
H A P P Y R E A D I N G... đź’™ đź’™ đź’™
___________
Para preman dan pemuda itu sontak melihat ke arah Allena dan tersenyum smirk, sedangkan pemuda itu bergetar ketakutan.
“Hai cantik! Apakah kau mau menjadi wanita penghibur kami?” Celetuk salah satu dari preman itu.
“Wanita penghibur ndasmu!” Cibir Allena.
Allena menatap tajam pada para preman itu. Suhu yang sudah malam membuat mereka merinding di tambah tatapan Allena.
“Lepaskan dia!” Perintah Allena.
“Lepaskan? Hahah... kau harus kami nikmati dulu. Kalau tidak bocah bau kencur ini tidak akan kami lepaskan,” Balas Preman itu.
“Heh... lebih baik kita adu jotos aja!” Ujar Allena sambil menyingkap lengan bajunya.
“Kalau aku menang, maka laki-laki itu harus kalian lepaskan! ” Seru Allena dengan suaranya yang membuat siapapun meneguk ludahnya.
“Oke! Tapi kalau kau kalah, maka kau akan menjadi ******* kami!”
Tanpa aba-aba, tiga preman itu langsung menyerang Allena. Allena tidak tinggal diam, belum sampai 5 menit ia sudah memelintir tangan kedua preman itu. Tinggal satu lagi yang tidak lain adalah bossnya.
Sedangkan pemuda itu, ia hanya bisa berjongkok sambil memperhatikan setiap perkelahian Allena dan boss preman itu.
Allena akhirnya berhasil mengalahkan para preman itu sampai babak belur. Ya, Allena tadinya memang menggunakan pisau kesayangannya saat berkelahi. Preman itu sendiri juga memakai pisau untuk mengalahkan Allena.
Para preman itu akhirnya melarikan diri dengan tertatih-tatih.
__ADS_1
Allena melangkah ke arah pemuda itu. Pemuda itu langsung memeluknya. Allena tentu membulatkan matanya.
Pemuda itu pun langsung melepaskan pelukannya dan meminta maaf serta ucapan terimakasih.
“Maaf kak, aku refleks. Sekali lagi terimakasih udah tolongin aku ya kak.”
“Oke. Oh iya, nama kamu siapa?” Tanya Allena pada pemuda itu.
“Titan kak,” Jawab Titan yang tidak lain adalah pemuda yang di selamatkan oleh Allena.
“Kayaknya kamu keturunan bule deh, kamu beneran bule ya?” Tanya Allena.
“Iya kak, aku blasteran rusia sebenernya. Kakak lagi di Amerika ngambil kuliah jurusan fashion dan model. Sekarang aku cuma sendiri nunggu kakak pulang dari Amerika.”
Allena menganggukkan kepalanya lagi dan tersenyum tipis. Lalu ia mengacak acak kepala pemuda itu.
Titan mengangguk dan tersenyum tipis. Ia menatap kagum pada Allena karena bisa mengalahkan preman itu.
“Usia kamu berapa?”
“Bulan depan 20 tahun kak.”
“Tapi kamu nampak dewasa banget, kaya udah sebaya kakak aja,” Kekeh Allena.
Titan ikut terkekeh juga, memang kalau di perhatikan. Allena dan Titan nampak sebaya, bahkan serasi.
“Kalau gitu kakak duluan ya, rumah kamu di mana? Mau kakak anter?” Tawar Allena.
“Deket kok kak, Terima kasih tawarannya.”
__ADS_1
“Ya udah, kakak duluan ya.”
“Tunggu kak!’’
Allena menghentikan langkahnya dan menatap Titan yang di belakangnya.
“Hem?”
“Kakak mau nggak ajarin Titan beladiri?”
Allena mengangguk, “Okeh kalau waktu kakak ada kakak bakalan ajarin kamu kok. Yaudah sini nomor kamun biar kakak mudah hubungin kamu.”
“Beneran kak?” Titan mengerjapkan matanya dengan berbinar.
Allena menganggukkan kepalanya. Setelah menerima nomor ponsel Titan Allena langsung pamit pada Titan.
“Ya sudah, kakak pulang dulu ya.”
Allena berjalan ke arah mobilnya dan masuk lalu menghidupkan mesin mobilnya.
“Sekali lagi Terima kasih ya kak!” Teriak Titan.
Allena menjawab teriakan Titan dengan membunyikan klaksonnya. Allena pun menancapkan mobilnya ke arah apartemen Citra dengan kecepatan yang sedang.
Mobil Allena membelah jalan raya yang di kelilingi gedung gedung pencakar langit yang berkelap kelip.
***
B E R S A M B U N G ~
__ADS_1