
Allena terus menyalahkan dirinya karena tidak berhasil menyelamatkan Dion. Ia bergegas untuk menyusul mobil Jenry yang membawa Dion ke rumah sakit.
Saat di persimpangan, mobil Allena tiba-tiba di hantam oleh truk dan mobil mewah Allena akhirnya terpental ke jurang hingga pembatas pinggir jalan juga rusak dan penyok walaupun tidak sepenuhnya putus.
Brukkk....
Citra? Ia tadi hampir di bunuh oleh seseorang tapi ada sosok pria misterius yang menolongnya hingga ia ikut dengan Angga.
"Apakah setelah ini gue akan pergi dari bumi selamanya?" Batin Allena saat mobilnya tergulin-guling ke bawah jurang.
"Good bye, my Dion." Lirih Allena lalu menutup matanya saat dadanya menghantam setir mobil.
***
Agus dan Susi baru saja datang dari Amerika karena mendengar cucunya yang kecelakaan kemarin malam. Saat ini, mereka sedang di depan ruang operasi. Allena dan Dion masih di operasi di dalam. Agus, Susi, Citra, Angga, Gio, dan kedua orang tua Dion sedang duduk di kursi tunggu. Sedangkan Jenry dan Glenn sedang berdiri mondar-mandir layaknya setrikaan.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang operasi di ikuti oleh dokter yang lainnya. Agus dan yang lainnya segera berdiri dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan mereka dok?" Tanya Agus.
"Ada kabar baik ada juga kabar buruknya," Jawab Dokter itu.
***
Allena perlahan mengumpulkan penglihatannya dan berusaha untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Sayup-sayup, ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Kek! Tangan Alle bergerak kek!"
"Benarkah? Cepat panggilkan dokter!"
Allena membuka matanya dan melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih. Ia sudah mengira kalau dirinya sudah mati, nyatanya ia masih hidup.
__ADS_1
"Allena... lihat nenek sayang!" Itu adalah suara Susi. Allena mengalihkan pandangannya ke arah suara.
"Nenek..." Lirih Allena dengan suara seraknya.
"Iya, ini nenek sayang..." Sahut Susi.
"Kau masih ingat semuanya, 'kan?" Tanya Susi.
Allena menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya untuk beberapa detik. Ia masih mengingat kejadian di mana mobilnya terjatuh ke jurang karena di tabrak sebuah truk besar.
Dokter pun datang memeriksa keadaan Allena. Dokter itu nampaknya bernafas lega dan memberitahukan kondisi Allena.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Anggota tubuhnya yang lain juga sudah lebih baik dan mungkin minggu depan ia sudah bisa pulang." Ujar Dokter itu.
Agus dan Susi mengucapkan Terima kasih pada dokter yang usianya kira-kira 37 tahun itu. Lalu dokter itu meninggalkan kamar VVIP itu.
"Masih ada yang sakit lagi?" Tanya Agus.
Allena menggeleng, "Tidak, kek." Jawab Allena.
"Syukurlah. Kamu tahu Allena, kakek dan nenek selalu menjagamu di sini selama satu bulan ini." Ujar Susi.
"Satu bulan?" Beo Allena.
Susi mengangguk, "Iya, kamu koma selama satu bulan. Bahkan setiap pulang sekolah, teman-temanmu berdatangan ke sini. " Ujar Susi lagi.
Malamnya, Citra, Dea, Jenry, Angga, Glenn, dan Gio datang untuk menjenguk Allena ke rumah sakit. Mereka datang karena di beritahukan oleh Agus. Mereka juga membawa buah tangan kepada Allena.
"Gimana, masih ada yang sakit nggak?" Tanya Citra.
Allena menggeleng pelan, "Enggak, cuma sedikit pegel aja di leher." Jawab Allena.
__ADS_1
Mereka semua menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun, Allena merasa ada yang kurang. Ya! Ia teringat dengan Dion.
"Nih, kami bawa buah Apel, anggur, melon sama rambutan. Mumpung musim buah rambutan, yuk di makan." Ujar Dea sambil menyodorkan sebuah rambutan.
Allena mengambil buah rambutan yang di sodorkan Dea. Namun pikirannya masih berkelana ke arah lain.
"Dion di mana?" Tanya Allena.
Mereka semua menegang termasuk kakek dan neneknya. Bahkan Glenn yang nggak kaku jadi ikut kaku. Allena mengernyitkan keningnya. Salah bilang ya, pikir Allena.
"Kalian kenapa? Kenapa nggak jawab pertanyaan gue?" Tanya Allena.
"Ehmm... Dion.. itu.." Kata Citra terputus-putus.
"Dion kenapa?" Tanya Allena mendesak.
"Dion meninggal." Sahut Jenry singkat.
Allena refleks menjatuhkan rambutan yang ada di tangan kanannya. Ia tidak salah dengarkan? Benak Allena bertanya-tanya.
"Dion.. me-meninggal?" Ulangi Allena sekali lagi.
Mereka semua menganggukkan kepalanya. Allena tiba-tiba menurunkan air dari matanya, padahal Allena belum mengizinkan air matanya untuk keluar. Hatinya sakit saat orang yang ia cintai meninggalkannya.
Allena menangis histeris, Citra dan Dea menenangkan Allena agar Allena segera tenang. Namun bukannya tenang, tangis Allena semakin menjadi-jadi.
***
Setelah dua bulan Allena keluar dari rumah sakit, sikapnya bertambah dingin. Bahkan, ia tidak pernah lagi tersenyum.
Setiap hari ia ingin ke makam Dion, namun teman-temannya selalu mengatakan kalau Dion di kuburkan di Amerika.
__ADS_1
***
~To Be Continue~