
"APA!!"
Dion berdiri dari kursinya dan menggebrak mejanya sendiri. Sontak seluruh orang yang ada di kelas itu melihat ke arahnya, apalagi guru yang sedang mengajar di kelas itu.
"Allena di keluarkan dari sekolah?!"
Dion langsung beranjak dari kursinya dan berlari keluar dari kelasnya. Semua terheran-heran dengan kepedulian Dion pada Allena.
"Hey, Dion! Mau ke mana kamu?!" Teriak sang guru yang sedang mengajar di kelas itu.
Dion tetap berlari tanpa peduli dengan teriakan gurunya itu. Angga dan yang lainnya sudah tahu apa yang terjadi, jadi mereka tidak terlalu panik seperti Dion.
Meysa yang berada di kursi depan merasa tidak di perhatikan Dion lagi, ia bersungut-sungut dan terus mengumpat di dalam hati karena pedulinya Dion pada Allena.
"Dasar gadis culun ganjen, udah di kasih peringatan juga. Nggak ada kapok-kapoknya tuh orang. Awas aja lo ya! Gue nggak akan tinggal habis ini. Heh!"
Sedangkan Allena sudah bersiap-siap dan mengambil barang-barang yang ada di lokernya. Loker miliknya itu sudah kosong dan tidak ada lagi benda-benda di sana.
"Padahal gue masih dua minggu sekolah di sini, tapi udah di keluarin dari kelas. Nasib... nasib... "
Seluruh orang yang ada di kelas itu kecuali Citra, menatapnya dengan tatapan yang benci ataupun jijik. Padahal, Allena hanya di keluarkan di kelas sebelas IPA satu. Mereka tidak tahu kalau Allena akan menjadi murid baru lagi di kelas yang berada di samping kelas mereka.
__ADS_1
Allena berjalan dengan mimik wajah yang datar, tidak ada senyuman sama sekali. Mulai sekarang, Allena sudah kembali dengan sikapnya yang dulu. Di mana ia adalah gadis badgirl dan nakal. Selalu membuat onar di manapun ia berada.
Saat di pintu, langkahnya di behentikan oleh kedatangan seseorang dengan tiba-tiba. Allena menatap heran pada pemuda yang di hadapannya itu.
"Ada apa?" Tanya Allena.
"Kamu di keluarin dari sekolah?"
"Ya, di keluarin." Kata Allena dengan mimik wajah pura-pura sedih padahal ia hanya mengerjai Dion.
"Kenapa? Kamu 'kan nggak bersalah!"
"Mau gimana lagi, aku di keluarin. Yaudah, kamu minggir! Aku mau lewat, awas!" Seru Allena.
"Udah, tenang aja. Yang penting kamu minggir dulu biar aku lewat!"
Dion menatap Allena lemas, ia yakin kalau Allena tidak bersalah. Karena apa? Sebenarnya Dion melihat kejadian itu, ia bahkan melihat Ayahnya di selamatkan oleh Allena. Dion juga semakin penasaran dengan Allena karena Allena memiliki bahkan lancar mengendarai mobil mewah.
Allena berlalu lewat tanpa menatap Dion. Dion yang melihat Allena seperti itu merasa sesak di dadanya karena sama sekali tidak berbicara lagi padanya.
Allena tiba-tiba menghentikannya langkahnya dan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Bye Dion."
Allena melambaikan tangannya dan mengucapkan salam perpisahan pada Dion. Padahal Allena akan masuk lagi esok lusa.
Dion menatap Allena dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ia menatap Allena sendu dan seperti berharap agar gadisnya itu tidak pergi.
Allena membalikkan tubuhnya lagi seperti semula lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena mengucapkan salam perpisahan pada Dion.
Sekarang jarak mereka sudah 10 meter, Dion berlari ke arah Allena dan memeluknya dari belakang. Allena menegang karena pelukan Dion secara tiba-tiba. Jantung Allena berdetak kencang saat tubuhnya dan tubuh Dion menempel walau masih berpenghalang kain baju seragam sekolah.
"Jangan lupakan aku." Ujar Dion lirih.
Allena membulatkan matanya, "Ehh, emangnya gue mau pergi ke mana. Astaga, pasti ini kerjaannya si Jenry deh. Huft, nih orang juga lebay amat . Padahal lusa gue mau sekolah lagi di sini. Ckck," Batin Allena menahan kesal sekaligus tawanya.
"Hey, ngapain kalian berdua!"
*
*
*
__ADS_1
~To Be Continue~