
HAPPY READING... 💙💙💙
SELAMAT MEMBACA... ✨✨✨
______
Allena membuka matanya secara perlahan. Pertama kali ia tidak melihat apa - apa. Gelap, itulah saat ini yang Allena pikirkan. Bahkan, tubuhnya juga terasa seperti di ikat habis - habisan. Kepalanya juga masih terasa berdenyut - denyut dan pusing.
"Dimana aku?" Gumamnya.
Tenaganya juga terasa habis terkuras seperti baru lagi maraton 10 kilometer. Matanya tidak sengaja melihat gelas pecah yang basah berwarna merah seperti... darah?
Allena masih tetap berusaha untuk tenang saat ini. Ia tidak ingin mengeluarkan emosinya dulu. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara yang tidak asing di pendengarannya.
"Aku sudah menangkapnya. Jadi, apakah kita akan membuatnya tahu semuanya?"
"Cepatlah datang! Aku tidak ingin lama - lama berurusan denganmu lagi."
"Tidak. Dia belum bangun, apakah aku perlu membangunkannya?"
Setelah itu, Allena tidak mendengar suara wanita itu lagi. Kalau tidak salah, Allena mendengar suara itu di rumah sakit. Di mana ia akan di bunuh oleh wanita bermasker saat itu.
Allena mencoba untuk meraih kaca gelas yang pecah itu dengan kakinya. Kakinya hampir saja sampai meraih gelas kaca yang pecah itu, tapi suara yang ia dengar tadi memberhentikan aksinya.
"Mau melarikan diri, hemm?"
Allena menatap tajam wanita itu. Sekarang, ia melihat dengan jelas wajah wanita blasteran itu. Allena mengerutkan keningnya, ia sepertinya pernah melihat wajah itu. Tapi di mana? Hati Allena sekarang bertanya-tanya tentang wanita bule ini.
"Kamu siapa?!" Tanya Allena seraya menatap tajam wanita cantik itu.
__ADS_1
"Aku? Perkenalkan namaku Tamara Oliffya. Kau akan aku serahkan pada wanita medusa itu. Tapi, kau perlu tahu lagi... kalau kau akan menjemput ajalmu esok. Jadi, bersiap-siaplah untuk masuk ke dalam tanah!" Jawab wanita itu sambil memijak - mijak pecahan gelas kaca itu dengan high heels miliknya.
"Bahkan cara penggunaan bahasanya saja sangat lancar banget."
"Kalau begitu, kenapa kau menculikku?" Tanya Allena yang masih saja menghunuskan tatapan tajam pada wanita itu.
Tamara mengedikkan bahunya, "Aku mana tahu! Pekerjaanku sampai sini susah selesai, selanjutnya Meysa yang akan mengurusmu. Aku tidak ingin berlama-lama berurusan dengan wanita ****** itu. Kau tahu, ia sangat dendam padamu. Dan kau tahu apa balasannya? Dia mengatakan aku bisa menjadi istri Dion," Ujar Tamara dengan angkuhnya tidak lupa juga senyuman sinisnya.
Allena sekarang mengerti kalau wanita bule ini juga ternyata Meysa permainkan. Ternyata bule ini jauh lebih bodoh di bandingkan Dion.
Allena tertawa renyah,"Lalu, kau begitu saja percaya sama perkataannya itu?"
Tamara terdiam dan memikirkan perkataan Allena. Ia merasa Allena benar, apakah ia bisa memercayai perkataan Meysa begitu saja?
"Diam kau! Kau tidak perlu mengurusi urusanku! Lagipula, besok kau akan mati!"
Tamara mati kutu saat mendengar perkataan Allena. Tamara jadi menyesal karena ikut - ikutan mengurus masalah Meysa si wanita medusa itu.
"Pergilah!" Seru Allena pada Tamara.
Tamara mengerutkan keningnya, ia heran kenapa Allena malah menyuruhnya pergi.
"Setelah aku mati... kau juga akan menjadi sasarannya. Aku dulu pernah mempunyai sepupu bernama Dhia, tapi ia mati dengan tidak terduga. Aku masih mengingat saat itu, badannya penuh darah. Ia bahkan di konfir dengan mati karena bunuh diri. Heh, padahal orang yang membunuhnya. Kau tahu siapa yang membunuhnya?" Tanya Allena lalu mendongakkan kepalanya menatap mata Tamara.
Tamara bingung dengan perkataan Allena, lalu Tamara menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tidak mengetahuinya sama sekali.
"Memangnya siapa?"
"Meysa Adenara dan Farhan Aldenio. Kau mengenal kedua iblis itu, bukan?"
__ADS_1
Tamara menganggukkan kepalanya. Ia mengenal Meysa, namun ia pernah mendengar nama Farhan entah di mana. Sepertinya kalau tidak salah, Tamara mendengarnya dari mulut Meysa. Meysa mengatakan padanya kalau Farhan adalah lelaki yang ia cintai, namun sayang mereka terhalangi oleh status sebagai sepupu. Oleh karena itu Meysa tidak mengumbar cintanya pada Farhan dan orang lain.
"Oleh karena itu, pergilah sebelum Meysa membunuhmu. Kalau aku... memang dari dulu nyawaku adalah incarannya. Bahkan Paman samuel dan juga Dea," Ujar Allena sambil menundukkan kepalanya.
Tamara terdiam, ia tidak tahu harus memilih siapa sekarang.
"Baiklah. Aku akan pergi, tapi aku tidak bisa membantmu. Sebisa mungkin, aku akan memberi ... harapan untukmu... besok."
"Sudah aku katakan tidak perlu membantuku. Aku nanti bisa sendiri keluar dari sini," Tolak Allena halus. Ada alasan di balik itu kenapa ia menolak ajakan Tamara. Padahal, ia sudah memiliki harapan di depan matanya.
"Apa kau yakin?" Ujar Tamara.
"Hem... bagaimana dengamu? Aku mengatakan yang sebenarnya. Tidak peduli kau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataan yng sebenarnya selama ini. Seharusnya kau tidak masuk dalam lingkaran iblis dunia Meysa."
"Sepertinya apa yang kau katakan benar. Kau seharusnya tidak menurut pada Meysa saat itu. Aku juga pernah melihat foto foto di bukunya dan berstempel darah. Tapi, aku takut menanyakan soal itu pada Meysa," Kata Tamara sambil memejamkan matanya.
"Ambillah ini!"
Tamara memberikan kalung yang di pakainya pada Allena. Allena mengerutkan dahinya. Untuk apa wanita bule ini memberikan kalung berliontin mata silet padanya?
"Itu adalah satu-satunya benda yang bisa melepaskanmu dari sini. Adikku juga memiliki kalung yang sama sepertiku," Ujar Tamara.
"Aku pergi dulu."
Meysa pun pergi meninggalkan Allena dalam gelap gulita. Sedangkan Allena masih melihat dengan lekat-lekat kalung yng di berikan Tamara untuknya. Ia merasa tidak asing dengan kalung itu sebelumnya. Ia pernah melihatnya di pakai oleh seseorang yang dekat dengannya, tapi siapa?
"Tidak mungkin kalau Titan adalah adiknya. Tapi, kalo di lihat dari mukanya. Diminan mirip."
BERSAMBUNG ~~~
__ADS_1