
HAPPY READING... 💙💙💙
____________
Wanita itu terkejut dan langsung berlari keluar ruangan itu. Saat di luar ruangan, ia mendengar langkah derap kaki menuju ke arahnya. Wanita itu yakin kalau itu adalah Dion. Ia langsung meninggalkan pintu ruangan itu.
“Sial! Rencanaku tidak berhasil!”
* * *
Allena merasa seperti pernah melihat mata wanita itu. Tapi ia tidak ingat di mana ia melihat mata itu.
“Sepertinya gue pernah lihat mata itu deh, tapi di mana ya?” Hati Allena bertanya-tanya.
Lalu pintu terbuka memperlihatkan Dion di sana sambil membawa botol minum. Ia berjalan ke arah Allena dan mencium pipinya.
Chup!
“Ishh.. ”
Allena mengerucutkan bibirnya karena Dion selalu mencium pipinya secara tiba-tiba membuat Allena terkejut bukan main.
“Haha, ada yang blushing nih,” Kekeh Dion sambil mencubit ujung hidung Allena.
“Ihh, jangan di cubit lagii! ” Rengek Allena.
“Iya, iya.”
Allena mengingat kejadian yang tadi, namun Allena mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin Dion khawatir padanya. Allena berencana untuk mencari tahu siapa wanita itu sebenarnya dengan pribadi tanpa memberitahukannya pada orang lain, termasuk Citra.
“Udah siap meneleponnya?” Tanya Allena.
“Udah.” Jawab Dion.
__ADS_1
“Kamu nggak istirahat?” Tanya Dion sambil menyelipkan rambut Allena.
Allena menggelengkan kepalanya, “Enggak, soalnya aku nggak ngantuk lagi.” Jawab Allena.
“Oh. Ada yang masih sakit?” Tanya Dion lagi.
“Enggak... kamu itu banyak banget sih pertanyaannya!” Jawab Allena.
“Aku 'kan sayang ama kamuu.” Balas Dion sambil menoel-noel pipi Allena.
“Ck, gombal!” Allena berdecak mendengar gombalan maut dari Dion.
* * *
Seminggu kemudian...
Allena sudah aktif bekerja kembali. Ia kini sedang di perusahaan mengadakan rapat bersama rekan bisnis yang lainnya.
Rapat berjalan dengan lancar, Allena menghela nafasnya dan berdiri dari kursinya. Lalu menjabat rekan bisnisnya yang juga para wanita muda sepertinya.
“Baik, Bu!”
Di ruangannya, Allena mendapat notif pesan dari Dion. Ia tersenyum membaca pesan dari kekasihnya itu.
Allena dan Dion mempunyai rencana untuk pergi ke bukit untuk melihat pemandangan indah kota dari atas.
Pukul 12 siang, Allena kini sudah berada di restoran mewah dengan Dion untuk makan siang bersama.
“Yank, kakek Agus kapan pulang?” Tanya Dion.
“Minggu depan. Kenapa?”
“Kenapa lama banget... padahal aku nggak sabar loh melamar kamu.”
__ADS_1
Allena tersedak, Dion buru-buru mengambilkan minum untuk Allena.
“Pelan-pelan dong yank... kan jadi tumpah ke baju kamu.” Dion langsung mengambil tisyu dan mengeringkan baju Allena.
“Kamu tuh yang bikin aku terkejut!”
“Aku takut nanti ada yang rebut kamu dari aku.” Jawab Dion.
Allena menggelengkan kepalanya. Apakah se cinta itu Dion padanya. Allena tidak habis pikir dengan Dion. Ia bukannya tidak mau di lamar, tapi bukankah itu kecepatan?
Selesai makan siang, mereka keluar dari restoran sambil bergandengan tangan. Allena hanya bisa tersenyum saat Dion memberinya gombalan gombalan buatannya itu.
“Kamu itu sebenarnya saat di Amerika belajar bisnis atau belajar gombal sih?”
“Dua duanya yank.”
Tak lama setelah itu, suara wanita membuat Dion dan Allena menoleh. Allena heran dengan wanita itu karena wanita itu nampak bersemangat melihat Dion.
“Dion!!!”
“Vanessa?” Dion mengernyitkan dahinya melihat wanita itu di Indonesia.
“Kenapa kamu ada di sini?” Tanya Dion.
“Mau ketemu kamulah.” Jawab perempuan itu dengan nada centil dan sok cantiknya.
“Yank, dia siapa?”
* * *
•Jangan lupa baca karya baruku yang berjudul PROMISE yaa...
dan tinggalkan jejak jugaa... đź’žđź’ž
__ADS_1
BERSAMBUNG ~~~