Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 30 - PANTAI


__ADS_3

"Kamu kenapa?" Tanya Dion pada Allena yang sedang meredam emosinya.


"Tidak apa-apa." Jawab Allena singkat dengan raut wajah datarnya.


Dion heran dengan perubahan Allena setelah menelepon. Ia jadi penasaran apa yang di katakan si penelpon sehingga membuat mood Allena hancur.


"Ada apa dengan Alle?"


"Yon, kita pulang yuk. Aku udah hubungi Jenry biar dia yang bawa tas kita pulang." Ujar Allena.


Dion mengangguk, mereka berdua meninggalkan pantai dan menuju ke parkiran motor Dion berada. Pantai itu tidak terlalu ramai karena bukan hari libur. Oleh karena itu, tidak banyak jualan yang berbuka.


"Kita nggak beli jajanan lagi?" Tanya Dion.


"Hemm, emangnya kamu pengen apa?"


"Aku pengen kepiting goreng itu." Tunjuk Dion.


Allena tersenyum tipis lalu mengangguk, "Yaudah, kita beli buat kita berdua." Ujar Allena.


Mereka berdua pun melangkah ke ibu-ibu penjualan kepiting goreng itu. Ada sate kerang, udang tusuk, bakso tusuk dan banyak makanan laut lainnya. Karena ibu-ibu itu berjualan di dekat parkiran, Dion dan Allena lebih mudah untuk membelinya.


"Yon, aku nggak usah kepiting deh. Sate kerang aja." Kata Allena sambil menunjuk sate kerang itu.


"Oke. Bu! Sate kerangnya dua!"


Ibu penjual itu langsung memberikan makanan yang di minta oleh Dion. Dion memberikan uang tunai pada ibu penjual makanan laut itu.


Setelah itu, mereka menghampiri motor milik Dion yang sudah basah karena datangnya gerimis. Untung saja Dion membawa jaket, ia berinisiatif untuk memakaikan jaketnya pada tubuh Allena yang langsing tapi berisi itu.


"Eh! Jadi kamu pakai apa?" Tanya Allena tidak enak karena jaket itu adalah milik Dion. Seharusnya Dion memakai jaket itu bukan dirinya.


"Nggak apa-pa, pakai aja!" Seru Dion.


Allena memutar bola matanya sembari membuang nafasnya kesal. Dasar keras kepala! Umpat Allena.


"Nggak usah ngumpat!"


Allena tersentak dan menatap mata Dion. Ia baru menyadari kalau Dion sangat sangat tampan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan memegang pipinya yang terasa panas.


"Ternyata badgirl bisa blushing juga, hehe." Ucap Dion dengan kekehannya.

__ADS_1


"Apaan sih!" Kata Allena sambil memukul lengan Dion.


Gerimis sudah berganti dengan hujan, Allena dan Dion berteduh di suatu gubuk yang tidak jauh dari parkiran motor milik Dion. Dion mengusap-usap kedua bahunya. Karena hari juga makin gelap, tentu saja cuacanya semakin dingin.


Allena yang melihat Dion mengusap kedua bahunya mendekat ke arah Dion dan memeluknya. Allena membenamkan kepalanya di dada Dion. Ia terkekeh mendengar detakan jantung Dion yang kencang seperti miliknya.


"Eh!"


Dion sedikit terkejut saat Allena tiba-tiba memeluknya. Ia menjadi lebih hangat saat kekasihnya itu memeluknya. Usapan demi usapan Dion berikan di rambut Allena yang berbau vanilla. Dion sangat tenang saat menghirup bau rambut kekasihnya tersebut.


"Hangat, 'kan?"


Dion menganggukkan kepalanya dan kembali mengusap rambut Allena dengan tangan kanannya. Tangan kirinya ia pergunakan untuk membalas pelukan dari Allena.


"Allena, kamu percaya nggak pas aku bilang aku cinta sama kamu?" Tanya Dion.


"Ish... kamu gombal ya?!"


"Enggak, aku beneran cinta sama kamu." Ucap Dion serius.


"Tapi, kok aku ragu ya. Soalnya kamu pernah ngungkapin cinta sama Meysa." Kata Allena yang masih memeluk Dion.


"Itu kan dulu, Allena... "


"Enggaklah. Si Jenry ama Gio aja homo." Ujar Dion.


Allena terkejut mendengar perkataan dari mulut Dion, "Eh, Jenry homo? Darimana kamu tahu?"


"Kamu percaya? Itu kan cuma gosip aja karena mereka nggak pernah dekat sama perempuan. Ya, akhir-akhir ini si Jenry di gosipin lagi karena temanmu si Citra itu kecentilan banget sama Jenry."


"Heh, siapa bilang Citra kecentilan? Sini biar aku gantung dia! Dia memang suka sama Jenry, tapi nggak kecentilan kok. Citra malah takut kalau berdekatan sama Jenry."


"Itukan cuma gosip sayang..."


Di balik dada Dion, Allena sudah malu dan pipinya panas karena perkataan Dion barusan. Tanpa babibu, Allena langsung memberikan cubitan di perut Dion.


"Awhh... " Rintih Dion.


"Rasain! Mulut itu di kondisikan! Jangan terlau mesum!" Omel Allena


Dion hanya terkekeh mendapat omelan dari Allena. Dion sangat suka gadis pemarah seperti Allena.

__ADS_1


"Yon, udah jam berapa?" Tanya Allena.


Dion pun melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 3 sore. Ia melihat ke atas awan yang sudah mulai terang lagi. Hujan pun sudah tidak turun lagi.


"Jam 3 sore, kita pulang sekarang?" Tanya A


Dion.


Allena menganggukkan kepalanya, "Iya, takut kemaleman." Ujar Allena. Padahal, ia ingin mempersiapkan rencana untuk penyelamatan Dea nanti malam.


"Yaudah, yuk. "


Allena melepaskan pelukannya dari Dion dan mengikuti langkah Dion menuju ke motornya. Orang-orang juga mulai berpulangan dan meninggalkan pantai.


***


Sesampainya di apartemen, Allena melihat Citra yang sedang mengutak-atik komputer. Citra yang menyadari kedatangan Allena pun langsung menghampiri Allena.


"Le, gue udah buat rencana penyelamatan Dea malam ini." Ujar Citra.


"Ya udah, yuk ke kamar. Terus ceritain kenapa Dea bisa terculik!" Seru Allena.


Citra menceritakan kejadian demi kejadian Dea di culik. Citra juga menceritakan rencananya saat penyelamatan Dea nanti malam.


"Jadi, kita akan pergi ke sana pukul 12 malam?" Ulang Allena.


Citra mengangguk, "Iya."


Allena melihat jam yang berada di dinding apartemennya. Ia juga teringat akan hal buku yang menjadi kunci seluruh kejahatan yang di perbuat oleh Farhan.


"Aku juga ingin tahu, sebenarnya apa isi buku itu."


"Buku?" Ulang Citra.


"Iya, buku yang menjadi kunci kejahatannya si Farhan."


*


*


*

__ADS_1


~To Be Continue~


__ADS_2