Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 7 - JAWABAN DION


__ADS_3

Dion merasa kepalanya sangat pusing dan ia membuka matanya perlahan. Ia melihat ruangan asing di matanya. Benaknya terus bertanya tanya ada dimana dirinya sekarang. Lalu suara seorang perempuan mengalihkan pikirannya. Dion melihat ke arah perempuan itu dan melototkan matanya. Sedangkan perempuan itu tersenyum tipis.


"Apakah masih ada yang sakit?" Tanya perempuan yang bepernampilan culun itu. Dion merasa tidak asing dengan penampilan perempuan itu. Dion kembali mengingat ngingat perempuan itu, Dion terkejut kalau perempuan itu adalah yang ia tolong tadi pagi.


"Gue di mana?" Tanyanya pada perempuan itu. Perempuan itu membalasnya dengan senyuman tipis namun terlihat manis.


"Kamu di apartemen aku soalnya tadi kamu pingsan berlumuran darah di dekat halte pas aku mau pulang, gak mungkin kan aku bawa ke sekolah. Jadi aku minta tolong sama kakak aku agar kamu di bawa ke apartemen aku, " Ucap perempuan itu.


Dion kembali teringat dengan kejadian yang tadi.


Flashback On


Setelah selesai menerima hukuman dari pak rahmat, Dion segera ke ruang loker untuk mengganti bajunya yang sudah basah akibat keringat.


Sebelum mengganti bajunya, Dion mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal.


+628*********


Meysa di culik!!! Datang ke pohon jambu belakang sekolah sekarang juga!!


Awalnya, Dion tidak percaya kalau Meysa perempuan yang di sukainya di culik. Namun, karena hatinya tidak tenang. Ia pergi ke pohon jambu belakang sekolah tanpa memeriksa Meysa di kelasnya.


Dion berlari melewati kelas kelas, karena ruang loker ada di lantai dua. Ia harus melewati tangga terlebih dahulu.


Saat melewati kelasnya, ia di hadang Angga, Glenn dan Gio. Namun Dion terus berlari sampai ke pohon jambu itu.


Sesampainya di sana, ia tidak melihat siapa pun di sana.


"Sial... " Batin Dion. Ia di tipu oleh pemilik nomor telepon itu. Saat ia ingin kembali ke kelas, tiba-tiba seseorang menutup mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang sudah di beri obat.


Perlahan penglihatannya menggelap dan buram, tidak lama kemudian ia jatuh ke tanah lalu entah apa lagi yang akan terjadi.


Flashback Off


Alle yang melihat Dion melamun pun membuyarkan nya dengan bertanya.


"Kamu kenapa bisa berlumuran darah kayak tadi? Sepertinya bukan bekas berantem deh, soalnya luka kamu nggak ada, " Ucap Alle.


"Gue juga gak tau, tiba tiba aja ada yang nyumpet idung ama mulut gue, " Sahut Dion, Dion merasa berbicara panjang dengan gadis yang menyelamatkannya.


Tiba tiba ruangan itu menjadi hening dan canggung. Alle mencuri curi pandang ke arah Dion, sedangkan Dion nampak memikirkan sesuatu.


Tidak lama kemudian, suara ponsel Alle terdengar. Alle buru buru pergi menjauh dari Dion, takutnya nanti Dion mengetahui Alle yang sebenarnya.


Alle melihat panggilan dari Citra, ia pun mengangkat panggilan dari Citra itu.

__ADS_1


"Le, gimana? Dion sekarang ada di apartemen lo kan. Jadi sekarang lakukan tantangan yang gue beri! Nanti kita ketemuan di kafe punyaku! " Ucap Citra dari ponsel itu.


Alle hendak mengatakan sesuatu, namun Citra sudah lebih dulu memutuskan panggilannya.


"Huft, dasar Citra. Kasih kesempatan bicara napa? " Gerutu Alle.


Dion yang melihat Dari kejauhan hanya tersenyum tipis melihat reaksi Alle ber teleponan yang entah dengan siapa.


Alle kembali ke tempat Dion, ia melihat wajah Dion yang pucat.


"Kamu lapar? Kalo lapar biar aku ambil makanan yang ada di kulkas, " Ucap Alle.


"Gue mau air putih aja, " Sahut Dion. Alle mengerutkan dahinya.


"Loh, nggak mau kue gitu? Kebetulan tadi kakakku beli kue dari tempat kerjanya, " Dion menggeleng.


"Oke, kalo gitu biar aku ambilkan dulu air minumnya ya, " Ucap Alle, Dion hanya menjawabnya dengan deheman.


"Dasar cowok BADALYKAS, dinginnya mintak ampun aku!! " Batin Alle.


"Eh, tunggu dulu! " Alle berhenti dan berbalik ke arah belakang sembari menatap Dion lalu Alle bertanya.


Alle mengerutkan dahinya, "Kenapa?"


"Nama lo siapa? " Tanya Dion.


Dion hanya mengangguk. Alle melanjutkan langkahnya ke arah dapur untuk mengambil air putih untuk Dion.


***


Di dapur, Alle memikirkan bagaimana caranya agar Dion bisa menerimanya sebagai pacarnya.


Setelah berpikir pikir, akhirnya Allena harus memberi tahunya kepada Dion.


Alle menghampiri dion yang sedang duduk di ranjang itu. Lalu, Alle memberikan gelas kaca yang berisi air minum itu.


Dion menerimanya dan langsung meneguk nya sampai habis. Dion sangat kehausan dari tadi karena baru selesai menerima hukuman berdiri di lapangan oleh pak rahmat, guru bk yang killer nya gak ketulungan.


"Ini beneran apartemen lo?" Tanya Dion.


Alle menganggukkan kepalanya, lalu ia berbalik bertanya kepada Dion.


"Memangnya kenapa? " Tanya Alle, Dion menggelengkan kepalanya.


Lalu ruangan itu kembali canggung dan hening. Alle hendak membuka suaranya, namun....

__ADS_1


"Alle! "


"Dion! "


Mereka berucap bersama sama. Lalu alle membuka suaranya lagi.


"Kamu aja duluan! " Perintah Alle.


"Gue cuma mau bilang kalo.... gue boleh nggak nginap disini satu malam? " Tanya Dion.


"Hah? " Alle menganga. Dion menggaruk tengkuknya.


Lalu Alle tersenyum tulus, "Boleh kok, " Jawab Alle.


"Thanks, Le, " Ucap Dion, Alle mengangguk dan tersenyum.


Alle meneguk ludah, ia bingung harus bagaimana sekarang. Lalu, Alle memejamkan matanya untuk bersiap siap mengatakannya ke pada Dion.


Dion yang melihatnya bingung, "Lo kenapa? "


"Kamu mau nggak jadi pacar aku? " Tanya Alle dengan pelan.


Dion terkejut mendengar pertanyaan Alle. Menjadi pacar, bahkan Meysa belum di taklukkan nya. Kini sudah ada yang berani menembak dirinya duluan.


"Eh jangan salah paham dulu! Aku cuma lakuin tantangan dari Citra aja, soalnya aku kalah main ludo, " ujar Alle sambil menunduk, entah kenapa jiwa bad Alle menghilang jika berhadapan dengan Dion.


"Pacarannya cuma satu bulan aja kok, setelah itu kita boleh putus, " Sambung Alle lagi.


Dion hanya diam, Alle mendongakkan kepalanya menatap Dion yang melamun.


Dion memikirkan ajakan Alle, ia bingung apakah ia harus menerimanya.


"Baiklah, gue akan terima permintaan Alle sebagai pacarnya satu bulan. Biar Meysa cemburu, kira kira Meysa cemburu ya? " Dion masih melamun, ia masih memikirkan keuntungan kalau sedang berpacaran dengan Alle.


Sebenarnya, Alle tidak terlalu jelek jika berpenampilan culun bagi Dion. Dion malah merasa Alle itu menggemaskan karena wajah Alle dan mata Alle yang bulat.


"Oke, gue akan menjadi pacar lo selama satu bulan, " Akhirnya Dion menyetujui ajakan Alle.


Sedangkan Alle yang mendengarnya malah menganga.


"Semudah itukah? Gue yakin kalo si Dion pasti ada alasan untuk nerima gue! " Batin Alle.


"Beneran? " Tanya Alle.


Dion menjawabnya dengan Deheman dan anggukkan kepalanya. Alle bukannya tersenyum malah pergi meninggalkan Dion dari ruangan itu.

__ADS_1


Dion bingung, biasanya cewek akan melompat lompat kegirangan jika diterima sebagai pacar Dion. Lah, ini malah pergi.



__ADS_2