
"Emm, maaf." Ujar gadis yang memakai masker, yang tidak lain adalah Allena.
Dion seperti tidak asing mendengar suara gadis itu. Gadis itu langsung pergi meninggalkan Dion di sana. Dion merasa dirinya yang salah karena dirinya tidak memperhatikan jalan sampai ia menabrak seseorang.
Sedangkan Allena, jantungnya hampir saja meledak saat dirinya di tabrak Dion. Untunglah ia memakai masker, jadi Dion tidak mengenalinya. Allena pun mempercepat langkahnya ke tempat duduknya. Selama berjalan, Allena mengumpat di dalam hati karena kesal pada Dion yang menabrak dirinya sembarangan.
Di tempat duduknya, Allena segera menghabiskan cappucino-nya agar ia bisa cepat pulang.
"Cit, De! Gue pulang duluan ya!" Ucap Allena.
"Gak boleh, kita pulangnya barengan aja. Aku mau mampir ke mansion lo liat si Leon," Ujar Citra.
"Kakek Agus lagi di Singapura mengawasi proyek gas alam, " Sahut Dea.
Citra menautkan kedua alisnya, "Darimana lo tahu?" Tanya Citra.
"Bokap gue ikut ke Singapura ngurus proyek itu, " Kata Dea.
Citra menganggukkan kepalanya, "Oohh,"
"Bulaat," Sambung Allena.
__ADS_1
Mereka bertiga tertawa, "Yaudah, gue duluan ya guys. Gue mau ke suatu tempat dulu, " Ucap Allena.
Dea dan Citra menganggukkan kepalanya, Allena pun beranjak dari kafe itu. Lalu melakukan motor ninja miliknya.
Allena berhenti sebentar di sebuah taman kota yang sepi. Tidak ada siapapun di sana, Allena melangkahkan kakinya ke suatu lorong tersembunyi di taman itu. Lalu melacak sebuah sinyal yang sebelumnya di kirim ke ponselnya.
***
Allena sedang mengikuti mobil sedan berwarna hitam. Di mobil itu terdapat anak buah Farhan yang sedang menyetir entah kemana. Allena sedikit memelankan kecepatan motornya agar anak buah Farhan tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang mengikutinya.
Mobil itu ternyata berhenti di sebuah pabrik tua yang tidak di pakai. Pabrik minyak yang Allena perkirakan sudah 4 tahun tidak beroperasi. Namun, tong minyak masih berserakan di sekitar pabrik itu.
"Apa sebenarnya yang akan di rencanakan Farhan kali ini?"
Allena memberhentikan motornya di dekat pohon yang jaraknya 10 meter dari jalan raya. Allena berjalan tanpa menghasilkan suara sama sekali. Ia membalutkan jaket hitam ke tubuhnya agar ia tidak terlihat. Karena pabrik itu gelap, sedikit kemungkinan orang bisa melihatnya.
Allena melihat sebuah pintu belakang pabrik, ia lalu masuk melalui pintu belakang itu. Namun, sialnya pintu itu terkuncu dari dalam. Allena mencari pintu lain untuk masuk, kalau dari depan otomatis dirinya akan ketahuan karena ada beberapa orang berjaga – jaga di sana.
Akhirnya, Allena masuk melalui jendela yang tidak terlalu tinggi letaknya. Hanya sekitar 1,5 meter dari tanah. Ia menaikkan kaki kanannya lalu memegang bagian atas jendela itu. Setelah itu, ia menaikkan kaki kirinya dan masuk ke dalam pabrik itu.
Bugh...
__ADS_1
"Ahhss, " Ringis Allena.
Sebelum itu, ia akan mengirim sinyal pada Citra dan Jenry agar ia bisa meminta pertolongan saat keadaan darurat.
Allena mengendap – endap dan menyusuri seluruh pabrik itu. Ia melihat ke atas apakah ada CCTV yang di pasang di pabrik ini. Walaupun gelap, kecerdasan otak Farhan tidak kalah dengan Allena. Oleh karena itu, Allena berhati – hati dan berjaga – jaga agar tidak tertangkap basah oleh Farhan.
"Di mana ya ruangan Farhan?" Gumam Allena yang mengawasi dan melihat keadaan sekitarnya.
Allena melihat secercah cahaya di balik pintu, Allena pun mendekati pintu itu dan menguping di balik tong minyak dekat pintu. Ia mendengar tawa menyeramkan khas Farhan. Allena menajamkan matanya dan mengepalkan tangannya, tidak lama kemudian Allena mendengar suara derap sepatu dari arah kanan. Matanya membulat, jantungnya sudah tidak karuan lagi. Untung saja orang itu melewatinya dan tidak meliriknya sama sekali.
"Huft, untung saja..."
Allena mengambil pulpen yang ada di sakunya lalu menekannya dua kali. Ia mendekatkan pulpen itu ke bawah. Tembok pabrik itu terbuat dari seng, dan ada celah di bawah tembok itu. Allena langsung memasukkan sedikit bagian pulpen itu.
Pulpen itu memiliki kamera tersembunyi dan perekam suara. Ia akan merekam suara serta pergerakan Farhan di dalam sana.
Tiba – tiba, ada yang memegang bahu Allena. Allena membulatkan matanya, jantungnya tidak bisa di ajak berkompromi lagi. Allena memejamkan matanya berharap yang memegang bahunya bukan salah satu anak buah Farhan.
"Semoga bukan ******** itu yang memegang bahu gue,"
~To Be Continued~
__ADS_1