
HAPPY READING... 💙💙💙
SELAMAT MEMBACA... ✨✨✨
_______
Kini, Dion tidak menyangka kalau orang tua Allena adalah orang-orang yang menyelamatkan kedua orang tuanya dulu. Ayahnya, Alwi Lesson pernah menunjukkan foto sepasang suami istri tersebut padanya. Ayahnya bahkan mengatakan kalau ia dan sepasang pasutri itu adalah sahabatnya. Ibu Dion juga menceritakan, kalau mereka ingin menyelamatkan Alex dan Mira. Tapi sayang sekali, kedua sepasang pasutri itu telah pergi meninggalkan dunia ini lebih awal. Kedua orang tuanya tidak pernah menceritakan kejadian 18 tahun lalu dengan detail.
Pukul 7 malam, Dion terbangun dari tidurnya. Ia tidak sengaja ketiduran di apartemen Allena karena menunggu kekasihnya itu.
Dion mendudukkan badannya di sofa dan melihat apakah Allena sudah pulang. Namun, ia sama sekali tidak mihat siapapun di dalam apartemen itu. Dion memasuki dapur dan balkon, tapi tidak ada sama sekali jejak Allena di sana.
"Allena... kami di mana sih?" Tanya Dion frustasi.
Dion membuang nafasnya dan menenangkan pikirannya sekarang. Ia bertambah cemas kala ia melihat pesan yang ia kirim pada Allena sama sekali belum bercentang biru.
Dion tidak mempunyai pilihan lain selain menghubungi Jenry dan Angga. Tidak mungkin ia menghubungi Citra. Kalau ia menghubungi Citra, Citra akan memakinya habis - habisan.
Setelah mengatakan semuanya pada Jenry dan Angga, Dion memutuskan untuk pergi dari apartemen Allena.
•••
"Gue akan retas GPS ponsel Allena. Lo dan Angga cari ke seluruh penjuru kota ini!" Titah Jenry.
"Nggak salah ngomong lo? Asal lo tahu aja kota ini luas."
"Gue nggak mau tahu! Nanti gue di omelin sama Dea lagi. Udah kalian keliling aja dan cari Allena," Ujar Jenry lalu mematikan panggilannya sepihak.
"Sialan lo!" Umpat Dion dan melakukan mobilnya seperti yang katakan Jenry.
__ADS_1
Dion terus mencari ke beradaan Allena saat ini. Tiba-tiba ia mengerem mobilnya dan teringat perkataan Allena saat di danau.
"Meysa! Ya pasti ulah Meysa!"
Dion kini memantapkan kalau kekasihnya sedamg di culik oleh Meysa. Ia mengepalkan tangannya. Kini Dio tidak memberi ampunan lagi pada wanita ular dan licik itu. Ia akan melaporkan Meysa pada pihak berwajib. Tapi sebelum itu, ia perlu bermain-main dengan Meysa nantinya bersama geng semasa SMA-nya. Ia jadi mengingat kejadian-kejadian saat SMA bersama Allena.
Dion mengambil airpods miliknya dan menghubungi Jenry.
"Ck! Apa lagi?" Sungut Jenry.
"Lacak juga keberadaan Meysa!" Titah Dion sambil memajukan kembali mobilnya.
"Meysa?! Lo pikun? Meysa kan..."
Dion langsung memotong perkataan Jenry, "Dia udah bebas. Kemungkinan besar wanita ular itu lagi balas dendam sama Allena dan mungkin.. Allena bersama dia."
Jenry terdiam beberapa detik lalu tidak lama setelah itu ia mengiyakan perkataan Dion, "Okey. Sekarang gua ngerti."
•••
Allena kini merasakan apa yang orang miskin rasakan. Lapar, sakit, tidur tidak nyenyak, untuk berpikir saja ia merasa lelet. Ternyata tempat ini memberi tekanan psikis untuknya. Ia tidak merasa takut, hanya saja otaknya yang cepat bekerja kini seperti kosong dan tidak ada isinya.
"Hai, Allena! Lama tidak berjumpa."
Allena kenal betul dengan suara itu. Siapa lagi kalau bukan Meysa si wanita medusa yang memiliki gangguan kejiwaan.
"Bagaiman? Apakah menyenangkan rasanya di ikat di tiang ini? Sepertinya sangat menyenangkan ya? Aku juga pernah di ikat seperti itu saat kecil. Sangat menyenangkan bukan? Apalagi jika di sayat dengan kaca botol Anggur."
Allena sekarang tahu kalau kaca yng pecah itu sebenarnya adalah botol anggur yang sengaja di pecahkan untuk menyiksanya nanti. Lagipula, Meysa kan psikopat.
__ADS_1
"Baiklah akan ku beritahu sekarang rahasia yng tidak pernah kau duga-duga... bahkan kekasihmu juga terlibat dalam rahasia ini," Ujar Meysa seraya duduk dengan gaya arogan dan angkuhnya.
Meysa mengatakan semua rahasia yang tersembunyi selama 18 tahun ini. Allena yang mendengarkannya tentu sangat terkejut apalagi kalau kedua orangtuanya menyelamatkan kedua orang tua Dion saat orang tua Dion hampir di tembak oleh orang yang bernama Frans Aldenio... ayah Farhan.
Setelah Meysa menceritakan seluruh rahasia yang terkubur selama ini, Allena pingsan dan tidak sadarkan diri.
•••
Ponsel Dion tiba-tiba berdering. Entah siapa yang menghubunginya saat ini. Dion mengira Jenry atau Angga lah yang menghubunginya. Namun, perkiraan Dion salah. Tamara, teman kuliahnya dulu saat di Amerika yang menghubungi dirinya.
Mau tidak mau ia pun menggesee ikon berwarna hijau itu dan mengangkatnya.
"Apa?" Tanya Dion to the point.
"Hem... Allena... ke-kekasihmu di culik Meysa." Jawab Tamara terbata - bata.
Dion terkejut, tapi bukan karena Meysa yang menculiknya. Akan tetapi, bagaimana Tamara mengetahui kalau Allena di culik Meysa. Dion mencium-cium ada yang aneh di sini
"Kenapa mau mengetahuinya?"
"Nanti aku akan menjelaskannya, datng lah ke lokasi ini sekarang juga! Lokasi ini adalah tempat kontainer yang tidak di pakai lagi. Kalau kau tidak percaya, kau bisa memanggil temanmu untuk membuat rencana."
Tamara ingin membantu Allena kali ini. Walaupun harus di bantu oleh Dion. Ia ingin membalas budi karena Allen sudah memberi tahu jati diri Meysa yang sebenarnya.
"Kau bisa aku percayai,'kan?" Tanya Dion memastikan.
"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak! Setidaknya aku hanya ingin berterimalasih dan membalas budi pada Allena! Sudahlah, jngan membuang banyak waktu lagi! Cepatlah datang ke alamat yang aku kirimkan tadi, jangan lupa ajak temanmu untuk melancarkan rencananya. Kau tahu kalau Meysa itu wanita yang gila," Ujar Tamara panjang lebar.
Dion akhirnya percaya pada perkataan Tamara. Ia menghubungi Jenry dan Angga untuk menuntaskan masalah ini secepatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~