu ya." Ujar Allena.


"Siap dek, "

__ADS_1


Penjual itu lalu memberikan satu kepiting dengan saus tomat. Allena membayar kepiting itu lalu pergi menjauh dari jualan makanan khas laut itu.


Allena mendudukan pantatnya di pasir pantai dan menikmati pemandangan pantai itu. Ia mengamatinya dan bermonolog di dalam hatinya.


Sampai sekarang, pantai itu tidak banyak berubah. Pasirnya putih, airnya juga jernih dan ombaknya juga bisa di katakan besar sehingga orang tidak akan mandi, mereka hanya akan berfoto-foto jika ingin mengunjungi pantai ini.


Tiba-tiba, tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Allena terkejut bukan main, ia membalikan tubuhnya dan melihat seseorang yang selalu menghantui pikirannya.


Matanya membulat, Allena tidak percaya dengan penglihatannya sekarang. Pasti sekarang ia sedang berkhayal! Allena menepuk pipinya berkali-kali bahkan mencubitnya hingga wajahnya merah dan lembam. Sampai tangan kekar itu menghentikan tangannya yang hendak menampar pipinya lagi.


"Kenapa kamu melukai wajah kamu sendiri?" Tanya orang yang ada di hadapannya itu.


"Kamu makin cantik ya." Sambung orang itu lagi.


"Kamu hantu, 'kan?" Tanya Allena gugup.


"Tapi tunggu tunggu... sore bolong gini mana ada hantu? Padahal masih jam 4, hari juga masih cerah."


"Hantu? Bwahahahaha...."


Tawa pria yang ada di hadapannya itu pecah tiba-tiba. Allena sekarang makin bingung dan takut.


"Sayang, kamu nggak kenal sama aku lagi?" Tanya pria itu.


"Kamu Dion?" Tanya Allena untuk mebenarkan penglihatannya saat ini.


Pria itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu memeluk tubuh Allena lagi. Ya, pria itu adalah Dion. (Tapi, bukannya Dion udah meninggal ya? Nanti Dion akan menjelaskannya pada Allena dan pembaca sekalian.)


Air mata Allena jatuh seketika saat menerima kenyataan bahwa orang yang ia cintai selama ini ternyata masih hidup. Ia langsung memukul dada Dion sekuat tenaganya, bahkan Dion hampir terjungkal karena menerima pukulan dari Allena.



"Maafin aku." Lirih Dion.


"Kamu jahat tau nggak, udah bohongin aku!Huhu.. " Kata Allena sambil menagis.


"Maaf." Hanya itu yang di katakan Dion pada Allena.


Dion tiba-tiba terkejut saat tangan putih mulus Allena memeluknya dari belakang. Dion memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan membalikkan tubuhnya menghadap Allena.


"Apa kamu ingin sesuatu?" Tanya Dion sambil memegang bahu Allena.


"Aku ingin penjelasan darimu kenapa kamu bisa meninggal saat itu, padahal hari ini kamu sudah berdiri di depan aku!" Ujar Allena dengan mata sayunya.


Dion menarik tangan Allena ke arah sofa yang ada di kamar itu. Mereka pun duduk dengan posisi Dion yang sedang memangku tubuh Allena di pahanya. Bukan Dion yang membuat Allena duduk di pangkuannya, melainkan Allena sendiri yang langsung duduk di pahanya itu. Bisa-bisa miliknya tegang jika Allena menggeliat-geliat.


Allena melingkarkan tangannya ke leher Dion dan meletakkan kepalanya di dada Dion. Allena tersenyum tipis saat ia mendengar di dalam dada Dion berdetak kencang.


"Katakan!" Perintah Allena.


Dion mengecup ujung kepala Allena dan menceritakan alasan dia di kabarkan meninggal.


"Mamaku menceritakan kalau hari itu, kondisiku adalah yang paling parah. Akupun langsung di larikan ke rumah sakit yang berada di Amerika. Papaku mencari dokter yang bisa mengobatiku. Kamu tahu nggak, kalau aku itu koma selama satu bulan. Saat itu juga aku udah di konfirmasi expire. Tapi, tiba-tiba jantungku kembali berdetak saat dokter itu hendak melepaskan alat-alat yang menempel di tubuh aku. Aku di nyatakan koma lagi selama berberapa minggu. Oh iya, mamaku sengaja mengabarkan aku meninggal pada kalian supaya kalian tidak khawatir lagi sama aku. " Ujar Dion panjang lebar sambil mengelus elus pucuk kepala Allena.


"Udah?" Tanya Allena.


"He 'em."


Allena mendingakkan kepalanya dan meneliti seluruh wajah Dion. Saat matanya tertuju pada bibir Dion, Allena langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dion mengerutkan dahinya, "Kamu kenapa? Kepala kamu sakit?" Tanya Dion beruntun.


"Enggak kok, enggak... " Sahut Allena cepat sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Lalu kalo kamu masih hidup, terus kenapa kamu nggak ngabarin aku?" Tanya Allena sambil memberikan tatapan tajam pada Dion.


"Ehmm, itu.. aku fokus sama kuliah aku. Empat bulan lalu, aku baru saja lulus S3." Jawab Dion.


Allena sontak membulatkan matanya. Cepat sekali, pikir Allena. Padahal saat ini Allena masih S2.

__ADS_1


"Bibir kamu makin seksi deh," Sambung Dion.


Mata Allena semakin membulat, Allena langsung mencubit lengan Dion dan menghunuskan tatapan tajam pada pria itu.


"Kamu nggak ciuman sama laki-laki lain, 'kan?" Selidik Dion.


"Heh? Kamu pikir aku itu wanita murahan apa. Asal kamu tahu aja, ciuman dari aku itu mahal ya!" Ujar Allena sewot dan Arogan.


"Kalo untuk aku gratis, 'kan." Ucap Dion sambil menaik turunkan alisnya.


"Humph.."


Allena membuang mukanya ke arah lain sambil menahan malu dan menyembunyikan blushing yang ada di pipinya.


Dion terkekeh melihat Allena yang tidak pernah berubah sama sekali. Ia langsung menggendong Allena dan membawanya ke arah balkon.


"Eh... eh." Pekik Allena.


Allena mengeratkan tangannya pada leher Dion sampai sampai kepala Dion menunduk dan mendekat ke wajah Allena.


"Sabar dulu ya sayang, bulan depan aku bakalan lamar kamu kok." Ujar Dion.


Allena langsung mati kutu saat Dion mengatakan itu. Ia melonggarkan kedua tangannya yang melingkat di leher Dion.


Saat di balkon, Dion menurunkan tubuh Allena. Langit malam sangat jernih sehingga bintang-bintang kelihatan sangat banyak. Allena tersenyum melihat pemandangan langit malam itu.


Tidak lama setelah itu, kembang api beterbangan ke atas dan membuat pantai itu terlihat terang. Dion tiba-tiba memeluk Allena dari belakang dan melingkarkan tangan kekarnya itu ke perut Allena.


Allena mendongakkan kepalanya ke arah belakang. Tanpa aba-aba, Dion mengecup singkat bibirnya. Kembang api itu beterbangan lagi dan menghiasi seluruh langit malam pantai itu.


"You are My Allena." Ucap Dion lirih di telinga Allena.


Allena tersenyum dan mengecup pipi Dion. Allena lalu menatap kembang api itu lagi untuk menghindari tatapan mata Dion. Jantungnya saat ini bermaraton lagi.


"I Love You, My Allena."


"I Love You too, My Dion."


 



 



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Alhamdulillah, akhirnya kisah ini tamat juga. Saya selaku author atau pengarang sangat berterima kasih pada para pembaca setia cerita ini. Saya sadar kalau cerita ini tidak sebagus cerita lainnya dan mungkin membosankan, saya mohon maaf juga kalau masih ada banyak kesalahan ketik di salah satu bab cerita ini. Di maklumi aja ya, soalnya Authornya masih pemula hehe...



Untuk yang memberi jempol, vote serta rate, Author hanya bisa memberi kalian doa dan mendoakan apa yang kalian inginkan tercapai.



Jangan unfav. dulu ya, nanti akan ada pengumuman karya baru atau extra bab.



From AlDi and Author, Thank you and See you again with you.



❤❤❤💙💙💙


😘😘👋👋

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2