Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 15 - CAPPUCINO


__ADS_3

Trio Rigel sudah mengambil tempat duduk masing-masing. Tempat duduk mereka bertepatan di sebelah tempat duduk Dion dan Meysa duduk. Namun masih ada jarak yang membuat mereka tidak terlalu dekat.


"Lo mesan apa?" Tanya Citra di balik maskernya.


Allena teringat lagi dengan es krim yang di belikan Dion untuknya tadi siang. Es krim rasa Cappucino, es krim yang membuat Dion tersenyum langsung di hadapannya.


"Gue cappucino aja," Kata Allena.


"Lo de?" Tanya Citra pada Dea.


"Kalo gue apa ya? Emm...coklat panas deh kalo gitu." Jawab Dea.


"Oke!" Balas Citra.


Citra lalu memanggil pelayan kafe itu dan mengatakan pesanan mereka. Pelayan itu lalu pergi. Allena sekali-kali mencuri pandang ke arah Dion dan Meysa. Allena merasa ditusuk seratus jarum melihat keakraban Dion dan Meysa. Ingin sekali rasanya Allena melabrak Meysa bahwa Dion adalah pacarnya, namun ia juga sadar kalau dirinya hanyalah pacar Dion selama satu bulan. Lagipula Dion dan Meysa saling suka sama lain.


Dea melihat kegalauan di mata Allena, tidak biasanya Allena segalau itu. Dea melihat mata Allena yang tertuju ke suatu arah. Dea mengikuti tatapan Allena. Dea melihat dua manusia atau seperti sepasang kekasih sedang tertawa dan bersenda gurau di sebelah meja mereka.


"Kenapa Alle seperti orang galau ya melihat kedua orang itu? Jangan-jangan si Alle udah suka sama seseorang?" Batin Dea.


Tidak lama kemudian, pelayan yang tadi datang membawakan pesanan mereka bertiga. Allena menyesap cappucino-nya sembari mencuri pandang ke arah Dion.


Citra dan Dea menyadari hal itu, Dea menatap Citra sambil menaik turunkan alisnya mengisyaratkan bertanya pada Citra. Citra hanya membalas tatapan Dea dengan mengedipkan matanya.


Tiba-tiba Allena merasa ingin buang air besar, "Oiy, Gue ke toilet dulu ya. Kalian mau ikut nggak?" Tanya Allena.

__ADS_1


"Gausah, kita berdua di sini aja nungguin lo, " Balas Dea.


"Oke, gue ke toilet dulu ya guys, "


Dea dan Citra menganggukkan kepalanya. Setelah Allena pergi, Dea langsung menyemprot Citra dengan pertanyaan yang tidak ada kaedah-nya.


"Cit, Alle suka sama seseorang ya?" Tanya Dea yang penasaran.


"Sepertinya si Alle udah jatuh deh ke pesonanya dia." Balas Citra.


"Apaan sih Cit gue nggak ngerti!"


"Ya, seperti yang lo liat. Dia suka sama ketua badboy Badalykas." Ujar Citra.


"Badalykas...? Sepertinya gue pernah denger nama itu deh, " Kata Dea.


"Jenry Adrian maksud lo?" Tanya balik Dea.


Citra menganggukkan kepalanya, "Yo'i, si Jenry itu otaknya Badalykas. Lo tahu kan kalo si Jenry itu jenius."


"Jadi maksudnya si Alle suka sama Jenry gitu?"


Citra terkejut dan sedikit melotot pada Dea, "Enggaklah, 'kan gue udah bilang kalo si Jenry otak Badalykas. Sedangkan yang di sukai si Alle itu ketuanya ******!" Seru Citra.


"Ohh, jadi si Alle suka sama ketuanya Badalykas?" Tanya Dea dengan suara yang sedikit kuat.

__ADS_1


Sontak Citra langsung membungkam mulut Dea dengan tangan kirinya, "Jangan kuat-kuat! Orangnya ada di sebelah kita ****!" Seru Citra dengan memelankan suaranya.


Dion dan Meysa pun mengalihkan perhatian mereka ke dua orang gadis yang memakai masker. Dion mendengar mereka berdua menyebut nama gengnya. Ia meneliti kedua orang gadis itu, namun ia merasa tidak pernah melihat kedua gadis itu. Dion dan Meysa melanjutkan perbincangan mereka.


Dea melihat ke sebelahnya dan melihat sepasang pasangan yang sedang berbincang. Dea merasa tidak asing dengan wajah kedua manusia itu.


"Mereka emangnya siapa?" Tanya Dea dengan suara yang pelan.


"Mereka berdua itu musuh dan orang yang di sukai si Alle mungkin," Balas Citra sambil meletakkan coklat panasnya yang baru ia minum dan tinggal setengah lagi ke meja.


"Nanti gue jelasin siapa tuh orang." Kata Citra, Dea hanya menganggukkan kepalanya dan meminun coklat panas miliknya.


Dion menyesap cappucino-nya, ia teringat pada pacar yang ia pacari selama satu bulan. Teringat dengan suapan es krim cappucino gadis itu, bahkan bibirnya. Astaga, Dion merasa sudah gila dengan Alle. Dirinya juga merasa aneh, setiap melihat gadis itu jantungnya akan bergetar 2 kali lebih cepat. Berbeda dengan Meysa, ia sekarang sedikit ragu dengan perasaannya pada Meysa. Memikirkan itu membuat cappucino-nya tumpah ke hoodie warna hitamnya.


"Mey, gue ke toilet dulu ya." Ujar Dion.


"Oh, oke." Balas Meysa sambil menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.


Dion pun beranjak ke toilet untuk membersihkan hoodie hitamnya itu. Saat berjalan ke toilet, Dion menepuk nepuk Hoodie yang terkena cappucino itu. Sampai-sampai ia menabrak seseorang, dan orang itu menabrak dada bidangnya.


Dion sempat menciun aroma rambut orang itu. Bau vanilla yang tidak asing di hidungnya, ia merasa pernah mengendus aroma vanilla ini. Tapi di mana? Benak Dion bertanya-tanya.


"Emm, maaf."


***

__ADS_1


Up double hari ini, jangan lupa like, vote dan komennya ya supaya Author lebih semangat up date-nya...


See You Tomorrow!!! 😊


__ADS_2