
HAPPY READING AND ENJOY... 💙💙💙
SELAMAT MEMBACA... 😘😘😘
_________
Dion menatap Titan dengan tatapan intimidasinya. Sedangkan yang di tatap hanya cuek bebek dan acuh. Kini Titan sedang bercengkrama dengan Allena.
"Kak! Pacar kakak posesif banget ya," Bisik Titan.
"Posesif gimana?" Tanya Allena yang pura-pura tidak mengerti. Allena ingin menguji Dion, apakah Dion memang posesif atau tidak.
"Ya... liat aku deket sama kakak aja udah gitu tatapannya," Jawab Titan.
Allena terkekeh lalu mengusap usap pucuk kepala Titan. Dion yang melihat itupun langsung memeluk Allena dan pura-pura memejamkan matanya.
Allena sudah menebak Dion akan melakukan sesuatu pada dirinya. Ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Ginilah kalo punya pacar kaya bayi besar," Ujar Allena.
Dion membuka matanya dan menatap Allena dengan intens membuat yang di tatap buru buru mengalihkan pandangannya karena gugup. Dion lalu mengalihkan tatapannya pada Titan dengan tajam.
"Kak, kayaknya aku ganggu deh. Kalo gitu aku pulang ya, kak. Jangan lupa jaga kesehatan ya kak," Ucap Titan lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Situ siapa?" Sindir Dion.
"Hus!" Allena mendelik pada Dion.
__ADS_1
"Iya. Kamu pulang sama siapa?" Tanya Allena.
"Sendiri, kak."
"Loh. Tamara memangnya udah kemana?" Tanya Allena lagi.
"Dia bilang aku duluan aja. Soalnya ada yang mau dia omongin sama kakak nanti," Jawab Titan.
Allena menganggukkan kepalanya, "Oh."
"Ya sudah. Sana kamu pulang!" Usir Dion.
"Iya iya...tenang aja, aku nggak bakalan rebut pacar kakak kok."
Allena kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dion yang seperti tidak mau kehilangan mainan mobil - mobilannya.
***
Kini Kakek Agus dan Nenek Susi sudah sampai di Indonesia dan langsung mengunjungi cucu mereka yang berada di rumah sakit.
"Udah. Tadi kamu ketiduran, makanya nggak liat kakek sama nenek makan."
Kakek Agus menganggukkan kepalanya tanda membenarkan perkataan nenek Susi, "Iya. Kami tadi di kasih makan sama Arin."
Allena nampak menghembuskan nafasnya lega. Sedangkan Dion dari tadi diam diam tanpa membuka suaranya.
"Loh, kamu kenapa diam aja Dion?" Tanya Nenek Susi.
__ADS_1
"Maaf nek, nggak bisa jaga Allena," Ujar Dion yang masih saja menundukkan kepalanya.
Kakek Agus memegang bahu Dion, "Liat kakek!" Perintah kakek Agus.
Dion pun mendongakkan kepalanya dan melihat tatapan Kakek Agus yang serius.
"Siapa bilang kamu nggak bisa jaga Allena? Kamu udah jaga baik -baik kok cucu kakek yang manja ini. Kakek malah berterima kasih sama kamu karena udah jaga perasaan kamu dari orang lain selama tujuh tahun ini. Kamu juga udah nyelamatin cucu kakek dari maut kemarin."
Dion dan Allena terharu mendengar perkataan Kakek Agus. Sedangkan Nenek Susi hanya tersenyum. Ia juga sebenarnya sedikit merasa bersalah kepada cucunya Allena. Karena tidak bisa menjaganya.
Tok... tok.. tok....
Suara ketukan pintu membuat mereka mengalihkan perhatiannya masing-masing ke asal suara itu.
Seorang pasangan suami istri yang nampak tidak asing menghampiri ranjang Allena. Dion hanya menatap biasa pasangan suami istri itu.
"Allena... maaf kami baru datang jenguk kamu sekarang," Ucap Mama Meira yang tidak lain adalah ibu dari Dion.
"Nggak pa pa tan. Silahkan duduk," Balas Allena.
Sedangkan Ayah Dion yang tidak lain adalah Papa Alwi menjabat tangan Kakek Agus dan juga Nenek Susi. Lalu di ikuti juga oleh Mama Meira.
"Kamu ternyata udah sukses ya Al. Makin sombong aja kamu!"
***
BERSAMBUNG....
__ADS_1