Savage Girlfriend

Savage Girlfriend
BAB 36(S2) - DISIRAM


__ADS_3

HAPPY READING... 💙💙💙


_________


Wanita tadi kembali ke toilet wanita membawa seember air bekas kain pel. Ia berjaga-jaga dan melihat keadaan sekitarnya apakah ada seseorang yang ada selain dirinya dan Allena di toilet itu. Setelah keadaan hening. Ia mulai beraksi.


“ All right, there's no one else here. This is the time!(Baiklah, tidak ada orang lain lagi di sini. Ini waktunya!)” Ujar wanita itu dengan suara pelan.


Wanita itu melangkah ke arah pintu toilet yang Allena pakai dengan langkah tanpa bersuara. Ia mengunci pintu tersebut dan menjauh lagi. Ia berencana untuk menyiram Allena dari atas dengan tangga di pojok kamar mandi.


Sedangkan Allena, ia merasa akan ada kejadian buruk. Tapi Allena tidak bisa memastikannya. Ia berharap semoga tidak ada yang akan mencelakainya.


“Kok perasaanku jadi nggak enak ya?” Tanyanya dalam hati.


Allena tetap positif thinking dan terus mengabaikan perasaan tidak tenangnya itu. Hawa dingin menusuk pori-pori kulitnya. Entah karena sudah malam atau firasatnya semakin buruk.


Allena menggesek-gesekkan telapak tangannya agar terasa hangat. Ia lupa kalau ia tidak membawa ponselnya sama sekali.


Wanita yang di luar tadi mulai memindahkan tangga yang di pojok ke dekat pintu kamar mandi yang Allena pakai. Lalu ia mengambil ember yang berisi air bekas cucian kain pel. Ia menaiki tangga tersebut dan langsung menumpahkan air comberan itu dari atas sehingga orang yang akan terkejut.

__ADS_1


Wanita itu langsung bergegas pergi dari sana meninggalkan toilet sebelum orang-orang datang karena teriakan Allena.


Allena merasa kalau ada yang mendekat ke toilet yang ia gunakan saat ini. Tiba-tiba....


Byur.....


“Aaaaaahhkk...”


Teriakan Allena begitu keras sampai terdengar ke luar. Ia terkejut dan syok dengan kejadian ini. Pantas saja firasatnya tidak enak, ternyata ia di siram oleh seseorang yang tidak diketahuinya sama sekali.


Ia buru-buru membersihkan *********** dan berusaha keluar tapi sayangnya pintu toilet itu terkunci dan tidak bisa di buka.


Allena berteriak minta tolong sambil menggebrak pintu kamar mandi yang di pakainya itu.


“Siapa saja! Tolong aku...!”


Allena terus berteriak, ia merasa kalau badannya mulai dingin. Sangat dingin! Ia berdecak karena lupa membawa ponselnya. Seharusnya ia membawa ponselnya agar ia bisa menghubungi Dion atau Citra kalau terjadi keadaan darurat.


Allena mengusap-usap bahunya yang terkena siraman itu. Untung saja ia memakai pakaian berwarna hitam, pakaian dalamnya tidak akan tembus pandang jika memakai pakaian yang berwarna hitam.

__ADS_1


Allena bersandar di tembok toilet yang tidak terlalu luas itu. Perlahan-lahan ia menurunkan tubuhnya dan duduk meringkuk di dekat pintu. Bibirnya membiru karena sudah sepuluh menit ia disana setelah bab.


***


“Lama banget sih Allena.”


Dion heran kenapa Allena sangat lama di kamar mandi. Tidak sengaja telinganya mendengar suara teriakan dari belakang dapur para koki yang memasak di restoran itu. Dion tidak tahu kalau toilet wanita berada di belakang dapur para koki. Ia merasa tidak asing dengan suara teriakan itu.


Tidak lama kemudian, seorang wanita yang sebaya datang menghampirinya sambil tersenyum sumringah dan menyapanya.


“Dion! Long don't meet! How are you?”


Dion pun mengalihkan pandangannya pada wanita yang berada di hadapannya. Dion mengerutkan dahinya, sosok wanita yang begitu familiar di matanya.


“Tamara?”


***


BERSAMBUNG ~~~

__ADS_1


__ADS_2